alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Wanita Harus Menunggu Baki Bila Menjalani Diksa

BULELENG, BALI EXPRESS – Jangan memberikan pawisudan (padiksan) jika istri calon Sulinggih belum terhenti menstruasi. Bila sudah kedua-duanya umur tua, baru boleh didiksa.

Demikian ancer-ancer permulaan memberikan pawisudan (pengangkatan, pengesahan menjadi pendeta Lokapala-sraya). Jika sudah cukup usia Sang Sadaka, pada waktu itu boleh kamu memberikan pawisudan, jangan ragu-ragu, siapkan alat- alat padiksan serta alat-alat pemujaan.

Filolog Sugi Lanus mengatakan, situasi dan usia istri menjadi faktor penentu dalam Diksa secara tradisional. Jika belum Baki (menopause), tidak bisa menjalani Diksa.

Dalam Lontar Rsi Sasana Catur Yuga jelas disebutkan jika istri calon sulinggih masih muda, jika belum baki, maka secara tradisional tidak bisa didiksa. Dikatakan Diksa sia-sia kalau usia istri masih belia (duganwam tuhu anakbinira, basana nemu wighnaning lumekas kretthadiksita, mon sira ta pwan panitaha ri samangka).

Di semua griya di masa lalu hanya pasangan sepuh yang bisa didiksa sebagai Sulinggih Lokapala-sraya. Bahwa seorang sadaka atau pelajar Weda, jika istrinya sedang berhalangan (menstruasi), maka ia dilarang sekamar dengan istrinya.

Ini disebutkan dalam kitab Weda Smerti Manawadharma Sastra. Ketika istri dalam situasi menstruasi, sang suami pisah kamar jika ia mengupayakan keberlangsungan pelajaran Weda.

Demikian juga, sulinggih yang masih tidur atau sekamar dengan pasangannya yang menstruasi dianggap tabu.

Merujuk Rsi Sasana Ctur Yuga dan berbagai lontar-lontar sasana kesulinggihan, maka dilarang melakukan Diksa mereka yang masih usia di bawah 50 tahun dan atau pasangan yang istrinya masih menstruasi.

Ini sebabnya, sekali lagi, tidak ada pasangan belia yang Madiksa dalam aguron-guron (silsilah perguruan suci) yang nganutin sastragama (berpedoman sastra-agama).

Jika sebuah garis sulinggih atau aguron-guron masih mengikuti lontar-lontar Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana, maka bisa dipastikan tidak ada pasangan belia diizinkan Madiksa (menjalani Diksa).

Bila ada aguron-guron yang melahirkan sulinggih belia, atau tidak mengikuti syarat yang jelas, bisa dipastikan aguron-guron tersebut adalah aguron-guron yang tidak mengikuti sasana kepanditaan (nenten manut sasana sulinggih) sebagaimana disebutkan dalam Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana.

“Memberikan Diksa pada pasangan belia adalah pelanggaran berat menurut Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana. Jika ini dilanggar, disebutkan Negara akan mengalami goncangan, negara kacau, dan akan terjadi keributan/kekisruhan bernegara (bermasyarakat),” tegasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Jangan memberikan pawisudan (padiksan) jika istri calon Sulinggih belum terhenti menstruasi. Bila sudah kedua-duanya umur tua, baru boleh didiksa.

Demikian ancer-ancer permulaan memberikan pawisudan (pengangkatan, pengesahan menjadi pendeta Lokapala-sraya). Jika sudah cukup usia Sang Sadaka, pada waktu itu boleh kamu memberikan pawisudan, jangan ragu-ragu, siapkan alat- alat padiksan serta alat-alat pemujaan.

Filolog Sugi Lanus mengatakan, situasi dan usia istri menjadi faktor penentu dalam Diksa secara tradisional. Jika belum Baki (menopause), tidak bisa menjalani Diksa.

Dalam Lontar Rsi Sasana Catur Yuga jelas disebutkan jika istri calon sulinggih masih muda, jika belum baki, maka secara tradisional tidak bisa didiksa. Dikatakan Diksa sia-sia kalau usia istri masih belia (duganwam tuhu anakbinira, basana nemu wighnaning lumekas kretthadiksita, mon sira ta pwan panitaha ri samangka).

Di semua griya di masa lalu hanya pasangan sepuh yang bisa didiksa sebagai Sulinggih Lokapala-sraya. Bahwa seorang sadaka atau pelajar Weda, jika istrinya sedang berhalangan (menstruasi), maka ia dilarang sekamar dengan istrinya.

Ini disebutkan dalam kitab Weda Smerti Manawadharma Sastra. Ketika istri dalam situasi menstruasi, sang suami pisah kamar jika ia mengupayakan keberlangsungan pelajaran Weda.

Demikian juga, sulinggih yang masih tidur atau sekamar dengan pasangannya yang menstruasi dianggap tabu.

Merujuk Rsi Sasana Ctur Yuga dan berbagai lontar-lontar sasana kesulinggihan, maka dilarang melakukan Diksa mereka yang masih usia di bawah 50 tahun dan atau pasangan yang istrinya masih menstruasi.

Ini sebabnya, sekali lagi, tidak ada pasangan belia yang Madiksa dalam aguron-guron (silsilah perguruan suci) yang nganutin sastragama (berpedoman sastra-agama).

Jika sebuah garis sulinggih atau aguron-guron masih mengikuti lontar-lontar Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana, maka bisa dipastikan tidak ada pasangan belia diizinkan Madiksa (menjalani Diksa).

Bila ada aguron-guron yang melahirkan sulinggih belia, atau tidak mengikuti syarat yang jelas, bisa dipastikan aguron-guron tersebut adalah aguron-guron yang tidak mengikuti sasana kepanditaan (nenten manut sasana sulinggih) sebagaimana disebutkan dalam Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana.

“Memberikan Diksa pada pasangan belia adalah pelanggaran berat menurut Catur Dresta, Werti Sasana, Siwa Sasana, Resi Sasana. Jika ini dilanggar, disebutkan Negara akan mengalami goncangan, negara kacau, dan akan terjadi keributan/kekisruhan bernegara (bermasyarakat),” tegasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/