alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Desa Adat Blahkiuh Bangkitkan Lagi Tari Kecak

BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung sejatinya memiliki Sekaa Kecak. Lantaran tidak memiliki penerus, sekaa yang didirikan sekitar 20 tahun yang lalu itu sempat vakum.

Kini, Desa Adat Blahkiuh mencoba membangkitkan kembali kesenian tersebut melalui Sabha Yowana Kumuda Singasari. Persatuan yowana Desa Blahkiuh ini pun kembali mementaskan Tari Kecak, cak kolosal yang dikolaborasikan dengan fire dance (tarian api).

Bendesa Adat Blahkiuh I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja mengatakan, kecak Blahkiuh awalnya ada di dua banjar. Sudah ada sejak tahun 1990 dan terkenal hingga ke luar negeri. Pernah pentas di Jerman.

“Dua Banjar itu adalah Kembangsari dan Ulapan I, justru tari ini dipentaskan di luar desa bahkan hampir tidak pernah dipentaskan di Desa Blahkiuh. Untuk memenuhi undangan dari hotel-hotel,” ujar Agung Sudaratmaja saat dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Agung Sudaratmaja menerangkan, Tari Kecak ini adalah warisan. Sehingga harus dipertahankan, dengan cara dibangkitkan kembali.  Pihaknya pun mulai mengomunikasikan dengan para yowana untuk membentuk kembali Sekaa Kecak.

“Selain nama besar yang harus dipertahankan, kemarin ada bantuan dana dari Bupati Badung untuk motivasi dan kreativitas generasi muda. Jadi itu lah yang kami gunakan untuk pementasan Tari Kecak Kolosal,” terangnya.

Dari delapan banjar di Desa Blahkiuh, ia menyebutkan, diwakili oleh 10 sampai 15 yowana. Baik dari penari kecak, maupun penari utama dari cerita Ramayana. Sehingga secara keseluruhan mencapai 120 peserta.

Rencananya sekaa yang telah terbentuk akan terus dijaga kekompakannya. Sehingga ke depannya keberadaannya  mampu menjadi daya tarik wisata.  “Jadi Tari Kecak di Blahkiuh ini telah bangkit lagi, dan mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat. Nah sekarang kami akan mulai mengembangkan tarian ini, yang idealnya kami akan merintis sebuah pertunjukan yang bisa mendatangkan wisatawan,” imbuhnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung sejatinya memiliki Sekaa Kecak. Lantaran tidak memiliki penerus, sekaa yang didirikan sekitar 20 tahun yang lalu itu sempat vakum.

Kini, Desa Adat Blahkiuh mencoba membangkitkan kembali kesenian tersebut melalui Sabha Yowana Kumuda Singasari. Persatuan yowana Desa Blahkiuh ini pun kembali mementaskan Tari Kecak, cak kolosal yang dikolaborasikan dengan fire dance (tarian api).

Bendesa Adat Blahkiuh I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja mengatakan, kecak Blahkiuh awalnya ada di dua banjar. Sudah ada sejak tahun 1990 dan terkenal hingga ke luar negeri. Pernah pentas di Jerman.

“Dua Banjar itu adalah Kembangsari dan Ulapan I, justru tari ini dipentaskan di luar desa bahkan hampir tidak pernah dipentaskan di Desa Blahkiuh. Untuk memenuhi undangan dari hotel-hotel,” ujar Agung Sudaratmaja saat dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Agung Sudaratmaja menerangkan, Tari Kecak ini adalah warisan. Sehingga harus dipertahankan, dengan cara dibangkitkan kembali.  Pihaknya pun mulai mengomunikasikan dengan para yowana untuk membentuk kembali Sekaa Kecak.

“Selain nama besar yang harus dipertahankan, kemarin ada bantuan dana dari Bupati Badung untuk motivasi dan kreativitas generasi muda. Jadi itu lah yang kami gunakan untuk pementasan Tari Kecak Kolosal,” terangnya.

Dari delapan banjar di Desa Blahkiuh, ia menyebutkan, diwakili oleh 10 sampai 15 yowana. Baik dari penari kecak, maupun penari utama dari cerita Ramayana. Sehingga secara keseluruhan mencapai 120 peserta.

Rencananya sekaa yang telah terbentuk akan terus dijaga kekompakannya. Sehingga ke depannya keberadaannya  mampu menjadi daya tarik wisata.  “Jadi Tari Kecak di Blahkiuh ini telah bangkit lagi, dan mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat. Nah sekarang kami akan mulai mengembangkan tarian ini, yang idealnya kami akan merintis sebuah pertunjukan yang bisa mendatangkan wisatawan,” imbuhnya.

 






Reporter: I Putu Resa Kertawedangga

Most Read

Artikel Terbaru

/