alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Perang Pandan di Desa Tenganan, Harap Maklum Bila Kepala Jadi Sasaran

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem kembali menggelar tradisi Geret Pandan (Perang Pandan) atau Mekare-kare, Kamis (23/6). Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada sasih kalima kalender Tenganan Pegringsingan. Seperti apa perang dengan senjata pandan berduri ini?

Geret Pandan kali ini tidak jauh beda dengan sebelumnya. Tetesan darah akibat goresan duri pandan saat menjalankan tradisi masih mewarnai Geret Pandan kemarin. Seperti biasa, tidak ada krama yang sampai marah, apalagi dendam. Mereka yang terlibat tersebut terlihat sangat menikmati dalam melestarikan tradisi turun-temurun itu. Anak kecil, muda, maupun orang tua sangat antusias.

Sebenarnya tradisi ini dilaksanakan selama empat hari, mulai dari Bale Agung, Patemu Kelod, Patemu Kaja, dan Patemu Tengah. Tetapi untuk yang di Bale Agung dan Patemu Kelod itu hanyalah simbolis dan ritual. Tidak saling berperang. Sedangkan yang perang menggunakan pandan sesunggunya tersaji di Patemu Kaja dan Patemu Tengah.

Perang Pandan dilakukan untuk menunjukkan rasa bhakti krama setempat kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang, yang sekaligus sebagai sungsungan krama setempat. Karena menurut cerita pendahulu di sana, krama Tenganan sendiri merupakan sebagai prajurit, maka dari itu tentunya sering melakukan peperangan. “Itu bisa dibilang sebagai latihan perang untuk mengasah kemampuan kami sebagai prajurit,” terang salah satu Klian Desa Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, ditemui seusai Perang Pandan.

Dalam Perang Pandan, para pemain tidak boleh mengenai bagian di atas leher. Karena itu merupakan bagian vital. Tetapi, apabila itu dikenai secara tidak sengaja, para pemain diharapkan untuk maklum. “Tidak ada dendam sesama kami sebagai pemain Perang Pandan,” tandasnya.

Untuk pandan yang digunakan dalam perang tersebut merupakan pandan yang dicari oleh truna setempat. Digunakannya pandan sebagai sarana latihan perang, karena tidak mungkin berlatih menggunakan senjata sesungguhnya. Di samping itu, pandan juga sebagai simbol penjaga diri. “Karena ini bentuknya latihan, digunakanlah pandan. Pandan itu sebagai simbol penjagaan diri, biar rumah tidak dimasuki,” jelasnya.

Sebelum Perang Pandan itu dimulai, para daha, pagi-pagi naik ke puncak bukit membawa pretima. Di sana terdapat tiga palinggih pura, yakni Pura Kubulanglang, Pura Nagasulung, dan Pura Tegalgimbal. “Ketiganya, Ganta Wayah di Pura Kubulanglang, Ganta Nengah di Pura Nagasulung, dan Ganta Nyoman di Pura Tegalgimbal, melakukan sangkep dengan menggunakan sesajen dari kuwud,” lanjutnya. (dir)


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem kembali menggelar tradisi Geret Pandan (Perang Pandan) atau Mekare-kare, Kamis (23/6). Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada sasih kalima kalender Tenganan Pegringsingan. Seperti apa perang dengan senjata pandan berduri ini?

Geret Pandan kali ini tidak jauh beda dengan sebelumnya. Tetesan darah akibat goresan duri pandan saat menjalankan tradisi masih mewarnai Geret Pandan kemarin. Seperti biasa, tidak ada krama yang sampai marah, apalagi dendam. Mereka yang terlibat tersebut terlihat sangat menikmati dalam melestarikan tradisi turun-temurun itu. Anak kecil, muda, maupun orang tua sangat antusias.

Sebenarnya tradisi ini dilaksanakan selama empat hari, mulai dari Bale Agung, Patemu Kelod, Patemu Kaja, dan Patemu Tengah. Tetapi untuk yang di Bale Agung dan Patemu Kelod itu hanyalah simbolis dan ritual. Tidak saling berperang. Sedangkan yang perang menggunakan pandan sesunggunya tersaji di Patemu Kaja dan Patemu Tengah.

Perang Pandan dilakukan untuk menunjukkan rasa bhakti krama setempat kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang, yang sekaligus sebagai sungsungan krama setempat. Karena menurut cerita pendahulu di sana, krama Tenganan sendiri merupakan sebagai prajurit, maka dari itu tentunya sering melakukan peperangan. “Itu bisa dibilang sebagai latihan perang untuk mengasah kemampuan kami sebagai prajurit,” terang salah satu Klian Desa Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, ditemui seusai Perang Pandan.

Dalam Perang Pandan, para pemain tidak boleh mengenai bagian di atas leher. Karena itu merupakan bagian vital. Tetapi, apabila itu dikenai secara tidak sengaja, para pemain diharapkan untuk maklum. “Tidak ada dendam sesama kami sebagai pemain Perang Pandan,” tandasnya.

Untuk pandan yang digunakan dalam perang tersebut merupakan pandan yang dicari oleh truna setempat. Digunakannya pandan sebagai sarana latihan perang, karena tidak mungkin berlatih menggunakan senjata sesungguhnya. Di samping itu, pandan juga sebagai simbol penjaga diri. “Karena ini bentuknya latihan, digunakanlah pandan. Pandan itu sebagai simbol penjagaan diri, biar rumah tidak dimasuki,” jelasnya.

Sebelum Perang Pandan itu dimulai, para daha, pagi-pagi naik ke puncak bukit membawa pretima. Di sana terdapat tiga palinggih pura, yakni Pura Kubulanglang, Pura Nagasulung, dan Pura Tegalgimbal. “Ketiganya, Ganta Wayah di Pura Kubulanglang, Ganta Nengah di Pura Nagasulung, dan Ganta Nyoman di Pura Tegalgimbal, melakukan sangkep dengan menggunakan sesajen dari kuwud,” lanjutnya. (dir)