26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Penari Rejang Keraman Wajib Berkalung Emas, Warna Simboliskan Dewa

BULELENG, BALI EXPRESS – Tari Rejang Keraman, salah satu tarian sakral di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, biasanya dipentaskan di Pura Puseh Desa saat Ngusaba Agung.

Tarian Rejang Keraman ini, juga sekaligus sebagai penanda menek bajang atau Ngeraja Sewala bagi para penarinya yang sudah menginjak dewasa.

Selain itu, kombinasi warna dalam busana Rejang Keraman tersebut memiliki arti tersendiri. Warna putih menyimbolkan Dewa Iswara, yaitu mempunyai makna kesucian dan kebenaran. Warna kuning merupakan simbol dari Dewa Mahadewa yang mempunyai makna kebahagiaan.

Tari Rejang Keraman dibagi menjadi dua kelompok. Yakni satu kelompok khusus putra, satu kelompok lagi putri. Barisan penari diurutkan sesuai masuk menjadi krama Desa Adat Kedis, secara berkelompok dalam satu dadia atau sekaa sanggah (merajan).

Pamangku di Desa Adat Kedis Jro Cakrabawa mengatakan, kostum penari putri seperti penari Janger. Tata rias wajahnya hampir sama dengan Tari Rejang Dewa. Untuk gelungannya menggunakan gelungan Tari Janger.

Zaman dahulu, gelungannya terbuat dari seng yang menyerupai gelungan Janger dengan hiasan permata yang terbuat dari pecahan kaca berbentuk belah ketupat, dan dilengkapi dengan bunga emas pada bagian belakang.

Busana penari Rejang Keraman putri pada zaman dahulu menggunakan badong berbentuk bulat, busananya menggunakan kebaya berwarna putih dibalut dengan stagen, angkin prada, tutup dada bludru, selendang dan kamben songket.

Namun saat ini, busananya menggunakan kebaya putih, kamben songket, angkin prada, selendang putih kuning, tutup dada bludru, ampok-ampok, dan badong. “Keunikan dari tata rias Tari Rejang Keraman ini yaitu penari putri memakai kuku panjang palsu yang terbuat dari seng, selain pada kuku keunikan tarian ini adalah harus menggunakan perhiasan berupa kalung emas sebanyak yang dimiliki oleh penari putra dan putri,” paparnya.

Sementara untuk penari putra, tata rias wajah sama dengan yang putri, tetapi ditambahkan kumis untuk mempertegas kewibawaan seorang laki-laki. Busana yang digunakan seperti busana Tari Baris, lengkap dengan gelungan dan kuku panjang palsu yang terbuat dari seng.

Kuku ini untuk mempercantik jari-jari penari dan diharuskan untuk menggunakan kalung emas. Selanjutnya untuk properti yang digunakan berupa kipas yang terbuat dari bahan kayu cendana.

Mereka memakai baju dan celana panjang berwarna putih, stiwel, gelang kana baris, kancut putih, ampok-ampok tari baris, kamben songket, semayut, busana tari baris (angkep pala, lamak, awir), dan badong. “Kombinasi warna dalam busana Rejang Keraman tersebut memiliki arti tersendiri. Warna putih menyimbolkan Dewa Iswara, yaitu mempunyai makna kesucian dan kebenaran. Warna kuning (emas) merupakan simbol dari Dewa Mahadewa yang mempunyai makna kebahagiaan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Tari Rejang Keraman, salah satu tarian sakral di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, biasanya dipentaskan di Pura Puseh Desa saat Ngusaba Agung.

Tarian Rejang Keraman ini, juga sekaligus sebagai penanda menek bajang atau Ngeraja Sewala bagi para penarinya yang sudah menginjak dewasa.

Selain itu, kombinasi warna dalam busana Rejang Keraman tersebut memiliki arti tersendiri. Warna putih menyimbolkan Dewa Iswara, yaitu mempunyai makna kesucian dan kebenaran. Warna kuning merupakan simbol dari Dewa Mahadewa yang mempunyai makna kebahagiaan.

Tari Rejang Keraman dibagi menjadi dua kelompok. Yakni satu kelompok khusus putra, satu kelompok lagi putri. Barisan penari diurutkan sesuai masuk menjadi krama Desa Adat Kedis, secara berkelompok dalam satu dadia atau sekaa sanggah (merajan).

Pamangku di Desa Adat Kedis Jro Cakrabawa mengatakan, kostum penari putri seperti penari Janger. Tata rias wajahnya hampir sama dengan Tari Rejang Dewa. Untuk gelungannya menggunakan gelungan Tari Janger.

Zaman dahulu, gelungannya terbuat dari seng yang menyerupai gelungan Janger dengan hiasan permata yang terbuat dari pecahan kaca berbentuk belah ketupat, dan dilengkapi dengan bunga emas pada bagian belakang.

Busana penari Rejang Keraman putri pada zaman dahulu menggunakan badong berbentuk bulat, busananya menggunakan kebaya berwarna putih dibalut dengan stagen, angkin prada, tutup dada bludru, selendang dan kamben songket.

Namun saat ini, busananya menggunakan kebaya putih, kamben songket, angkin prada, selendang putih kuning, tutup dada bludru, ampok-ampok, dan badong. “Keunikan dari tata rias Tari Rejang Keraman ini yaitu penari putri memakai kuku panjang palsu yang terbuat dari seng, selain pada kuku keunikan tarian ini adalah harus menggunakan perhiasan berupa kalung emas sebanyak yang dimiliki oleh penari putra dan putri,” paparnya.

Sementara untuk penari putra, tata rias wajah sama dengan yang putri, tetapi ditambahkan kumis untuk mempertegas kewibawaan seorang laki-laki. Busana yang digunakan seperti busana Tari Baris, lengkap dengan gelungan dan kuku panjang palsu yang terbuat dari seng.

Kuku ini untuk mempercantik jari-jari penari dan diharuskan untuk menggunakan kalung emas. Selanjutnya untuk properti yang digunakan berupa kipas yang terbuat dari bahan kayu cendana.

Mereka memakai baju dan celana panjang berwarna putih, stiwel, gelang kana baris, kancut putih, ampok-ampok tari baris, kamben songket, semayut, busana tari baris (angkep pala, lamak, awir), dan badong. “Kombinasi warna dalam busana Rejang Keraman tersebut memiliki arti tersendiri. Warna putih menyimbolkan Dewa Iswara, yaitu mempunyai makna kesucian dan kebenaran. Warna kuning (emas) merupakan simbol dari Dewa Mahadewa yang mempunyai makna kebahagiaan,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru