Minggu, 24 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Tradisi Ngoncang di Desa Adat Buleleng (2)

Dulu Hanya Didominasi Wanita, Kini Pria Juga Boleh

24 Agustus 2021, 07: 32: 50 WIB | editor : Nyoman Suarna

Dulu Hanya Didominasi Wanita, Kini Pria Juga Boleh

Tradisi Ngoncang yang ditampilkan Saat Buleleng Festival beberapa waktu lalu. (istimewa)

Share this      

Dahulu, Tradisi Ngoncang hanya dapat dilakukan oleh para kaum wanita saja. Kondisi ini tak lepas karena zaman dahulu hanya kaum wanita yang menumbuk  padi  menjadi beras. Sehingga tradisi ngoncang berawal dari fungsi ketungan pada zaman dahulu. Namun saat ini sudah banyak di desa-desa lain kaum laki-laki ikut serta melaksanakan kegiatan ini.

Nyoman Sutrisna menambahkan Tradisi ngoncang  diakui erat  kaitannya  dalam dengan  konsep  Tri  Hita  Karana,  yaitu parahyangan  (hubungan  manusia  dengan Tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan lingkungan)  dan  palemahan  (hubungan manusia  dengan  manusia).

Dalam  kaitannya dengan  parahyangan,  tradisi  ngoncang  sebagai  suatu  persembahan  yang kita tujukan kepada para leluhur dan para dewa-dewa. “Sebagai generasi telah melakukan  suatu  ritual  yang  menghantarkan roh  para leluhur  untuk  menuju  suatu tempat yang damai di alam niskala,” paparnya.

Baca juga: Ratusan Krama Desa Adat Liligundi Tak Laksanakan 12 Ketentuan Desa

Sedangkan pada pawongan, diyakini dapat menjalin  hubungan  harmanis  antara  manusia dengan lingkungan. Sebaliknya  apabila tidak dilaksanakannya tradisi ini maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian konsep palemahan, diyakini akan memberikan keharmonisan antara manusia dengan lingkungannya.

Saat ngoncang dilaksanakan, Sutrisna menyebut menimbulkan suara yang indah. Sebab, para pemukul lesung dengan antan dilakukan secara bergiliran dan berirama. Tak pelak, ngoncang kerap dijadikan sebagai hiburan bagi masyarakat, karena mengandung unsur seni.

Tak hanya itu, sebagai bentuk pelestarian, Tradisi Ngoncang juga kerap ditampilkan saat gelaran Buleleng Festival di Singaraja. Penilaian yang dilakukan pada unsur nyaringnya sura dan kekompakan.

“Ngoncang itu secara berkelompok. Setiap orang tersebut  melakukan  aktivitas memukulkan  alu  kedalam  ketungan. Melalui pukulan lu kedalam lesung itu, akan menimbulkan sebuah irama yang indah,” pungkasnya. (habis)

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia