alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Kepongor, Bisa Karena Lupa Leluhur atau Merusak Alam

Kepongor atau sisip mungkin kata yang tidak asing didengar di telinga orang Bali. Kepongor bisa diartikan sebagai kesalahan, kekhilafan hingga akhirnya mendapat teguran keras berupa sakit yang berkepanjangan sampai ketidakharmonisan dalam keluarga.

 

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Hartaka, M.Fil.H mengatakan kepongor

merupakan suatu kata peringatan yang sering didengar dari orang tua, Pemangku, dan Jro dasaran atau balian.

Istilah kepongor di Bali sudah ada sejak dahulu berdasarkan cerita-cerita mitologi. Bahkan dapat diketahui berdasarkan petunjuk dari seorang Sulinggih dan balian (dukun). Kepongor biasanya ditandai dengan rasa sakit yang bernuansa gaib. Bahkan di luar kemampuan akal sehat manusia.

Dikatakan Hartaka, dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan disebutkan sebagai berikut: yan tan semangkana tan tugtug pali-pali sang Dewapitara manaken sira gawang tan molih ungguhan, tan hana pasenetanya.

Terjemahannya: bila belum dilaksanakan demikian (belum dibuatkan tempat suci), belumlah selesai upacara dewapitara (leluhur) tidak mendapat suguhan dan tidak ada tempat tinggalnya.

Jika dimaknai secara bebas, bahwa apabila tidak dilakukan upacara ngunggahang (ditempat suci) dewapitara (leluhur). Maka upacara dewapitara belum selesai, dengan kutukan bahwa keturunan yang hanya tahu merasakan enaknya rasa makanan dan minum untuk diri sendiri, tanpa berbhakti kepada leluhur, maka sang dewapitara (leluhur) bisa menimbulkan kesengsaraan bagi keturunan dan sanak keluarganya.

“Kepongor berasal dari leluhurnya, kawitannya misalnya seseorang tidak tahu kawitannya, sehingga seseorang mengalami tidak harmonis dalam keluarga, sering cekcok, sakit tak kunjung sembuh,” jelasnya.

Bahkan, sekalipun sudah diobati seorang dokter sepesialis, namun sakit tidak sembuh. Sehingga menanyakan kepada orang pintar, barulah mengetahui bahwa seseorang mengalami kesisipan.

Hartaka menambahkan, tak hanya diakibatkan sisip terhadap leluhur. Kepongor bisa juga disebabkan kekuatan energi alam semesta. Ini terjadi ketika manusia menyalahi dan merusak alam.

Hal ini dapat menyebabkan kerugian pada manusia itu sendiri seperti tanah longsor ketika pembalakan hutan, banjir bandang dan kekeringan. Inilah wujud kepongor yang disebabkan dari kekuatan energi alam semesta atas kesalahan yang dibuat manusia itu sendiri.

Sejauh ini, wujud kepongor ada bermacam-macam. Seperti kehidupan keluarga tidak harmonis, sakit yang tak kunjung sembuh akibat gangguan niskala, perekonomian yang tak menentu. “Ada pula ditandai dengan pikiran kalut dan tidak menentu, ini yang sering dialami masyarakat yang kepongor,” paparnya. (bersambung)


Kepongor atau sisip mungkin kata yang tidak asing didengar di telinga orang Bali. Kepongor bisa diartikan sebagai kesalahan, kekhilafan hingga akhirnya mendapat teguran keras berupa sakit yang berkepanjangan sampai ketidakharmonisan dalam keluarga.

 

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Hartaka, M.Fil.H mengatakan kepongor

merupakan suatu kata peringatan yang sering didengar dari orang tua, Pemangku, dan Jro dasaran atau balian.

Istilah kepongor di Bali sudah ada sejak dahulu berdasarkan cerita-cerita mitologi. Bahkan dapat diketahui berdasarkan petunjuk dari seorang Sulinggih dan balian (dukun). Kepongor biasanya ditandai dengan rasa sakit yang bernuansa gaib. Bahkan di luar kemampuan akal sehat manusia.

Dikatakan Hartaka, dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan disebutkan sebagai berikut: yan tan semangkana tan tugtug pali-pali sang Dewapitara manaken sira gawang tan molih ungguhan, tan hana pasenetanya.

Terjemahannya: bila belum dilaksanakan demikian (belum dibuatkan tempat suci), belumlah selesai upacara dewapitara (leluhur) tidak mendapat suguhan dan tidak ada tempat tinggalnya.

Jika dimaknai secara bebas, bahwa apabila tidak dilakukan upacara ngunggahang (ditempat suci) dewapitara (leluhur). Maka upacara dewapitara belum selesai, dengan kutukan bahwa keturunan yang hanya tahu merasakan enaknya rasa makanan dan minum untuk diri sendiri, tanpa berbhakti kepada leluhur, maka sang dewapitara (leluhur) bisa menimbulkan kesengsaraan bagi keturunan dan sanak keluarganya.

“Kepongor berasal dari leluhurnya, kawitannya misalnya seseorang tidak tahu kawitannya, sehingga seseorang mengalami tidak harmonis dalam keluarga, sering cekcok, sakit tak kunjung sembuh,” jelasnya.

Bahkan, sekalipun sudah diobati seorang dokter sepesialis, namun sakit tidak sembuh. Sehingga menanyakan kepada orang pintar, barulah mengetahui bahwa seseorang mengalami kesisipan.

Hartaka menambahkan, tak hanya diakibatkan sisip terhadap leluhur. Kepongor bisa juga disebabkan kekuatan energi alam semesta. Ini terjadi ketika manusia menyalahi dan merusak alam.

Hal ini dapat menyebabkan kerugian pada manusia itu sendiri seperti tanah longsor ketika pembalakan hutan, banjir bandang dan kekeringan. Inilah wujud kepongor yang disebabkan dari kekuatan energi alam semesta atas kesalahan yang dibuat manusia itu sendiri.

Sejauh ini, wujud kepongor ada bermacam-macam. Seperti kehidupan keluarga tidak harmonis, sakit yang tak kunjung sembuh akibat gangguan niskala, perekonomian yang tak menentu. “Ada pula ditandai dengan pikiran kalut dan tidak menentu, ini yang sering dialami masyarakat yang kepongor,” paparnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/