alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Pemeluk Agama Hindu Baru Butuh Sentuhan Dharma Duta

TABANAN, BALI EXPRESS-Sudhi Wadani merupakan proses bagi seseorang untuk masuk menjadi umat Hindu, yang pada umumnya dilatarbelakangi berbagai faktor. Mulai dari kesadaran pribadi untuk memeluk agama Hindu atau karena perkawinan. 

Ternyata di Kabupaten Tabanan sendiri, tercatat puluhan pemeluk Hindu baru di tahun 2020 melalui prosesi ini, tepatnya sekitar 130 orang, sesuai yang dilaporkan ke PHDI Tabanan dari tahun 2018 hingga 2021. Demikian diungkap Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Kabupaten Tabanan I Putu Heri Dianandika, S.Pd.H., M.Pd.

Tingginya  animo orang-orang yang ingin memeluk Hindu, tentunya membuat pihaknya takjub sekaligus bangga. “Berdasarkan data yang kami himpun sementara, khusus di beberapa desa di Baturiti saja ada sekitar 30 prosesi Sudhi Wadani yang tercatat,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (21/3).

Pria kelahiran 26 Juni 1987 ini menerangkan, memang dari data yang didapat, tak semua yang mengikuti Sudhi Wadani beralamat di Tabanan. Sebab, ada yang dari luar Tabanan, seperti Badung, Denpasar, dan sebagainya. “Namun karena prosesinya di Tabanan, khususnya griya, jadi berdasarkan laporan yang kami terima dari beberapa tokoh, jumlahnya ternyata cukup banyak,” terangnya.

Lebih lanjut alumni IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) tersebut mengatakan, orang-orang yang sudah menjalani Sudhi Wadani perlu pendampingan dalam mengenal dan memahami ajaran Agama Hindu. Hal inilah yang menurutnya masih lemah. Sebab, dari penelusuran yang dilakukan, ada beberapa yang kembali berpindah memeluk agama lain. 

“Ada dua alasan yang mendasari mereka pindah lagi, pertama kurang memahami ajaran agama Hindu. Seperti yang diketahui, mereka perlu bimbingan untuk mempelajari agama Hindu secara perlahan. Sementara di keseharian kita, bimbingan ini masih kurang,” jelasnya.

Kemudian, kata Heri, faktor ekonomi juga jadi pemicu. Dengan berbagai bentuk permasalahan ekonomi yang dihadapi, akhirnya orang yang sudah memeluk Hindu, beralih ke agama lain. “Faktor ekonomi ini juga patut menjadi perhatian,” ujarnya.

Terkait hal ini, pria yang tinggal di Desa Gadungsari, Selemadeg Timur, Tabanan ini menegaskan, APHB Tabanan sudah memiliki program untuk melakukan pendampingan ataupun pembinaan kepada orang-orang yang baru di-Sudhi Wadani. “Kami sudah mulai bergerak. Awal April depan, kami akan laksanakan kegiatan ini,” tegasnya.

Untuk permulaan kegiatan yang baru dirintis pihaknya ini, orang-orang yang sudah melakukan Sudhi Wadani bakal diberikan pengenalan awal sebagai umat Hindu. 

Materi pembinaan akan dikemas sesederhana mungkin agar mudah dipahami. “Rencananya kami berikan pembinaan door to door, namun mengingat keterbatasan dan di tengah situasi pandemi Covid-19, nanti sementara akan kami kumpulkan dengan peserta terbatas. Dalam pembinaan akan kami fasilitasi, terutama buku-buku yang menjadi bahan bacaan, konsumsi, hingga transport,” katanya.

Hal ini tentu tak bisa diselenggarakan pihaknya sendiri, namun perlu dukungan berbagai pihak. Sementara ini, pihaknya telah bersinergi dengan Kanwil Kemenag Tabanan dan PHDI Tabanan. “Kami bersinergi, karena ini merupakan tugas kita bersama,” ujarnya semangat.

Urusan pembinaan, kata Heri, yang sempat menyabet prestasi sebagai Pekerja Sosial Inspiratif Tingkat Nasional mewakili Bali tahun 2017 ini, juga tak bisa dibebankan seluruhnya kepada lembaga keagamaan maupun keumatan. 

Sangat penting keluarga atau orang terdekat, lanjutnya, membimbing orang-orang yang baru memeluk Hindu. Minimal, mulai dari menghadirkan rasa nyaman dengan lingkungannya. Selanjutnya barulah perlahan mengenalkan dan mengajarkan agama Hindu. Mulai dari tattwa, susila, hingga acara. 

“Ini sangat penting. Sebab orang-orang terdekat akan senantiasa berinteraksi dengan yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Di samping itu, secara umum, kata ayah satu anak ini, sangat diperlukan kepedulian sesama penganut agama Hindu. Jika di dalam keluarga dan masyarakat yang bersangkutan disambut dengan kenyamanan dan bimbingan, niscaya langkahnya semakin mantap meniti hidup sebagai umat Hindu. 

Oleh karena itu, Heri juga mangatakan, APHB Tabanan membuka diri untuk para Dharma Duta yang bersedia ikut bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial keumatan. Terutama dalam hal pendampingan umat. “Bagi para Dharma Duta, mari bersama-sama bergerak,” ajaknya.

Pihaknya juga mempersilakan jika ada donatur yang bersedia menyumbangkan buku-buku ajaran agama Hindu. Hal ini akan dibagikan kepada orang-orang yang baru mengikuti Sudhi Wadani maupun masyarakat yang nantinya memerlukan. “Mari bersama-sama kita kuatkan umat Hindu. Yang jelas, kami APHB Tabanan siap bersinergi dan bergerak bersama,” pungkasnya.


TABANAN, BALI EXPRESS-Sudhi Wadani merupakan proses bagi seseorang untuk masuk menjadi umat Hindu, yang pada umumnya dilatarbelakangi berbagai faktor. Mulai dari kesadaran pribadi untuk memeluk agama Hindu atau karena perkawinan. 

Ternyata di Kabupaten Tabanan sendiri, tercatat puluhan pemeluk Hindu baru di tahun 2020 melalui prosesi ini, tepatnya sekitar 130 orang, sesuai yang dilaporkan ke PHDI Tabanan dari tahun 2018 hingga 2021. Demikian diungkap Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Kabupaten Tabanan I Putu Heri Dianandika, S.Pd.H., M.Pd.

Tingginya  animo orang-orang yang ingin memeluk Hindu, tentunya membuat pihaknya takjub sekaligus bangga. “Berdasarkan data yang kami himpun sementara, khusus di beberapa desa di Baturiti saja ada sekitar 30 prosesi Sudhi Wadani yang tercatat,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (21/3).

Pria kelahiran 26 Juni 1987 ini menerangkan, memang dari data yang didapat, tak semua yang mengikuti Sudhi Wadani beralamat di Tabanan. Sebab, ada yang dari luar Tabanan, seperti Badung, Denpasar, dan sebagainya. “Namun karena prosesinya di Tabanan, khususnya griya, jadi berdasarkan laporan yang kami terima dari beberapa tokoh, jumlahnya ternyata cukup banyak,” terangnya.

Lebih lanjut alumni IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) tersebut mengatakan, orang-orang yang sudah menjalani Sudhi Wadani perlu pendampingan dalam mengenal dan memahami ajaran Agama Hindu. Hal inilah yang menurutnya masih lemah. Sebab, dari penelusuran yang dilakukan, ada beberapa yang kembali berpindah memeluk agama lain. 

“Ada dua alasan yang mendasari mereka pindah lagi, pertama kurang memahami ajaran agama Hindu. Seperti yang diketahui, mereka perlu bimbingan untuk mempelajari agama Hindu secara perlahan. Sementara di keseharian kita, bimbingan ini masih kurang,” jelasnya.

Kemudian, kata Heri, faktor ekonomi juga jadi pemicu. Dengan berbagai bentuk permasalahan ekonomi yang dihadapi, akhirnya orang yang sudah memeluk Hindu, beralih ke agama lain. “Faktor ekonomi ini juga patut menjadi perhatian,” ujarnya.

Terkait hal ini, pria yang tinggal di Desa Gadungsari, Selemadeg Timur, Tabanan ini menegaskan, APHB Tabanan sudah memiliki program untuk melakukan pendampingan ataupun pembinaan kepada orang-orang yang baru di-Sudhi Wadani. “Kami sudah mulai bergerak. Awal April depan, kami akan laksanakan kegiatan ini,” tegasnya.

Untuk permulaan kegiatan yang baru dirintis pihaknya ini, orang-orang yang sudah melakukan Sudhi Wadani bakal diberikan pengenalan awal sebagai umat Hindu. 

Materi pembinaan akan dikemas sesederhana mungkin agar mudah dipahami. “Rencananya kami berikan pembinaan door to door, namun mengingat keterbatasan dan di tengah situasi pandemi Covid-19, nanti sementara akan kami kumpulkan dengan peserta terbatas. Dalam pembinaan akan kami fasilitasi, terutama buku-buku yang menjadi bahan bacaan, konsumsi, hingga transport,” katanya.

Hal ini tentu tak bisa diselenggarakan pihaknya sendiri, namun perlu dukungan berbagai pihak. Sementara ini, pihaknya telah bersinergi dengan Kanwil Kemenag Tabanan dan PHDI Tabanan. “Kami bersinergi, karena ini merupakan tugas kita bersama,” ujarnya semangat.

Urusan pembinaan, kata Heri, yang sempat menyabet prestasi sebagai Pekerja Sosial Inspiratif Tingkat Nasional mewakili Bali tahun 2017 ini, juga tak bisa dibebankan seluruhnya kepada lembaga keagamaan maupun keumatan. 

Sangat penting keluarga atau orang terdekat, lanjutnya, membimbing orang-orang yang baru memeluk Hindu. Minimal, mulai dari menghadirkan rasa nyaman dengan lingkungannya. Selanjutnya barulah perlahan mengenalkan dan mengajarkan agama Hindu. Mulai dari tattwa, susila, hingga acara. 

“Ini sangat penting. Sebab orang-orang terdekat akan senantiasa berinteraksi dengan yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Di samping itu, secara umum, kata ayah satu anak ini, sangat diperlukan kepedulian sesama penganut agama Hindu. Jika di dalam keluarga dan masyarakat yang bersangkutan disambut dengan kenyamanan dan bimbingan, niscaya langkahnya semakin mantap meniti hidup sebagai umat Hindu. 

Oleh karena itu, Heri juga mangatakan, APHB Tabanan membuka diri untuk para Dharma Duta yang bersedia ikut bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial keumatan. Terutama dalam hal pendampingan umat. “Bagi para Dharma Duta, mari bersama-sama bergerak,” ajaknya.

Pihaknya juga mempersilakan jika ada donatur yang bersedia menyumbangkan buku-buku ajaran agama Hindu. Hal ini akan dibagikan kepada orang-orang yang baru mengikuti Sudhi Wadani maupun masyarakat yang nantinya memerlukan. “Mari bersama-sama kita kuatkan umat Hindu. Yang jelas, kami APHB Tabanan siap bersinergi dan bergerak bersama,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/