alexametrics
29.8 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Ngaben Massal di Padangbai, Wadah Diarak di Laut

KARANGASEM, BALI EXPRESS- Upacara Ngaben massal di Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem berbeda dengan desa lain pada umumnya. Terutama ketika mengarak wadah atau bade. Di sana, arak-arakan dilakukan di tengah laut.

Menurut Bendesa Adat Padangbai I Komang Nuriada, Ngaben masal di Padangbai berjalan seperti biasanya, namun yang membedakan adalah arak-arakan wadah yang dilakukan di tengah laut. Setelah itu baru dibawa ke setra (kuburan) yang lokasinya tidak jauh dari pantai.  “Bade itu tidak diarak biasa, tetapi dilakukan di tengah laut,” tegas Nuriada pada Jumat (22/4).

Ia mengungkapkan, masyarakat Padangbai rata-rata bisa berenang, sehingga arak-arakan di tengah laut bisa berlangsung cukup lama. Mereka bisa mengarak bade sambil berenang. Nuriada memperkirakan, tradisi itu berawal ketika zaman dulu jalan menuju setra terlalu sempit, sehingga ketika Ngaben, bade maupun wadah tersebut tidak bisa melintas ke sana. Sehingga masyarakat  melalui pantai.

Seiring berjalannya waktu, jalan menuju setra tersebut sudah diperluas, bade dan wadah pun sangat mencukupi untuk melewati jalan tersebut. Tetapi, masyarakat di sana tetap melakukan pengarakan lewat pantai, bahwa sampai ke tengah laut. “Dari zaman itu sampai sekarang kemanggehang sebagai ciri khasnya Desa Padangbai. Walaupun sudah ada jalan besar sekarang, tapi kami tidak lewat di sana. Tetap ngemanggehang pemargi nak linggsir dulu,” pungkasnya.

Ngaben masal di Padangbai diselenggarakan setiap lima tahun. Biasanya dilakukan oleh masing-masing dadia, namun tahun ini akan diselenggarakan oleh desa adat. Ketika Ngaben pun disepakati menggunakan wadah dan gajah mina. (dir)


KARANGASEM, BALI EXPRESS- Upacara Ngaben massal di Desa Adat Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem berbeda dengan desa lain pada umumnya. Terutama ketika mengarak wadah atau bade. Di sana, arak-arakan dilakukan di tengah laut.

Menurut Bendesa Adat Padangbai I Komang Nuriada, Ngaben masal di Padangbai berjalan seperti biasanya, namun yang membedakan adalah arak-arakan wadah yang dilakukan di tengah laut. Setelah itu baru dibawa ke setra (kuburan) yang lokasinya tidak jauh dari pantai.  “Bade itu tidak diarak biasa, tetapi dilakukan di tengah laut,” tegas Nuriada pada Jumat (22/4).

Ia mengungkapkan, masyarakat Padangbai rata-rata bisa berenang, sehingga arak-arakan di tengah laut bisa berlangsung cukup lama. Mereka bisa mengarak bade sambil berenang. Nuriada memperkirakan, tradisi itu berawal ketika zaman dulu jalan menuju setra terlalu sempit, sehingga ketika Ngaben, bade maupun wadah tersebut tidak bisa melintas ke sana. Sehingga masyarakat  melalui pantai.

Seiring berjalannya waktu, jalan menuju setra tersebut sudah diperluas, bade dan wadah pun sangat mencukupi untuk melewati jalan tersebut. Tetapi, masyarakat di sana tetap melakukan pengarakan lewat pantai, bahwa sampai ke tengah laut. “Dari zaman itu sampai sekarang kemanggehang sebagai ciri khasnya Desa Padangbai. Walaupun sudah ada jalan besar sekarang, tapi kami tidak lewat di sana. Tetap ngemanggehang pemargi nak linggsir dulu,” pungkasnya.

Ngaben masal di Padangbai diselenggarakan setiap lima tahun. Biasanya dilakukan oleh masing-masing dadia, namun tahun ini akan diselenggarakan oleh desa adat. Ketika Ngaben pun disepakati menggunakan wadah dan gajah mina. (dir)


Most Read

Artikel Terbaru

/