26.5 C
Denpasar
Tuesday, February 7, 2023

Tari Rejang Keraman Dipentaskan Tiga Tahun Sekali, Jadi Ungkapan Kegembiraan

BULELENG, BALI EXPRESS -Tari Rejang Keraman merupakan tarian sakral di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Tarian yang dipentaskan di Pura Puseh Desa saat Ngusaba Agung ini, juga sebagai penanda menek bajang atau Ngeraja Sewala bagi para penarinya yang sudah menginjak dewasa.

Jro Ketut Cakrabawa, pamangku di Desa Adat Kedis mengatakan, Tari Rejang Keraman dipentaskan pada saat Ngusaba Agung yang bertepatan dengan Purnama Kapat, tetapi tidak setiap tahun. Ngusaba dilaksanakan setiap tiga tahun, dan tarian ini pun dipentaskan secara turun-temurun.

Ia menjelaskan bahwa tarian ini dipentaskan oleh teruna-teruni (para remaja) Desa Adat Kedis. Sesuai namanya, kata keraman dimaknai sebagai krama atau warga adat di Desa Adat Kedis. Agar teruna teruni lihai menari, mereka wajib belajar terlebih dulu.

Dari berbagai penuturan pendahulunya, konon Tari Rejang Keraman tertulis dalam lontar Purwagama karya Rsi Markandya. Pada saat itu Rsi Markandya menyebarkan agama Hindu di Bali dan menjadi Bagawanta Putri pada abad XVI. Sedangkan Tari Rejang Keraman yang dipentaskan saat Ngusaba Agung di Pura Puseh, Desa Kedis mengikuti hasil pasamuhan para panglingsir saat pembentukan Desa Kedis.

Pementasan Tari Rejang Keraman, sebut Jro Cakrabawa, sebagai ungkapan kegembiraan yang tulus dari masyarakat Desa Kedis. “Ini merupakan cetusan hati dan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah melimpahkan segala hasil yang dapat memberikan kebahagian tersendiri,” katanya.

Disebutkan pria yang juga tokoh seni ini, upacara Ngeraja Sewala sebagai upacara massal untuk menandakan bahwa remaja Desa Kedis sudah sah berusia dewasa. Sehingga mereka secara mental siap menghadapi berbagai persoalan hidup, baik secara sekala dan niskala.

Para penari dianggap remaja apabila sudah menunjukkan perubahan secara biologis. Seperti penari yang perempuan ditandai dengan sudah haid. Sedangkan remaja yang laki-laki dengan suara yang sudah membesar atau ngembakin.

Begitu dipentaskan, tarian ini mengundang perhatian bagi krama Desa Adat yang nangkil saat Ngusaba Agung. Mereka berbondong-bondong untuk menyaksikan putra putrinya tampil sebagai pertanda sudah menek bajang.

“Saat Purnama Kapat bertepatan dengan upacara Ngusaba Agung di Pura Puseh, tarian ini pentaskan secara berturut-turut sebanyak tiga kali. Pada saat terakhir menarikan Tari Rejang Keraman ini, para penari diwajibkan untuk melakukan prosesi natab Sesayut Amertasari yang merupakan upacara Ngeraja Sewala,” katanya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS -Tari Rejang Keraman merupakan tarian sakral di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Tarian yang dipentaskan di Pura Puseh Desa saat Ngusaba Agung ini, juga sebagai penanda menek bajang atau Ngeraja Sewala bagi para penarinya yang sudah menginjak dewasa.

Jro Ketut Cakrabawa, pamangku di Desa Adat Kedis mengatakan, Tari Rejang Keraman dipentaskan pada saat Ngusaba Agung yang bertepatan dengan Purnama Kapat, tetapi tidak setiap tahun. Ngusaba dilaksanakan setiap tiga tahun, dan tarian ini pun dipentaskan secara turun-temurun.

Ia menjelaskan bahwa tarian ini dipentaskan oleh teruna-teruni (para remaja) Desa Adat Kedis. Sesuai namanya, kata keraman dimaknai sebagai krama atau warga adat di Desa Adat Kedis. Agar teruna teruni lihai menari, mereka wajib belajar terlebih dulu.

Dari berbagai penuturan pendahulunya, konon Tari Rejang Keraman tertulis dalam lontar Purwagama karya Rsi Markandya. Pada saat itu Rsi Markandya menyebarkan agama Hindu di Bali dan menjadi Bagawanta Putri pada abad XVI. Sedangkan Tari Rejang Keraman yang dipentaskan saat Ngusaba Agung di Pura Puseh, Desa Kedis mengikuti hasil pasamuhan para panglingsir saat pembentukan Desa Kedis.

Pementasan Tari Rejang Keraman, sebut Jro Cakrabawa, sebagai ungkapan kegembiraan yang tulus dari masyarakat Desa Kedis. “Ini merupakan cetusan hati dan rasa bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah melimpahkan segala hasil yang dapat memberikan kebahagian tersendiri,” katanya.

Disebutkan pria yang juga tokoh seni ini, upacara Ngeraja Sewala sebagai upacara massal untuk menandakan bahwa remaja Desa Kedis sudah sah berusia dewasa. Sehingga mereka secara mental siap menghadapi berbagai persoalan hidup, baik secara sekala dan niskala.

Para penari dianggap remaja apabila sudah menunjukkan perubahan secara biologis. Seperti penari yang perempuan ditandai dengan sudah haid. Sedangkan remaja yang laki-laki dengan suara yang sudah membesar atau ngembakin.

Begitu dipentaskan, tarian ini mengundang perhatian bagi krama Desa Adat yang nangkil saat Ngusaba Agung. Mereka berbondong-bondong untuk menyaksikan putra putrinya tampil sebagai pertanda sudah menek bajang.

“Saat Purnama Kapat bertepatan dengan upacara Ngusaba Agung di Pura Puseh, tarian ini pentaskan secara berturut-turut sebanyak tiga kali. Pada saat terakhir menarikan Tari Rejang Keraman ini, para penari diwajibkan untuk melakukan prosesi natab Sesayut Amertasari yang merupakan upacara Ngeraja Sewala,” katanya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru