Rabu, 01 Dec 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Lontar Tingkahing Sarasmi (1)

Etika Bersenggama Suami-Istri, Hindari anak Berkarakter Rahwana

25 Oktober 2021, 07: 11: 29 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Etika Bersenggama Suami-Istri, Hindari anak Berkarakter Rahwana

Ilustrasi gambar Smara Ratih. (istimewa)

Share this      

Berhubungan senggama layaknya suami istri sangat disucikan dalam Hindu. Sebab, tidak boleh sembarangan dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah. Dalam Lontar Tingkahing Sarasmi, etika bersenggama pasangan suami istri pun dijabarkan secara detail demi mendapatkan keturunan yang suputra.

Ni Made Yunitha Asri Diantari, M. Ag mengatakan secara etimologis, Lontar Tingkahing Sarasmi berasal dari kata Tingkahing dan Sarasmi. Kata Tingkahing berarti perilaku dan kata Sarasmi berarti asmara atau bersenggama. Jadi Tingkahing Sarasmi berarti perilaku ketika hendak bersenggama atau berhubungan badan.

Lontar ini secara gamblang membahas mengenai etika seksualitas pada hubungan suami istri ketika masa berumah tangga. Termasuk menyajikan mantra-mantra yang digunakan ketika bersenggama agar dapat mempunyai anak yang diinginkan oleh pasangan suami istri.

Baca juga: Tirta Sidhakarya, Sesayut Stana Ista Dewata

Di dalam lontar ini juga menguraikan tata cara memperlakukan seorang istri hingga cara memperoleh putra atau anak yang diinginkan. Seperti etika bersenggama dengan istri, etika memangku istri, etika menginginkan putra suputra, etika menginginkan putra sakti, etika menginginkan putra sidha utama, etika menginginkan putra rupawan, dan etika menginginkan putra panjang.

“Etika tersebut berupa rapalan mantra-mantra yang diucapkan ketika melakukan hubungan seksual,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Kamis (21/10) siang.

Bukan tanpa alasan, mengata hubungan seksual suami dan sitri pantang dilakukan secara liar. Sebab, bila dilakukan tanpa kendali akan mempengaruhi karakter dari anak yang dihasilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada epos Ramayana, tepatnya karakter Rahwana. Karakternya dipengaruhi oleh hubungan seksual yang dilakukan oleh Rsi Wisrawa dengan Dewi Kaikesi karena dilakukan secara sembarangan

“Dimana saat hubungan seksual tersebut dilakukan pada waktu yang tidak tepat dapat menyebabkan anak yang dilahirkan mempunyai karakter yang jahat. Sehingga lahirlah Rahwana dengan kepribadian setengah brahmana dan setengah raksasa,” paparnya. (bersambung)

(bx/dik/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia