26.5 C
Denpasar
Thursday, June 1, 2023

Iri Hati akan Membawa Kesengsaraan

DENPASAR, BALI EXPRESS – Hidup manusia tidak bisa lepas dari rasa iri hati dan keinginan untuk pamer. Sifat ini pun kadang tanpa disadari dilakukan seseorang. Lalu, bagaimana cara menghilangakan dua sifat buruk ini?

Menurut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55, iri hati adalah salah satu sifat yang berujung pada pengerusakan atau hal-hal buruk. Berbeda dengan termotivasi saat melihat orang sukses, iri hati cenderung akan membicarakan kesuksesan seseorang dengan orang lainnya dalam sudut pandang negatif.

Sedangkan jika termotivasi melihat orang sukses, maka akan cenderung mendekati  orang sukses tetsebut agar bisa belajar jadi lebih baik. Ditambahkannya, dalam Saramuscaya Sloka 88 disebutkan, bagi mereka yang ingin memeroleh kebahagiaan abadi, hendaknya jangan sekali-kali berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan merupakan haknya, jangan sekali-kali berperasaan iri hati pada orang yang beruntung.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba,  mengakui bahwa di zaman modern ini, rasa iri hati tanpa disadari muncul karena pengendalian panca indria yang kurang baik. Apalagi di zaman ini, media sosial menjadi tempat pamer yang mudah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja oleh seseorang. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung, membuat orang yang melihat akan bisa menimbulkan rasa iri. “Semisal kita melihat teman membawa mobil mewah, kita tiba-tiba ingin punya. Begitulah yang sekarang sering terjadi,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mengatakan, sebenarnya seseorang yang memiliki pengetahuan akan merasa kasihan dengan orang yang memamerkan sesuatu, sebab hal itu akan mengundang risiko untuk diri mereka sendiri. “Sering ada orang yang pamer, kemudian dikomentari oleh orang lain. Dia merasa jengkel dan harus membalas kritikan yang tidak dia duga itu. Sebenarnya jika dia tidak pamer, maka tidak perlu membuang energi meladeni hal seperti itu,” papar pria yang memiliki nama welaka Ida Bagus Putu Tapawana ini.

Baca Juga :  HUT ST Armada, Giri Prasta Apresiasi Yowana Terapkan Tri Hita Karana

Ditegaskannya, rasa iri hati sesungguhnya akan menyebabkan orang sengsara. “Orang yang diliputi oleh kedengkian dan iri hati, hidupnya akan selalu dilekati oleh duka dan nestapa. Hal ini terjadi, sebab orang tersebut lebih sibuk memikirkan keberuntungan, kekayaan, kerupawanan dan kebahagiaan yang dimiliki orang lain,” urainya.

Sulinggih asal Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal Abiansemal ini, memberikan cara agar rasa iri hati itu bisa dikendalikan, seperti yang dimuat dalam  Kitab Suci Weda. Seperti apa yang tertuang?

“Miliki yang satu untuk bedakan yang dua, yang bermakna bahwa dengan pengetahuan maka bisa membedakan yang baik dan yang buruk,” paparnya. Selanjutnya kenali yang tiga untuk menapaki yang empat, yang memiliki arti bahwa manusia harus kenal dengan Tri Guna (Sattwam, Rajas, dan Tamas), sehingga tahu kapan menggunakannya. “Misalnya kapan saatnya kita malas, saat libur itu Tamas. Jadi, Tamas itu juga tidak salah, tetapi dapat dilakukan pada waktu yang tepat. Menapaki yang empat itu, lanjutnya, adalah Catur Purusa Artha yang terdiri dari Dharma, Arta, Kama, dan Moksha.

Baca Juga :  Melihat Karma Phala dari Filsafat dan Tattwa

Kemudian, kendalikan yang lima untuk menghindari yang enam. Dijelaskannya, kalimat tersebut bermakna bahwa sebagai manusia harus bisa mengendalikan panca indranya. Mulai dari mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Mengendalikan  kelima indra  maka akan bisa menghindarkan manusia dari sifat Sad Ripu yang terdiri dari Kama, Lobha, Krodha, Moha, Mada, dan Matsarya atau iri hati. ” Memiliki pengendalian terhadap panca indria akan menghindarkan diri dari rasa iri hati,” urainya.

Lantas, dengan upacara, salah satunya lewat Mapandes sudahkah sifat buruk itu bisa berkurang?
Bagi Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, cara seperti itu tidak bisa dijadikan tolok ukur. “Mapandes atau dikenal dengan potong gigi adalah kegiatan budaya yang mengharmonisasikan energi diri sendiri sebagai manusia dengan alam semesta,” terangnya. Mengikuti upacara potong gigi, lanjutnya, adalah pengharapan agar diri sendiri sebagai manusia mau dan mampu mengurangi pengaruh sifat negatif (Sad Ripu) tersebut dalam keseharian hidup.

“Sebenarnya adal hal yang lebih sederhana yang bisa dilakukan agar bisa mengurangi dan menghilangkan sifat iri hati pada diri sendiri. Caranya,  seseorang harus bisa menjauhi pergaulan dengan orang yang suka iri dan juga pamer,”  sarannya.

Dikatakannya, bergaul bersama orang yang suka iri hati dan pamer akan membuat seseorang juga memiliki sifat yang sama. “Makanya bertemanlah dengan orang bijak atau yang tidak punya sifat buruk seperti itu,” pungkasnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Hidup manusia tidak bisa lepas dari rasa iri hati dan keinginan untuk pamer. Sifat ini pun kadang tanpa disadari dilakukan seseorang. Lalu, bagaimana cara menghilangakan dua sifat buruk ini?

Menurut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55, iri hati adalah salah satu sifat yang berujung pada pengerusakan atau hal-hal buruk. Berbeda dengan termotivasi saat melihat orang sukses, iri hati cenderung akan membicarakan kesuksesan seseorang dengan orang lainnya dalam sudut pandang negatif.

Sedangkan jika termotivasi melihat orang sukses, maka akan cenderung mendekati  orang sukses tetsebut agar bisa belajar jadi lebih baik. Ditambahkannya, dalam Saramuscaya Sloka 88 disebutkan, bagi mereka yang ingin memeroleh kebahagiaan abadi, hendaknya jangan sekali-kali berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan merupakan haknya, jangan sekali-kali berperasaan iri hati pada orang yang beruntung.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba,  mengakui bahwa di zaman modern ini, rasa iri hati tanpa disadari muncul karena pengendalian panca indria yang kurang baik. Apalagi di zaman ini, media sosial menjadi tempat pamer yang mudah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja oleh seseorang. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung, membuat orang yang melihat akan bisa menimbulkan rasa iri. “Semisal kita melihat teman membawa mobil mewah, kita tiba-tiba ingin punya. Begitulah yang sekarang sering terjadi,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mengatakan, sebenarnya seseorang yang memiliki pengetahuan akan merasa kasihan dengan orang yang memamerkan sesuatu, sebab hal itu akan mengundang risiko untuk diri mereka sendiri. “Sering ada orang yang pamer, kemudian dikomentari oleh orang lain. Dia merasa jengkel dan harus membalas kritikan yang tidak dia duga itu. Sebenarnya jika dia tidak pamer, maka tidak perlu membuang energi meladeni hal seperti itu,” papar pria yang memiliki nama welaka Ida Bagus Putu Tapawana ini.

Baca Juga :  Pura Tamansari Agung Kerobokan; Bila Diberkati Tirta Bisa Bercahaya

Ditegaskannya, rasa iri hati sesungguhnya akan menyebabkan orang sengsara. “Orang yang diliputi oleh kedengkian dan iri hati, hidupnya akan selalu dilekati oleh duka dan nestapa. Hal ini terjadi, sebab orang tersebut lebih sibuk memikirkan keberuntungan, kekayaan, kerupawanan dan kebahagiaan yang dimiliki orang lain,” urainya.

Sulinggih asal Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal Abiansemal ini, memberikan cara agar rasa iri hati itu bisa dikendalikan, seperti yang dimuat dalam  Kitab Suci Weda. Seperti apa yang tertuang?

“Miliki yang satu untuk bedakan yang dua, yang bermakna bahwa dengan pengetahuan maka bisa membedakan yang baik dan yang buruk,” paparnya. Selanjutnya kenali yang tiga untuk menapaki yang empat, yang memiliki arti bahwa manusia harus kenal dengan Tri Guna (Sattwam, Rajas, dan Tamas), sehingga tahu kapan menggunakannya. “Misalnya kapan saatnya kita malas, saat libur itu Tamas. Jadi, Tamas itu juga tidak salah, tetapi dapat dilakukan pada waktu yang tepat. Menapaki yang empat itu, lanjutnya, adalah Catur Purusa Artha yang terdiri dari Dharma, Arta, Kama, dan Moksha.

Baca Juga :  Usai TNI Gantung Diri, Gelar Mecaru Karipu Baya di Tukad Bangkung

Kemudian, kendalikan yang lima untuk menghindari yang enam. Dijelaskannya, kalimat tersebut bermakna bahwa sebagai manusia harus bisa mengendalikan panca indranya. Mulai dari mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Mengendalikan  kelima indra  maka akan bisa menghindarkan manusia dari sifat Sad Ripu yang terdiri dari Kama, Lobha, Krodha, Moha, Mada, dan Matsarya atau iri hati. ” Memiliki pengendalian terhadap panca indria akan menghindarkan diri dari rasa iri hati,” urainya.

Lantas, dengan upacara, salah satunya lewat Mapandes sudahkah sifat buruk itu bisa berkurang?
Bagi Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, cara seperti itu tidak bisa dijadikan tolok ukur. “Mapandes atau dikenal dengan potong gigi adalah kegiatan budaya yang mengharmonisasikan energi diri sendiri sebagai manusia dengan alam semesta,” terangnya. Mengikuti upacara potong gigi, lanjutnya, adalah pengharapan agar diri sendiri sebagai manusia mau dan mampu mengurangi pengaruh sifat negatif (Sad Ripu) tersebut dalam keseharian hidup.

“Sebenarnya adal hal yang lebih sederhana yang bisa dilakukan agar bisa mengurangi dan menghilangkan sifat iri hati pada diri sendiri. Caranya,  seseorang harus bisa menjauhi pergaulan dengan orang yang suka iri dan juga pamer,”  sarannya.

Dikatakannya, bergaul bersama orang yang suka iri hati dan pamer akan membuat seseorang juga memiliki sifat yang sama. “Makanya bertemanlah dengan orang bijak atau yang tidak punya sifat buruk seperti itu,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru