alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Unen-Unen Prataksi dari Gunung Raung, Diyakini Tangkal Kabrebehan

Tarian Sanghyang Gandrung kembali dipentaskan selama abulan pitung dina atau 42 hari di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar. Pementasan dimulai sejak 31 Juli 2021 lalu hingga pertengahan September 2021 mendatang. Ritual yang dilaksanakan setiap tiga tahun ini dilakukan untuk menangkal kabrebehan atau gering yang melanda.

 

Kelian Adat Desa Sidatapa, Putu Kasma kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Kamis (19/8)  mengatakan Tarian Sang Hyang Gandrung memang merupakan unen-unen prataksu dari Gunung Raung, Jawa Timur. Ida Panembahan Saking Gunung Raung ini memang disungsung di salah satu palinggih yang ada di Nista Mandala Pura Bale Agung Desa Sidatapa.

 

Pementasan tarian sakral Sanghyang Gandrung ini sejatinya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali di Sidatapa. Kelian Kasma tak menampik, pementasan kali ini juga bertujuan untuk menangkal gering agung Covid-19.

 

Putu Kasma mengatakan, Tarian Sanghyang Gandrung adalah dua tarian yang berbeda. Yakni tari Sanghyang yang ditarikan oleh dua orang gadis. Sedangkan Tarian Gandrung juga ditarikan oleh dua orang pria yang sudah menginjak remaja.

 

Keberadaan tarian sakral Sanghyang dan Gandrung ini dikatakan Putu Kasma berawal saat warga Desa Sidatapa mengalami gerubug hingga banyak yang meninggal dunia sekitar tahun 1200-an. Sampai akhirnya salah satu panglingsir desa saat itu mendapatkan pawisik untuk mengadakan unen-unen Gandung dan upacara pecaruan selama 42 hari.

 

“Dulu konon adanya gerubug bah bedeg, sampai leluhur kami pindah desa untuk menghindari gerubug. Sehingga ada pemuwus atau pawisik, agar disuruh membuatkan aci pecaruan Sang yang Gandrung selama 42 har lamanya,” ungkapnya.

 

Selain itu, warga juga wajib menggelar dan tabuh rah selama 9 hari berturut-turut. Tabuh rah selama sembilan hari itu dimulai sejak hari pertama pementasan tarian Sanghyang Gandrung.

Selama abulan pitung dina, krama Sidatapa juga diwajibkan untuk menghaturkan mepiuning di rumah masing-masing.

 

Prosesi pementasan tari Sanghyang Gandrung dilaksanakan di areal Jaba Pura Bale Agung. Waktunya dimulai dari pukul 19.00 Wita sampai 22.00 Wita malam. Krama pun mulai berdatangan untuk menyaksikan pementasan ini.

 

Umumnya, tarian Sanghyang Gandrung ini dilakukan awal sasih Karo atau bulan pertama sitem penanggalan Bali. Tarian sakral ini diyakini sebagai sarana pembersihan desa secara niskala. Setelah pementasan selama 42 hari, akan dilanjutkan dengan upacara melasti ke segara (laut) dan piodalan pura-pura yang ada di Desa Pakraman Sidetapa.

 

Selain berfungsi membersihkan secara niskala, tarian sakral ini juga bisa dipentaskan krama desa hanya untuk mengiringi upacara ngerasakin di kebun-kebun, dengan sejumlah sesaji sebelum pementasan. (bersambung)


Tarian Sanghyang Gandrung kembali dipentaskan selama abulan pitung dina atau 42 hari di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar. Pementasan dimulai sejak 31 Juli 2021 lalu hingga pertengahan September 2021 mendatang. Ritual yang dilaksanakan setiap tiga tahun ini dilakukan untuk menangkal kabrebehan atau gering yang melanda.

 

Kelian Adat Desa Sidatapa, Putu Kasma kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Kamis (19/8)  mengatakan Tarian Sang Hyang Gandrung memang merupakan unen-unen prataksu dari Gunung Raung, Jawa Timur. Ida Panembahan Saking Gunung Raung ini memang disungsung di salah satu palinggih yang ada di Nista Mandala Pura Bale Agung Desa Sidatapa.

 

Pementasan tarian sakral Sanghyang Gandrung ini sejatinya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali di Sidatapa. Kelian Kasma tak menampik, pementasan kali ini juga bertujuan untuk menangkal gering agung Covid-19.

 

Putu Kasma mengatakan, Tarian Sanghyang Gandrung adalah dua tarian yang berbeda. Yakni tari Sanghyang yang ditarikan oleh dua orang gadis. Sedangkan Tarian Gandrung juga ditarikan oleh dua orang pria yang sudah menginjak remaja.

 

Keberadaan tarian sakral Sanghyang dan Gandrung ini dikatakan Putu Kasma berawal saat warga Desa Sidatapa mengalami gerubug hingga banyak yang meninggal dunia sekitar tahun 1200-an. Sampai akhirnya salah satu panglingsir desa saat itu mendapatkan pawisik untuk mengadakan unen-unen Gandung dan upacara pecaruan selama 42 hari.

 

“Dulu konon adanya gerubug bah bedeg, sampai leluhur kami pindah desa untuk menghindari gerubug. Sehingga ada pemuwus atau pawisik, agar disuruh membuatkan aci pecaruan Sang yang Gandrung selama 42 har lamanya,” ungkapnya.

 

Selain itu, warga juga wajib menggelar dan tabuh rah selama 9 hari berturut-turut. Tabuh rah selama sembilan hari itu dimulai sejak hari pertama pementasan tarian Sanghyang Gandrung.

Selama abulan pitung dina, krama Sidatapa juga diwajibkan untuk menghaturkan mepiuning di rumah masing-masing.

 

Prosesi pementasan tari Sanghyang Gandrung dilaksanakan di areal Jaba Pura Bale Agung. Waktunya dimulai dari pukul 19.00 Wita sampai 22.00 Wita malam. Krama pun mulai berdatangan untuk menyaksikan pementasan ini.

 

Umumnya, tarian Sanghyang Gandrung ini dilakukan awal sasih Karo atau bulan pertama sitem penanggalan Bali. Tarian sakral ini diyakini sebagai sarana pembersihan desa secara niskala. Setelah pementasan selama 42 hari, akan dilanjutkan dengan upacara melasti ke segara (laut) dan piodalan pura-pura yang ada di Desa Pakraman Sidetapa.

 

Selain berfungsi membersihkan secara niskala, tarian sakral ini juga bisa dipentaskan krama desa hanya untuk mengiringi upacara ngerasakin di kebun-kebun, dengan sejumlah sesaji sebelum pementasan. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/