alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, January 26, 2022

Dewasa Pawiwahan, Hindari Rangda Tiga dan Nguncal Balung

Tahun 2021 segera berganti ke tahun 2022. Bagi umat Hindu yang ingin melaksanakan upacara pawiwahan pada tahun 2022 sepertinya tidak usah khawatir. Sebab, ada padewasan yang direkomendasikan oleh Penyusun Kalender Bali, Gede Marayana untuk ritual sakral tersebut sesuai dengan ala ayuning dewasa.

 

Dikatakan Marayana, setiap aktifitas keagamaan di Bali tidak pernah terlepas dari padewasan yang tertuang dalam wariga. Dimana, wariga adalah ilmu pengetahuan tentang sifat atau watak dari wewaran (hari baik dalam melakukan suatu aktifitas), tanggal atau panglong (hari setelah dan sebelum bulan Purnama), wuku (siklus tanggal), ingkel (hari pantangan), sasih (12 masa waktu di Bali) dan lain-lain yang bersumber dari ajaran Agama Hindu yaitu Jyotisa Wedangga.

 

Dikatakan Gede Marayana, penentuan dewasa Pawiwahan didasari oleh perhitungan berbagai unsur. Diantaranya wewaran, pawukon, tanggal, sasih, dan dauh. Atau biasa diistilahkan dengan Wapatangsada.

 

Dimana, wewaran harus baik, pawukon harus baik, tanggalnya juga baik, sasih harus baik, dan dauhnya juga baik. “Karena semua unsur-unsur itu membawa pengaruh, sehingga semuanya harus baik,” ujar Gede Marayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (21/11).

 

Wewaran yang baik dikatakan Gede Marayana, adalah menitikberatkan pada saptawara atau hari-hari dalam seminggu. Di antara saptawara yang dipilih di antaranya Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Namun, penting dihindari pawiwahan pada hari Minggu (buruk), Selasa (buruk sekali) dan Saniscara (Buruk Sekali).

 

“Hari-hari itu diyakini mengandung unsur kebaikan. Jika di skoring, Soma itu baik, Buda itu Baik Sekali, Wraspati dan Sukra itu sama-sama baik,” ungkapnya.

 

Sedangkan perhitungan pawukon yang wajib dihindari, jika ingin menggelar upacara Pawiwahan adalah Ingkel Wong, Was Panganten, Rangda Tiga, Nguncal Balung, dan paling dihindari adalah Wuku Wayang. “Itu wajib dihindari. Apalagi Wuku Wayang dianggap cemer (kotor) untuk pawiwahan,” imbuhnya.

 

Sedangkan Rangda Tiga merupakan wuku tertentu yang dianggap buruk untuk melangsungkan pernikahan. Wuku-wuku itu yakni Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail, dan Prangbakat. Ada keyakinan, jika menikah pada saat Rangda Tiga, perkawinan bisa berakhir dengan perceraian.

Baca Juga :  Ini Fungsi Sanggah Cucuk dalam Ngereh Pengleakan

 

“Rangda itu artinya janda atau duda. Rangda Tiga artinya tiga kali menjadi janda atau duda. Artinya pernikahan akan selalu gagal,” beber Marayana.

 

Kemudian Was Panganten merupakan hari-hari tertentu, seperti Minggu Kliwon dan Jumat Pon wuku Tolu, Minggu Wage dan Sabtu Kliwon wuku Dungulan, Minggu Umanis dan Sabtu Pahing wuku Menail, serta Minggu Pon dan Sabtu Wage wuku Dukut. Hari-hari ini juga dianggap kurang baik untuk melangsungkan pernikahan.

 

Sedangkan Nguncal Balung, yakni hari sepanjang 35 hari, sejak Buda Pon Sungsang atau sehari sebelum Sugihan Jawa atau seminggu sebelum Galungan, hingga Buda Kliwon Wuku Pahang yang juga kerap disebut sebagai Buda Kliwon Pegat Wakan. Marayana menegaskan, pada hari itu, umat Hindu biasanya dipantangkan untuk melaksanakan upacara-upacara besar, utamanya yang bersifat ngawangun seperti ngaben dan pernikahan.

 

Begitupun dengan Ingkel Wong artinya hari-hari naas bagi manusia. “Karenanya, saat itu tidak baik melaksanakan kegiatan atau upacara yang berkaitan dengan manusia termasuk pernikahan,” imbuhnya.

 

Selain itu, perhitungan sasih tidak boleh diabaikan dalam menentukan hari baik melaksanakan upacara perkawinan. Disebutkan Marayana, dari 12 sasih dalam setahun, umat Hindu di Bali meyakini pelaksanaan upacara panca yadnya hanya boleh dilaksanakan dari Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kaulu, Kasanga, dan Kadasa. Sedangkan untuk Sasih Jyestha dan Sadha dikatakan sasih sebel, sehingga dihindari untuk menggelar upacara panca yadnya, termasuk Pawiwahan.

 

Tetapi untuk melaksanakan Pawiwahan, sasih yang direkomendasikan adalah Sasih Katiga, Kapat, Kalima, Kapitu, dan Kadasa. “Sasih Katiga itu bulan Agustus-September, Kapat itu bulan September-Oktober, Sasih Kalima adalah Oktober-November. Lalu untuk Sasih Kapitu yakni Desember-Januari, dan Sasih Kadasa antara bulan Maret-April,” paparnya. (bersambung) 

Tahun 2021 segera berganti ke tahun 2022. Bagi umat Hindu yang ingin melaksanakan upacara pawiwahan pada tahun 2022 sepertinya tidak usah khawatir. Sebab, ada padewasan yang direkomendasikan oleh Penyusun Kalender Bali, Gede Marayana untuk ritual sakral tersebut sesuai dengan ala ayuning dewasa.

 

Dikatakan Marayana, setiap aktifitas keagamaan di Bali tidak pernah terlepas dari padewasan yang tertuang dalam wariga. Dimana, wariga adalah ilmu pengetahuan tentang sifat atau watak dari wewaran (hari baik dalam melakukan suatu aktifitas), tanggal atau panglong (hari setelah dan sebelum bulan Purnama), wuku (siklus tanggal), ingkel (hari pantangan), sasih (12 masa waktu di Bali) dan lain-lain yang bersumber dari ajaran Agama Hindu yaitu Jyotisa Wedangga.

 

Dikatakan Gede Marayana, penentuan dewasa Pawiwahan didasari oleh perhitungan berbagai unsur. Diantaranya wewaran, pawukon, tanggal, sasih, dan dauh. Atau biasa diistilahkan dengan Wapatangsada.

 

Dimana, wewaran harus baik, pawukon harus baik, tanggalnya juga baik, sasih harus baik, dan dauhnya juga baik. “Karena semua unsur-unsur itu membawa pengaruh, sehingga semuanya harus baik,” ujar Gede Marayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (21/11).

 

Wewaran yang baik dikatakan Gede Marayana, adalah menitikberatkan pada saptawara atau hari-hari dalam seminggu. Di antara saptawara yang dipilih di antaranya Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Namun, penting dihindari pawiwahan pada hari Minggu (buruk), Selasa (buruk sekali) dan Saniscara (Buruk Sekali).

 

“Hari-hari itu diyakini mengandung unsur kebaikan. Jika di skoring, Soma itu baik, Buda itu Baik Sekali, Wraspati dan Sukra itu sama-sama baik,” ungkapnya.

 

Sedangkan perhitungan pawukon yang wajib dihindari, jika ingin menggelar upacara Pawiwahan adalah Ingkel Wong, Was Panganten, Rangda Tiga, Nguncal Balung, dan paling dihindari adalah Wuku Wayang. “Itu wajib dihindari. Apalagi Wuku Wayang dianggap cemer (kotor) untuk pawiwahan,” imbuhnya.

 

Sedangkan Rangda Tiga merupakan wuku tertentu yang dianggap buruk untuk melangsungkan pernikahan. Wuku-wuku itu yakni Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail, dan Prangbakat. Ada keyakinan, jika menikah pada saat Rangda Tiga, perkawinan bisa berakhir dengan perceraian.

Baca Juga :  Dewasa Pawiwahan Tahun 2022; Hindari Rangda Tiga dan Was Panganten

 

“Rangda itu artinya janda atau duda. Rangda Tiga artinya tiga kali menjadi janda atau duda. Artinya pernikahan akan selalu gagal,” beber Marayana.

 

Kemudian Was Panganten merupakan hari-hari tertentu, seperti Minggu Kliwon dan Jumat Pon wuku Tolu, Minggu Wage dan Sabtu Kliwon wuku Dungulan, Minggu Umanis dan Sabtu Pahing wuku Menail, serta Minggu Pon dan Sabtu Wage wuku Dukut. Hari-hari ini juga dianggap kurang baik untuk melangsungkan pernikahan.

 

Sedangkan Nguncal Balung, yakni hari sepanjang 35 hari, sejak Buda Pon Sungsang atau sehari sebelum Sugihan Jawa atau seminggu sebelum Galungan, hingga Buda Kliwon Wuku Pahang yang juga kerap disebut sebagai Buda Kliwon Pegat Wakan. Marayana menegaskan, pada hari itu, umat Hindu biasanya dipantangkan untuk melaksanakan upacara-upacara besar, utamanya yang bersifat ngawangun seperti ngaben dan pernikahan.

 

Begitupun dengan Ingkel Wong artinya hari-hari naas bagi manusia. “Karenanya, saat itu tidak baik melaksanakan kegiatan atau upacara yang berkaitan dengan manusia termasuk pernikahan,” imbuhnya.

 

Selain itu, perhitungan sasih tidak boleh diabaikan dalam menentukan hari baik melaksanakan upacara perkawinan. Disebutkan Marayana, dari 12 sasih dalam setahun, umat Hindu di Bali meyakini pelaksanaan upacara panca yadnya hanya boleh dilaksanakan dari Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kaulu, Kasanga, dan Kadasa. Sedangkan untuk Sasih Jyestha dan Sadha dikatakan sasih sebel, sehingga dihindari untuk menggelar upacara panca yadnya, termasuk Pawiwahan.

 

Tetapi untuk melaksanakan Pawiwahan, sasih yang direkomendasikan adalah Sasih Katiga, Kapat, Kalima, Kapitu, dan Kadasa. “Sasih Katiga itu bulan Agustus-September, Kapat itu bulan September-Oktober, Sasih Kalima adalah Oktober-November. Lalu untuk Sasih Kapitu yakni Desember-Januari, dan Sasih Kadasa antara bulan Maret-April,” paparnya. (bersambung) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru