Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Pedoman Membangun Rumah dalam Hindu (2)

Perhatikan Padewasan Pembangunan Rumah

25 September 2021, 08: 40: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Perhatikan Padewasan Pembangunan Rumah

Titra Guna Wijaya (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin. Termasuk memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin.

Dikatakan Tirtra Gunawijaya saat mebangun rumah wajib hukumnya untuk memperhatikan padewasan atau hari baik. Misalnya Dewasa Ngeruwak bisa menggunakan Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi. Kemudian Sasih yang pas adalah Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.

Untuk upacara Nasarin bisa memilih Watek: Watu. Sedangkan Wewaran yang tepat adalah Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi. Sasih yang cocok adalah Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.

Baca juga: Ada Goa Sebagai Tempat Bersemedi

Nguwangun Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Begitu juga Mengatapi Wewaran: Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Memakuh/ Melaspas Wewaran: Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi. Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa. Upacara Membangun Rumah.

“Upacara Nyapuh sawah dan tegal diperlukan apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal,” katanya.

 Membuat rumah yang dapt mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya, harus diawali dengan pemilihan lokasi (tanah) yang pas. Lokasi yang bagus dijadikan bagunan adalah tanah yang posisinya lebih rendah (miring) ke timur (sebelum direklamasi). Namun di luar lahan bukan milik kita, posisinya lebih tinggi.

Demikian juga tanah bagian utaranya juga harus lebih tinggi. Bila tanah di pinggir jalan, usahakan posisinya tanah dipeluk jalan. “Sangat baik bila ada air di arah selatan tetapi bukan dari sungai yang mengalir deras,” tuturnya.

Air harus berjalan pelan, tetapi posisi sungai juga harus memeluk tanah, bukan sebaliknya menebas lokasi tanah. Diyakini aliran air yang lambat membuat dewa air sebagai pembawa kesuburan dan rejeki banyak terserap dalam deras.

Selain letak tanah, tekstur tanah juga harus dipastikan memiliki kualitas baik. Tanah berwarna kemerahan dan tidak berbau termasuk jenis tanah yang bagus untuk tempat tinggal.Untuk menguji tekstur tanah, cobalah genggam tanah tersebut.

Jika setelah lepas dari genggaman tanah itu terurai lagi, berarti kualitas tanah tersebut cocok dipilih untuk lokasi perumahan. Cara lain untuk menguji tekstur tanah yang baik adalah dengan cara melubangi tanah tersebut sedalam 40 Cm persegi. Kemudian lubang itu diurug (ditimbun) lagi dengan tanah galian tadi.

Jika lubang penuh atau kalau bisa ada sisa oleh tanah urugan itu, berati tanah itu bagus untuk rumah. Sebaliknya jika tanah untuk menutup lubang tidak bisa memenuhi (jumlahnya kurang) berati tanah tersebut tidak bagus dan tidak cocok untuk rumah karena tergolong tanah anggker.

Akan lebih baik memilih tanah yang terletak di utara jalan karena lebih mudah untuk melakukan penataan bangunan menurut konsep Asta kosala-kosali. Misalnya membuat pintu masuk rumah, letak bangunan dan tempat suci keluarga. Lokasi seperti ini memungkinkan untuk menangkap sinar baik untuk kesehatan. Tata letak pintu masuk yang sesuai akan memudahkan menangkap Dewa Air mendatangkan rejeki.

Jangan membangun rumah di bekas tempat-tempat umum seperti bekas balai masyarakat, bekas pura, tanah bekas tempat upacara ngaben massal, bekas gria dan tanah bekas kuburan. Usahakan pula untuk tidak memilih lokasi bersudut tiga atau lebih dari bersudut empat.

Tanah di puncak ketinggian, di bawah tebing atau jalan juga kurang bagus untuk rumah karena membuat rejeki seret dan penghuninya akan sakit-sakitan. Demikian juga tanah yang terletak di pertigaan atau di perempatan jalan tidak bagus untuk tempat tinggal.

”Tetapi cocok untuk tempat usaha.Tanah jenis ini termasuk tanah angker karena merupakan tempat hunian Sang Hyang Durga Maya dan Sang Hyang Indra Balaka,” pungkasnya. (habis)

(bx/dik/man/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia