alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Atribut Sadhaka saat Ngeloka Pala Sraya, Wajib Gunakan Rudraksa

Saat Sulinggih atau Pandita (Sadhaka) menjalankan tugasnya ngeloka pala sraya atau memimpin upacara, ada sejumlah sarana atau atribut yang digunakan. Atribut itu sangatlah penting, bahkan, jika ketinggalan, maka tugasnya dalam memimpin upacara yadnya dipastikan terganggu.

Cendikiawan Hindu, Ida Bagus Purwa Sidemen mengatakan salah satu ciri dari seorang Sadhaka dibandingkan dengan Walaka adalah Amari Wesa adalah pakaian berbeda. Dimana, seorang sulinggih menggunakan atribut bukanlah sebatas selera, apalagi karena memiliki asesoris karena berasal dari golongan yang kaya. Namun, asesoris tersebut juga sarat makna.

Bagi seoraang sadaka, sulinggih atau pandita, saat melaksanakan tugasnya dalam memimpin upacara atau ngeloka pala sraya, pada saat posisi menghadap ke barat, dengan posisi kaki tergantung ke bawah, kemudian mencuci kaki, tangan, dan berkumur.

Selanjutnya beliau menggunakan kain, yang biasanya dipakai dari geriya, yang dilepas adalah kampuh atau saputnya. Kemudian menggunakan kampuh berwarna putih. Kemudian untuk Sulinggih istri biasanya menggunakan santog.

Setelah menggunakan kampuh, kemudian dilengkapi dengan kwaca (baju). Kalau pandita tempo dulu memang banyak tidak menggunakan baju. Itu sifatnya mungkin karena kondisi. Namun, saat ini ada pula yang menggunakan baju atau tidak.

Terlebih menjalankan tugas dengan durasi yang relatif lama, biasanya menggunakan kwaca. Apalagi Beliau dengan fisik yang sudah cukup tua, agar terlindungi, sehingga pertimbangannya menggunakan kwaca.

Setelah membasuh kaki dengan puja mantra, kemudian memutar menghadap ke timur dan duduk di atas lungka-lungka atau patrana. “Ini bukan alas biasa atau Kasur. Ini sangat penting. Kalau alat ini ketinggalan, maka beliau tidak bisa melakukan pemujaan. Karena sepeti itulah kedudukan siwa saat melaukan pemujaan harus duduk di atas patrana,” jelasnya.

Kemudian Beliau menggunakan atribut lainnya atau Rudrakacatan Aksamala yang ada di kiri dan kanan. Bentuknya juga disilang. Rudraksa ini terdiri dari tiga untaian genitri. Ini sebutanya rudraksa.

Rudraksa ini terdiri dari kata rudra dan aksa. Rudra adalah Dewa Rudra atau siwa itu sendiri dan Aksa adalah mata. Jadi Mata Dewa Swa. Tidak boleh digantikan dengan yang lain. Itu makanya sangat penting.

“Apa bisa diganti dengan yang lain? Tidak bisa, itu yang membedakan antara boleh dan tidak. Entah itu pendeta kaya atau biasa saja, tetapi tetap memakai rudraksa,” imbuhnya.

Selanjutnya, atribut di leher ada kanta barana, seperti kalung biasa. Terpenting Asta Barana, sebagai bentuk gelang di kanan dan kiri. Yang membedakan, bagi pandita Budha, beliau menggunakan Gelang Kana. Sedangkan Siwa dan Waisnawa menggunakan gelang atau Asta Barana. Sulinggih juga menenggunakan kekasah menjadi alat penting ditaruh di paha.

Lalu apakah harus serang pendeta mengguakan cincin? Tidak ada keharusan dan mutlak untuk menggunakan itu. Namun, banyak pendeta menggunakan Karena diyakini ada nilai-nilai atau benda-benda yang bernilai unsur magis dari batu mulia.

“Meski di Sastra Silakrana tidak ditentukan, tetapi di Bhuwana Kosa disebutkan bagaimana  batu mulia adalah karakter dari Dewata Nawa Sanga. Terpenting adalah angusta atau simsim yang berbentuk gelang kecil dipergunakan di ibu jari. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Saat Sulinggih atau Pandita (Sadhaka) menjalankan tugasnya ngeloka pala sraya atau memimpin upacara, ada sejumlah sarana atau atribut yang digunakan. Atribut itu sangatlah penting, bahkan, jika ketinggalan, maka tugasnya dalam memimpin upacara yadnya dipastikan terganggu.

Cendikiawan Hindu, Ida Bagus Purwa Sidemen mengatakan salah satu ciri dari seorang Sadhaka dibandingkan dengan Walaka adalah Amari Wesa adalah pakaian berbeda. Dimana, seorang sulinggih menggunakan atribut bukanlah sebatas selera, apalagi karena memiliki asesoris karena berasal dari golongan yang kaya. Namun, asesoris tersebut juga sarat makna.

Bagi seoraang sadaka, sulinggih atau pandita, saat melaksanakan tugasnya dalam memimpin upacara atau ngeloka pala sraya, pada saat posisi menghadap ke barat, dengan posisi kaki tergantung ke bawah, kemudian mencuci kaki, tangan, dan berkumur.

Selanjutnya beliau menggunakan kain, yang biasanya dipakai dari geriya, yang dilepas adalah kampuh atau saputnya. Kemudian menggunakan kampuh berwarna putih. Kemudian untuk Sulinggih istri biasanya menggunakan santog.

Setelah menggunakan kampuh, kemudian dilengkapi dengan kwaca (baju). Kalau pandita tempo dulu memang banyak tidak menggunakan baju. Itu sifatnya mungkin karena kondisi. Namun, saat ini ada pula yang menggunakan baju atau tidak.

Terlebih menjalankan tugas dengan durasi yang relatif lama, biasanya menggunakan kwaca. Apalagi Beliau dengan fisik yang sudah cukup tua, agar terlindungi, sehingga pertimbangannya menggunakan kwaca.

Setelah membasuh kaki dengan puja mantra, kemudian memutar menghadap ke timur dan duduk di atas lungka-lungka atau patrana. “Ini bukan alas biasa atau Kasur. Ini sangat penting. Kalau alat ini ketinggalan, maka beliau tidak bisa melakukan pemujaan. Karena sepeti itulah kedudukan siwa saat melaukan pemujaan harus duduk di atas patrana,” jelasnya.

Kemudian Beliau menggunakan atribut lainnya atau Rudrakacatan Aksamala yang ada di kiri dan kanan. Bentuknya juga disilang. Rudraksa ini terdiri dari tiga untaian genitri. Ini sebutanya rudraksa.

Rudraksa ini terdiri dari kata rudra dan aksa. Rudra adalah Dewa Rudra atau siwa itu sendiri dan Aksa adalah mata. Jadi Mata Dewa Swa. Tidak boleh digantikan dengan yang lain. Itu makanya sangat penting.

“Apa bisa diganti dengan yang lain? Tidak bisa, itu yang membedakan antara boleh dan tidak. Entah itu pendeta kaya atau biasa saja, tetapi tetap memakai rudraksa,” imbuhnya.

Selanjutnya, atribut di leher ada kanta barana, seperti kalung biasa. Terpenting Asta Barana, sebagai bentuk gelang di kanan dan kiri. Yang membedakan, bagi pandita Budha, beliau menggunakan Gelang Kana. Sedangkan Siwa dan Waisnawa menggunakan gelang atau Asta Barana. Sulinggih juga menenggunakan kekasah menjadi alat penting ditaruh di paha.

Lalu apakah harus serang pendeta mengguakan cincin? Tidak ada keharusan dan mutlak untuk menggunakan itu. Namun, banyak pendeta menggunakan Karena diyakini ada nilai-nilai atau benda-benda yang bernilai unsur magis dari batu mulia.

“Meski di Sastra Silakrana tidak ditentukan, tetapi di Bhuwana Kosa disebutkan bagaimana  batu mulia adalah karakter dari Dewata Nawa Sanga. Terpenting adalah angusta atau simsim yang berbentuk gelang kecil dipergunakan di ibu jari. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/