28.7 C
Denpasar
Friday, December 9, 2022

Daksina Linggih Simbol Keseimbangan, Bebedongan Lambang Pertiwi

“Secara garis besar, Daksina Linggih secara filosofi sebagai simbol keseimbangan. Baik dalam menjaga hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan)”. Jro Ketut Utara

BULELENG, BALI EXPRESS -Daksina Linggih menjadi sarana vital yang digunakan dalam berbagai aspek upacara di Bali. Sarana yang sarat makna ini diyakini sebagai hulu dari banten dan merupakan simbol dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara struktur, Daksina Linggih terdiri dari tiga bagian. Yaitu, nista angga, madya angga, dan utama angga. Simbol dalam nista angga Daksina Linggih yakni bebedongan atau wakul bulat panjang serta ada bulat pinggirannya, yang melambangkan pertiwi.

Serobong wakul yang menjadi lapisan pada bagian tengah dari bebedongan, merupakan lambang akasa yang tanpa tepi.

Selanjutnya simbol dalam madya angga Daksina Linggih terdiri dari tampak yang terbuat dari empat potong helai janur berbentuk kembang teratai persegi delapan. Tampak ini yang melambangkan kiblat mata angin mengarah pada delapan penjuru. Telur itik lambang bhuana alit.

Dalam Daksina Linggih juga ada beras. Beras di sana sebagai simbol dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan umat manusia di alam raya ini. Kemudian benang tukelan (benang Bali) melambangkan penghubung Jiwatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya pralina (kematian).

Baca Juga :  Selain Mawinten, Penari Rangda Harus Kuasai Kanuragan

Serati banten asal Kubutambahan, Buleleng, Jro Ketut Utara mengatakan, uang kepeng yang berjumlah 225 kepeng sebagai simbol Bhatara Brahma sebagai sumber kehidupan. “Angka 225 kalau dijumlahkan akan menjadi sembilan yang merupakan angka suci lambang Dewata Nawa Sanga yang berada di sembilan penjuru alam Bhuana agung,” sebutnya

Selanjutnya pisang dan kekojong, yaitu lambang manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari alam ini. Idealnya, manusia menghuni bumi dengan Tri Kaya Parisudha. Sarana Porosan sebagai lambang Tri Murti.

Kelapa dari kulit hingga seluruh isinya adalah lambang Bhuana Agung, di mana unsur-unsur buah kelapa itu melambangkan Sapta Patala dan Sapta Loka. Serabutnya melambangkan pengikat indria. Tentunya harus dilepaskan dari unsur indria karena merupakan lambang Bhuana Agung dan stana Hyang Widhi.

Buah kemiri (tingkih) dan pangi yang warnanya hitam adalah lambang petala dan simbol Dewa Wisnu, sebagai simbol air yang selalu turun ke bawah. Buah kelapa yang warnanya merah adalah lambang jana pada, yang dianalogikan dengan Dewa Brahma sebagai simbol api yang ke atas.

Baca Juga :  Teruna-Daha Tenganan Wajib Sukseskan Ritual Adat, Ini Tugasnya

Selanjutnya telur yang warnanya putih adalah lambang Swah Loka. Dianalogikan stana Dewa Iswara, simbol angin, akasa, alamnya para Dewa Maha Loka. “Pertemuan antara Dewa Wisnu dengan ibu pertiwi (air dengan bumi, tanah) maka lahirlah boma (tumbuh-tumbuhan). Di samping itu juga dilengkapi dengan butir-butir beras wija, merupakan lambang biji-bijian yang nantinya akan tumbuh dari dasar bumi membawa kemakmuran dunia,” terangnya.

Simbol pada utama angga Daksina Linggih, yaitu porosan. Porosan terdiri dari buah pinang, kapur dibungkus dengan sirih.

Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan, pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Tri Murti. Pinang sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Brahma, sirih lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu, dan kapur sebagai lambang Dewa Siwa.

Plawa atau daun-daunan dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. “Secara garis besar, Daksina Linggih secara filosofi sebagai simbol keseimbangan. Baik dalam menjaga hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan),” tutupnya.

 

 






Reporter: I Putu Mardika

“Secara garis besar, Daksina Linggih secara filosofi sebagai simbol keseimbangan. Baik dalam menjaga hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan)”. Jro Ketut Utara

BULELENG, BALI EXPRESS -Daksina Linggih menjadi sarana vital yang digunakan dalam berbagai aspek upacara di Bali. Sarana yang sarat makna ini diyakini sebagai hulu dari banten dan merupakan simbol dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara struktur, Daksina Linggih terdiri dari tiga bagian. Yaitu, nista angga, madya angga, dan utama angga. Simbol dalam nista angga Daksina Linggih yakni bebedongan atau wakul bulat panjang serta ada bulat pinggirannya, yang melambangkan pertiwi.

Serobong wakul yang menjadi lapisan pada bagian tengah dari bebedongan, merupakan lambang akasa yang tanpa tepi.

Selanjutnya simbol dalam madya angga Daksina Linggih terdiri dari tampak yang terbuat dari empat potong helai janur berbentuk kembang teratai persegi delapan. Tampak ini yang melambangkan kiblat mata angin mengarah pada delapan penjuru. Telur itik lambang bhuana alit.

Dalam Daksina Linggih juga ada beras. Beras di sana sebagai simbol dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan umat manusia di alam raya ini. Kemudian benang tukelan (benang Bali) melambangkan penghubung Jiwatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya pralina (kematian).

Baca Juga :  Belum Ada Rekomendasi Mendagri, TPP ASN Tabanan Belum akan Cair

Serati banten asal Kubutambahan, Buleleng, Jro Ketut Utara mengatakan, uang kepeng yang berjumlah 225 kepeng sebagai simbol Bhatara Brahma sebagai sumber kehidupan. “Angka 225 kalau dijumlahkan akan menjadi sembilan yang merupakan angka suci lambang Dewata Nawa Sanga yang berada di sembilan penjuru alam Bhuana agung,” sebutnya

Selanjutnya pisang dan kekojong, yaitu lambang manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari alam ini. Idealnya, manusia menghuni bumi dengan Tri Kaya Parisudha. Sarana Porosan sebagai lambang Tri Murti.

Kelapa dari kulit hingga seluruh isinya adalah lambang Bhuana Agung, di mana unsur-unsur buah kelapa itu melambangkan Sapta Patala dan Sapta Loka. Serabutnya melambangkan pengikat indria. Tentunya harus dilepaskan dari unsur indria karena merupakan lambang Bhuana Agung dan stana Hyang Widhi.

Buah kemiri (tingkih) dan pangi yang warnanya hitam adalah lambang petala dan simbol Dewa Wisnu, sebagai simbol air yang selalu turun ke bawah. Buah kelapa yang warnanya merah adalah lambang jana pada, yang dianalogikan dengan Dewa Brahma sebagai simbol api yang ke atas.

Baca Juga :  Simbol Syukur, Ngejot Banten Dapetan Ritual untuk Bayi Belum 105 Hari

Selanjutnya telur yang warnanya putih adalah lambang Swah Loka. Dianalogikan stana Dewa Iswara, simbol angin, akasa, alamnya para Dewa Maha Loka. “Pertemuan antara Dewa Wisnu dengan ibu pertiwi (air dengan bumi, tanah) maka lahirlah boma (tumbuh-tumbuhan). Di samping itu juga dilengkapi dengan butir-butir beras wija, merupakan lambang biji-bijian yang nantinya akan tumbuh dari dasar bumi membawa kemakmuran dunia,” terangnya.

Simbol pada utama angga Daksina Linggih, yaitu porosan. Porosan terdiri dari buah pinang, kapur dibungkus dengan sirih.

Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan, pinang, kapur dan sirih adalah lambang pemujaan kepada Ida Sang Hyang Tri Murti. Pinang sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Brahma, sirih lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu, dan kapur sebagai lambang Dewa Siwa.

Plawa atau daun-daunan dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci. “Secara garis besar, Daksina Linggih secara filosofi sebagai simbol keseimbangan. Baik dalam menjaga hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan),” tutupnya.

 

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/