alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Surga dan Neraka Menurut Hindu

Kematian menjadi hal yang sangat mengerikan bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Bagaimana tidak, kematian merupakan terlepasnya badan halus dengan badan kasar. Lalu seperti apa konsep kematian dalam agama Hindu.

Menurut Ida Pandita Mpu Sitangke Jaya Nugraha Nirmala Daksa Natha dalam Kanal Youtube Bali Bercerita, ketika meninggal sang atman akan berjalan menuju cahaya, tanpa ditemani oleh siapa pun. Ia hanya ditemani oleh karmanya sendiri. “Segala upacara yang dibuatkan seperti ngaben, doa-doa dari keluarga maupun sulinggih merupakan sisi lain yang membantu perjalanan sang atman,” papar Ida Mpu Sitangke.

Lebih lanjut dijelaskan, sang atma yang baru meninggal akan menuju Yama Loka dengan melewati jurang, sungai dan akan melewati tempat mirip dengan gurun pasir yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Di tempat inilah sang atman akan bertemu dengan atman-atman lain yang masih tertahan di Tegal Penangsaran. Atman yang tertahan ialah atman yang meninggal karena bunuh diri, mati tidak wajar dan bayi-bayi yang digugurkan. “Atman-atman inilah yang akan mengejar dan merebut bekal atman baru dalam perjalanan. Di tempat inilah akan ditemui atman-atman yang sengsara dan segala macam kerusakan,” ungkapnya.

Saat telah sampai di Yama Loka, atma yang baru akan bertemu dengan Sang Suratman yang telah mencatat perbuatan baik buruk sang atman semasa hidupnya. Kemudian melaporkan segala perbuatannya kepada Dewa Yama. “Atma akan dimasukkan ke neraka atau surga terlebih dahulu, tergantung perbuatannya,” paparnya Ida Mpu Sitangke.

Namun pihaknya menuturkan bahwa dalam ajaran agama Hindu, konsep surga dan neraka bukan hal yang bersifat absolut. Artinya bahwa perbuatan buruk akan masuk neraka dan perbuatan baik akan masuk surga.

Menurut keyakinan agama Hindu, surga dan neraka merupakan dua tempat yang berdekatan. Setiap orang, bahkan orang yang nyaris sempurna, pernah merasakan surga dan neraka, karena selain perbuatan baik dia juga pernah berbuat buruk.

“Hal ini dapat dibuktikan dalam epos Mahabrata tentang perjalanan para Pandawa pernah merasakan neraka atas kesalahannya. Jadi atma tidak akan pernah terlepas dengan neraka dan surga,” jelasnya.

Setelah melewati pengadilan keabadian, atma akan kembali terlahir ke dunia membawa karma. Dalam naskah Wraspati Tattwa, atman akan membawa Yoni (Guna  dan Karma) yang diterjemahkan menjadi bakat dan minat.

Selanjutnya, Ida Mpu Sitangke memaparkan, seseorang dapat diketahui merupakan kelahiran dari surga atau neraka dilihat dari profesinya. Ia yang terlahir kemudian berperilaku buruk menjadi begal, pencuri atau maling, sudah dipastikan merupakan kelahiran dari neraka. Sementara kelahiran surga, ia akan bertingkah laku baik. “Secara dominan orang yang lahir dari surga akan berperilaku baik,” pungkas Ida Pandita.






Reporter: Wiwin Meliana

Kematian menjadi hal yang sangat mengerikan bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Bagaimana tidak, kematian merupakan terlepasnya badan halus dengan badan kasar. Lalu seperti apa konsep kematian dalam agama Hindu.

Menurut Ida Pandita Mpu Sitangke Jaya Nugraha Nirmala Daksa Natha dalam Kanal Youtube Bali Bercerita, ketika meninggal sang atman akan berjalan menuju cahaya, tanpa ditemani oleh siapa pun. Ia hanya ditemani oleh karmanya sendiri. “Segala upacara yang dibuatkan seperti ngaben, doa-doa dari keluarga maupun sulinggih merupakan sisi lain yang membantu perjalanan sang atman,” papar Ida Mpu Sitangke.

Lebih lanjut dijelaskan, sang atma yang baru meninggal akan menuju Yama Loka dengan melewati jurang, sungai dan akan melewati tempat mirip dengan gurun pasir yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Di tempat inilah sang atman akan bertemu dengan atman-atman lain yang masih tertahan di Tegal Penangsaran. Atman yang tertahan ialah atman yang meninggal karena bunuh diri, mati tidak wajar dan bayi-bayi yang digugurkan. “Atman-atman inilah yang akan mengejar dan merebut bekal atman baru dalam perjalanan. Di tempat inilah akan ditemui atman-atman yang sengsara dan segala macam kerusakan,” ungkapnya.

Saat telah sampai di Yama Loka, atma yang baru akan bertemu dengan Sang Suratman yang telah mencatat perbuatan baik buruk sang atman semasa hidupnya. Kemudian melaporkan segala perbuatannya kepada Dewa Yama. “Atma akan dimasukkan ke neraka atau surga terlebih dahulu, tergantung perbuatannya,” paparnya Ida Mpu Sitangke.

Namun pihaknya menuturkan bahwa dalam ajaran agama Hindu, konsep surga dan neraka bukan hal yang bersifat absolut. Artinya bahwa perbuatan buruk akan masuk neraka dan perbuatan baik akan masuk surga.

Menurut keyakinan agama Hindu, surga dan neraka merupakan dua tempat yang berdekatan. Setiap orang, bahkan orang yang nyaris sempurna, pernah merasakan surga dan neraka, karena selain perbuatan baik dia juga pernah berbuat buruk.

“Hal ini dapat dibuktikan dalam epos Mahabrata tentang perjalanan para Pandawa pernah merasakan neraka atas kesalahannya. Jadi atma tidak akan pernah terlepas dengan neraka dan surga,” jelasnya.

Setelah melewati pengadilan keabadian, atma akan kembali terlahir ke dunia membawa karma. Dalam naskah Wraspati Tattwa, atman akan membawa Yoni (Guna  dan Karma) yang diterjemahkan menjadi bakat dan minat.

Selanjutnya, Ida Mpu Sitangke memaparkan, seseorang dapat diketahui merupakan kelahiran dari surga atau neraka dilihat dari profesinya. Ia yang terlahir kemudian berperilaku buruk menjadi begal, pencuri atau maling, sudah dipastikan merupakan kelahiran dari neraka. Sementara kelahiran surga, ia akan bertingkah laku baik. “Secara dominan orang yang lahir dari surga akan berperilaku baik,” pungkas Ida Pandita.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/