alexametrics
24.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Wajib Digelar Saat Ngaben, Usir Kalarahu Saat Gerhana Bulan

Desa Adat Buleleng, Kecamatan/Kabupaten Buleleng hingga kini masih menyimpan puluhan Lesung berukuran panjang. Meski tidak lagi difungsikan untuk menumbuk padi, namun Lesung lengkap dengan lu (antan) tersebut dijadikan sarana untuk ngoncang pada saat upacara Ngaben maupun ketika malam Gerhana Bulan terjadi.

 

Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna mengatakan tradisi ngoncang hingga kini masih dilaksanakan di wilayahnya, khususnya di Banjar Adat Paketan. Tradisi ini memang dilakukan secara turun-temurun.

 

Dikatakan Sutrisna, tradisi ngoncang Banjar Adat Paketan sudah ada sejak tahun 1900-an. Hal ini dibuktikan dengan saat ini tercatat ada 19 buah perangkat lesung padi di rumah-rumah warga. Baik itu dalam kondisi baik, maupun yang sudah rusak. Ukurannya pun tergolong panjang, mulai dari 4 meter sampai 12 meter.

 

“Memang secara leterlek tidak tertulis. Karena kami juga menerima cerita secara lisan dari para pendahulu. Konon tahun 1901 sudah ada. itu dari penuturan orang tua saya. Mungkin saja sebelum itu sudah ada,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (20/8) siang.

 

Lesung yang digunakan sebagai sarana ngoncang juga sudah berusia ratusan tahun dan digunakan turun temurun,  dari  generasi  ke  generasi.  Sarana lesung sangat disakralkan oleh warga setempat karena berkaitan dengan ritual keagamaan, khususnya upacara Ngaben.

 

Sutrisna menuturkan, tradisi ngoncang sejatinya dilatarbelakangi sebagai ungkapan syukur sekaligus  hiburan  setelah  masa  panen  padi berlimpah. Terlebih pada masa itu pertanian masih menjadi tulang punggung masyarakat di Desa Adat Buleleng.

 

Dalam perjalanannya, tradisi ngoncang juga kerap dilakukan saat Upacara Ngaben. Ini sebagai penanda secara niskala jika krama sedang melaksanakan upacara pengabenan. Ngoncang saat bgaben diyakini sebagai sarana komunikasi kepada para roh-roh leluhur keluarga. Sehingga memberikan keseimbangan  hidup antara sekala  dan  niskala.

 

“Termasuk melebur dan menghilangkan mala atau segala sesuatu yang bersifat negatif. Biasanya beramai-ramai sekeha nebuk (numbuk, Red) itu ngoncang bersama-sama saat dilaksanakan pengabenan,” terangnya.

 

Ngoncang juga dilakukan saat hari Pengrupukan, atau sehari sebelum pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Krama secara bertalu-talu membunyikan  suara lesung untuk menimbulkan keramaian dan suara bising dan menetralisir pengaruh negatif dari Bhuta Kala.

 

Selain saat Ngaben dan Nyepi, Ngoncang pada zaman dahulu juga dipercaya sebagai upaya menolak bala pada saat terjadi gerhana bulan hingga terjadinya fenomena alam gempa bumi. “Dulu orang meyakini, kalau saat Gerhana Bulan itu, Kala Rahu berusaha menyantap Bulan, sehingga harus dibunyikan suara yang bising, salah satunya lesung, agar bulan segera dilepaskan. Tetapi kini saat gerhana Bulan, jarang orang ngoncang,” imbuhnya. (bersambung)


Desa Adat Buleleng, Kecamatan/Kabupaten Buleleng hingga kini masih menyimpan puluhan Lesung berukuran panjang. Meski tidak lagi difungsikan untuk menumbuk padi, namun Lesung lengkap dengan lu (antan) tersebut dijadikan sarana untuk ngoncang pada saat upacara Ngaben maupun ketika malam Gerhana Bulan terjadi.

 

Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna mengatakan tradisi ngoncang hingga kini masih dilaksanakan di wilayahnya, khususnya di Banjar Adat Paketan. Tradisi ini memang dilakukan secara turun-temurun.

 

Dikatakan Sutrisna, tradisi ngoncang Banjar Adat Paketan sudah ada sejak tahun 1900-an. Hal ini dibuktikan dengan saat ini tercatat ada 19 buah perangkat lesung padi di rumah-rumah warga. Baik itu dalam kondisi baik, maupun yang sudah rusak. Ukurannya pun tergolong panjang, mulai dari 4 meter sampai 12 meter.

 

“Memang secara leterlek tidak tertulis. Karena kami juga menerima cerita secara lisan dari para pendahulu. Konon tahun 1901 sudah ada. itu dari penuturan orang tua saya. Mungkin saja sebelum itu sudah ada,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat (20/8) siang.

 

Lesung yang digunakan sebagai sarana ngoncang juga sudah berusia ratusan tahun dan digunakan turun temurun,  dari  generasi  ke  generasi.  Sarana lesung sangat disakralkan oleh warga setempat karena berkaitan dengan ritual keagamaan, khususnya upacara Ngaben.

 

Sutrisna menuturkan, tradisi ngoncang sejatinya dilatarbelakangi sebagai ungkapan syukur sekaligus  hiburan  setelah  masa  panen  padi berlimpah. Terlebih pada masa itu pertanian masih menjadi tulang punggung masyarakat di Desa Adat Buleleng.

 

Dalam perjalanannya, tradisi ngoncang juga kerap dilakukan saat Upacara Ngaben. Ini sebagai penanda secara niskala jika krama sedang melaksanakan upacara pengabenan. Ngoncang saat bgaben diyakini sebagai sarana komunikasi kepada para roh-roh leluhur keluarga. Sehingga memberikan keseimbangan  hidup antara sekala  dan  niskala.

 

“Termasuk melebur dan menghilangkan mala atau segala sesuatu yang bersifat negatif. Biasanya beramai-ramai sekeha nebuk (numbuk, Red) itu ngoncang bersama-sama saat dilaksanakan pengabenan,” terangnya.

 

Ngoncang juga dilakukan saat hari Pengrupukan, atau sehari sebelum pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Krama secara bertalu-talu membunyikan  suara lesung untuk menimbulkan keramaian dan suara bising dan menetralisir pengaruh negatif dari Bhuta Kala.

 

Selain saat Ngaben dan Nyepi, Ngoncang pada zaman dahulu juga dipercaya sebagai upaya menolak bala pada saat terjadi gerhana bulan hingga terjadinya fenomena alam gempa bumi. “Dulu orang meyakini, kalau saat Gerhana Bulan itu, Kala Rahu berusaha menyantap Bulan, sehingga harus dibunyikan suara yang bising, salah satunya lesung, agar bulan segera dilepaskan. Tetapi kini saat gerhana Bulan, jarang orang ngoncang,” imbuhnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/