alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Made Sarini, Sosok Layonsari yang Namanya Melejit Lewat Drama Gong Puspa Anom

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ketenaran Drama Gong Puspa Anom tahun 1980-an memang tak tertandingi. Nama sekaa gong asal Buleleng ini begitu besar, dikenal dan disegani di seluruh pelosok Bali hingga Lombok. Salah satu tokohnya adalah Made Sarini.

Sarini mengisahkan perjalanannya saat bergabung dengan kelompok drama gong legendaris tersebut. Kala itu Sarini adalah salah satu pemeran utama. Perempuan yang kini berusia 60 tahun ini berperan sebagai putri atau tokoh protagonis.

Ia tak pernah mendapatkan peran antagonis. Meski ia sangat ingin, namun mimik dan karakter wajahnya lebih cocok memerankan perempuan nelangsa. “Padahal ingin jadi peran jahat. Lebih mudah bagi saya, tapi dari panitia casting memilih saya untuk peran yang baik-baik saja,” tuturnya saat ditemui di Jalan Lely, Singaraja, Rabu (23/3) malam.

Jalan Lely merupakan tempat ia berjualan makanan saat ini, setelah pensiun lama dari grup drama gong.

Sarini memutuskan untuk bergabung dengan kelompok drama gong itu lantaran dirinya hobi berkesenian, khususnya menari. Saat itu, ia mendengar kabar salah satu tokoh utama yakni pemeran putri yang diperankan oleh Jro Sariani menikah. Dia pun memberanikan diri untuk ikut casting. Tak lama kemudian panitia memilihnya.

Berhasil mendapatkan peran putri, Sarini dengan tekun berlatih bersama rekan lainnya. Saat itu ia dibimbing oleh rekan-rekannya seperti Pan Jedur, Ngah-nguh, Bape Pasir, Bapa Pandra dan yang lainnya.

Naskah demi naskah, adegan demi adegan serta penyesuaian mimik wajah dilatih. Penghayatan juga merupakan faktor utama yang harus dikuasai.

Seiring waktu akhirnya tiba saatnya untuk pentas. Nama Sarini lewat perannya sebagai Putri Layonsari melejit. Totalitasnya dalam berperan membuat penonton berdecak kagum. Puspa Anom pentas di mana-mana. Seluruh daerah di Bali dihinggapi hingga Puspa Anom dikenal luas.

“Keliling Bali sudah. Semua daerah rasanya sudah saya singgahi. Di Lombok saja sudah berapa kali kesana, fansnya banyak. Sampai gak dikasih pulang, seminggu di sana,” tutur dia malu-malu.

Sejak usia 17 tahun, Sarini menjelajah Bali dan Lombok. Di usianya yang masih belia itu, ia memiliki tubuh tinggi, padat, berisi. Wajah cantik, keibuan. Terang saja banyak yang mengagumi. Tubuh itu pun ia jaga agar saat tampil tetap memukau sesuai dengan peran yang didapatkan.

Setiap penampilannya, Sarini selalu berusaha tampil cantik dan segar. Meski telah pentas berulang kali ia tetap menjaga performa di atas panggung. Bak artis terkenal ia selalu memperhatikan penampilannya dan selalu menjaga stamina.

“Dahulu masih lajang, umur 17 tahun gitu. Jaga body. Tidak makan malam. Tidur sampai pakai sabuk lapis dua, supaya badan tidak kendur. Kalau berhias saat pentas ‘meletus’ sana-sini kan malu. Tidak sesuai dengan peran putri,” ujarnya sembari tertawa tipis.

Keseruan saat menuju tempat pentas juga tak luput dari ingatan perempuan yang kini masih nampak ayu. Ia menaiki truk menuju lokasi pentas. Bersama dengan segala property dan perlengkapan lainnya, Sariani berangkat.

Berbekal semangat dan keyakinan ia bersama rekan lainnya tampil maksimal. Sorakan dari penonton terus menyambung menunjukkan kepuasan. Upah pun diterima Sarini seharga 2 gram emas pada tahun itu. “Saya keliling Bali pentas naik truk. Bawa property. Yang paling heboh pentas di Lombok. Langsung disambut. Penuh penontonnya. Saya dahulu latihan sampai 3 jam, 4 jam. Tidak lelah. Buat apa lelah, kan saya suka, hobi saya memang di sana. Jadi nikmati saja. Bayarannya dahulu emas 2 gram per orang kalau pentas. Tapi beli sendiri. Panitia bayar seharga emas itu. Nanti emasnya beli. Dahulu emas kan murah. Kalau dihitung-hitung mungkin setara Rp 2 juta sekarang per orang,” sambungnya.

Hobi berkesenian tak berhenti sampai di sana. Sarini kini bergabung dengan sekaa Calonarang. Saat piodalan tiba, perempuan asal Desa Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem ini pasti tampil. Namun penampilannya bukan lagi bak seorang putri, melainkan rangda. “Kalau saya memang senang menari. Kalau piodalan di Besakih saya nari juga, nari Calonarang. Jadi matah gede. Ratu leaknya saya. Anak matah gede,” tuturnya.






Reporter: Dian Suryantini

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ketenaran Drama Gong Puspa Anom tahun 1980-an memang tak tertandingi. Nama sekaa gong asal Buleleng ini begitu besar, dikenal dan disegani di seluruh pelosok Bali hingga Lombok. Salah satu tokohnya adalah Made Sarini.

Sarini mengisahkan perjalanannya saat bergabung dengan kelompok drama gong legendaris tersebut. Kala itu Sarini adalah salah satu pemeran utama. Perempuan yang kini berusia 60 tahun ini berperan sebagai putri atau tokoh protagonis.

Ia tak pernah mendapatkan peran antagonis. Meski ia sangat ingin, namun mimik dan karakter wajahnya lebih cocok memerankan perempuan nelangsa. “Padahal ingin jadi peran jahat. Lebih mudah bagi saya, tapi dari panitia casting memilih saya untuk peran yang baik-baik saja,” tuturnya saat ditemui di Jalan Lely, Singaraja, Rabu (23/3) malam.

Jalan Lely merupakan tempat ia berjualan makanan saat ini, setelah pensiun lama dari grup drama gong.

Sarini memutuskan untuk bergabung dengan kelompok drama gong itu lantaran dirinya hobi berkesenian, khususnya menari. Saat itu, ia mendengar kabar salah satu tokoh utama yakni pemeran putri yang diperankan oleh Jro Sariani menikah. Dia pun memberanikan diri untuk ikut casting. Tak lama kemudian panitia memilihnya.

Berhasil mendapatkan peran putri, Sarini dengan tekun berlatih bersama rekan lainnya. Saat itu ia dibimbing oleh rekan-rekannya seperti Pan Jedur, Ngah-nguh, Bape Pasir, Bapa Pandra dan yang lainnya.

Naskah demi naskah, adegan demi adegan serta penyesuaian mimik wajah dilatih. Penghayatan juga merupakan faktor utama yang harus dikuasai.

Seiring waktu akhirnya tiba saatnya untuk pentas. Nama Sarini lewat perannya sebagai Putri Layonsari melejit. Totalitasnya dalam berperan membuat penonton berdecak kagum. Puspa Anom pentas di mana-mana. Seluruh daerah di Bali dihinggapi hingga Puspa Anom dikenal luas.

“Keliling Bali sudah. Semua daerah rasanya sudah saya singgahi. Di Lombok saja sudah berapa kali kesana, fansnya banyak. Sampai gak dikasih pulang, seminggu di sana,” tutur dia malu-malu.

Sejak usia 17 tahun, Sarini menjelajah Bali dan Lombok. Di usianya yang masih belia itu, ia memiliki tubuh tinggi, padat, berisi. Wajah cantik, keibuan. Terang saja banyak yang mengagumi. Tubuh itu pun ia jaga agar saat tampil tetap memukau sesuai dengan peran yang didapatkan.

Setiap penampilannya, Sarini selalu berusaha tampil cantik dan segar. Meski telah pentas berulang kali ia tetap menjaga performa di atas panggung. Bak artis terkenal ia selalu memperhatikan penampilannya dan selalu menjaga stamina.

“Dahulu masih lajang, umur 17 tahun gitu. Jaga body. Tidak makan malam. Tidur sampai pakai sabuk lapis dua, supaya badan tidak kendur. Kalau berhias saat pentas ‘meletus’ sana-sini kan malu. Tidak sesuai dengan peran putri,” ujarnya sembari tertawa tipis.

Keseruan saat menuju tempat pentas juga tak luput dari ingatan perempuan yang kini masih nampak ayu. Ia menaiki truk menuju lokasi pentas. Bersama dengan segala property dan perlengkapan lainnya, Sariani berangkat.

Berbekal semangat dan keyakinan ia bersama rekan lainnya tampil maksimal. Sorakan dari penonton terus menyambung menunjukkan kepuasan. Upah pun diterima Sarini seharga 2 gram emas pada tahun itu. “Saya keliling Bali pentas naik truk. Bawa property. Yang paling heboh pentas di Lombok. Langsung disambut. Penuh penontonnya. Saya dahulu latihan sampai 3 jam, 4 jam. Tidak lelah. Buat apa lelah, kan saya suka, hobi saya memang di sana. Jadi nikmati saja. Bayarannya dahulu emas 2 gram per orang kalau pentas. Tapi beli sendiri. Panitia bayar seharga emas itu. Nanti emasnya beli. Dahulu emas kan murah. Kalau dihitung-hitung mungkin setara Rp 2 juta sekarang per orang,” sambungnya.

Hobi berkesenian tak berhenti sampai di sana. Sarini kini bergabung dengan sekaa Calonarang. Saat piodalan tiba, perempuan asal Desa Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem ini pasti tampil. Namun penampilannya bukan lagi bak seorang putri, melainkan rangda. “Kalau saya memang senang menari. Kalau piodalan di Besakih saya nari juga, nari Calonarang. Jadi matah gede. Ratu leaknya saya. Anak matah gede,” tuturnya.






Reporter: Dian Suryantini

Most Read

Artikel Terbaru

/