Rabu, 01 Dec 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Kekerasan terhadap Perempuan dalam Hindu

Kekerasan pada Perempuan Terungkap dalam Manawadharmasastra

25 November 2021, 09: 51: 33 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Kekerasan pada Perempuan Terungkap dalam Manawadharmasastra

Dosen Prodi Hukum Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Yoga Satriya Wibawa, MH (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

Kasus kekerasan dalam rumah tangga rupanya sangat memprihatinkan dewasa ini. Seperti yang terjadi di Buleleng, seorang suami nekat menganiaya sang istri hingga meninggal dunia setelah terpengaruh alkohol. Kasus kekerasan ini membuat kita menjadi prihatin atas apa yang dialami perempuan. Lalu, bagaimana kekerasan terhadap perempuan jika dilihat dalam Pustaka Hindu?

Dosen Prodi Hukum Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Yoga Satriya Wibawa, MH mengatakan Kekerasan terhadap perempuan merupakan tindakan atau sikap yang dilakukan dengan tujuan tertentu sehingga dapat merugikan wanita baik secara fisik maupun secara psikologis.

Kekerasan terhadap wanita berakibat kesengsaraan atau penderitaan wanita secara fisik, seksual, atau psikologis, atau ancaman tertentu, pemaksaan atua perampasan kemerdekaan seacra sewenang wenang baik yang terjadi di depan umum maupun kehidupan pribadi.

Baca juga: Kepongor, Bisa Karena Lupa Leluhur atau Merusak Alam

Menurutnya, kekerasan ini menjadi ironi. Terlebih, dalam sejumlah pustaka diatur bagaimana cara memuliakan seorang wanita. Semisal, dalam Lontar Ganapati Tattva bahwa untuk melanjutkan penciptaan maka, perempuan mempunyai kewajiban untuk mengandung anaknya dengan laki-laki yang mulia untuk mendapatkan anak yang suputra.

Sedangkan dalam Dalam Manava Dharmasastra (MDS III, 56) yang menguraikan kedudukan wanita sangatlah mulia yaitu : Yatra naryastumpujyante, Ramante tatra dewatah, Yatraitastu na pujyante, Sarwastalah kriyah

Terjemahan: Dimana perempuan dihormati, Di sanalah para dewa-dewa merasa senang, Tetapi dimana mereka tidak dihormati, Tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.

“Semestinya kaum lelaki memberi tempat yang layak untuk wanita, karena dalam kelembutan yang tampak, wanita adalah kekuatan maha dahsyat yang kerap disepelekan,” jelasnya.

Begitu juga dalam sloka MDS III, 57 menyebutkan: Sociante jamayo yatra Vinasyatyasu tat kulam, Na socianti tu yatraita Varddhate tanghi sarvada.

Terjemahannya: Dimana warga wanitanya hidup dalam kesedihan keluarga itu cepat akan hancur, tetapi dimana wanita itu tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.

Lanjutnya, ini menandakan bahwa wanita memiliki kemampuan yang luar biasa karena apa yang dilakukan oleh seorang laki-laki juga bisa dilakukan oleh seorang wanita begitu juga sebaliknya apa yang dilakukan oleh seorang wanita belum tentu mapu dilakukan oleh seorang laki-laki.

Para dewa sangat menghargai wanita karena karena ketulusan, kasih sayang dan kelembutan hatinya yang melebihi segalanya “Wanita bisa menjadi seorang ibu yang memiliki peran mengandung, melahirkan dan membesarkan anak namun laki-laki tidak dapat melakukan hal itu,” paparnya.

Kekerasan dalam segala bentuknya adalah sesuatu yang dilarang oleh ajaran agama Hindu. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), terlebih hal itu dilakukan terhadap wanita, maka tindakan itu tidak saja telah melanggar Rta-hukum alam, tetapi juga telah melanggaran etika sosial rumah tangga. “Tindakan kekerasan dapat menyebabkan kemunduran dalam kualitas reinkarnasi,” katanya. 

Dikatakan Gede Yoga, dalam ajaran Stri Sasana yaitu aturan-aturan kehidupan wanita dalam agama Hindu, mengelompokkan hak dan kewajiban wanita dalam dua kelompok. Yaitu masa Brahmacari dan masa Grehasta.

Masa Brahmacari kewajiban pokok wanita adalah belajar untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pada masa Brahmacari inilah kesempatan bagi para wanita untuk memperkaya dirinya dengan pengetahuan.

Sehingga kedepannya tidak mudah untuk dibodohi oleh lelaki dan mampu mendapatkan pekerjaan. “Harapannya wanita tidak hanya berpangku tangan saja serta nantinya dapat digunakan untuk mendidik keturunannya ketika sudah memasuki masa Grehasta,” jelasnya.

Sedangkan pada masa Grehasta, seorang wanita mempunyai tanggung jawab yang lebih berat. Wanita ikut bahu-membahu bersama suami untuk menitikberatkan pada aspek artha yaitu suatu usaha untuk mendapatkan harta benda sebagai penyokong terwujudnya kesejahteraan keluarga serta kama yaitu mengusahakan terpenuhinya kepuasan, kenikmatan dan kebahagiaan hidup lahir batin.

Dalam Manawa Dharmasastra IX.27-28 dijelaskan bahwa: “Utpadanamapatyasya jatasya paripalanam, Pratyaham lokayatrayah pratyaksam strinibandhanam”. Terjemahannya: Melahirkan anak, memelihara yang telah lahir dan kehidupan sehari-hari bagi orang laki, semua itu wanitalah yang menyebabkan.

Secara garis besar kewajiban wanita itu menjadi seorang ibu atau melahirkan anak untuk melanjutkan garis keturunannya dan tentunya setelah itu merawat anak tersebut dengan sebaik mungkin dengan mendidiknya dengan pengetahuan yang telah diperoleh pada masa Brahmacari.

“Kita bisa lihat, saat pandemic Covid-19, di saat semua anak-anak belajar di rumah. Rata-rata Ibu yang banyak mengajar dan mendidik anak-anaknya sebagai pengganti guru di sekolah, sehingga pendidikan tetap berjalan” jelasnya.

Terlebih, menjadi Wanita Hindu di Bali. Menurutnya memiliki kewajiban ekstra. Selain mengurus rumah tangga, mendidik anak, menafkahi keluarga, wanita juga harus menyama braya hingga membuat sarana yadnya secara rutin.

Selain menjalankan kewajibannya, seorang wanita sebut Yoga juga sudah pasti memiliki hak yang harus didapatkannya. yaitu seperti hak untuk mendapatkan perlindungan atas hukum dan mendapatkan perlakuan yang semestinya.

“Oleh sebab itu, orang yang ingin sejahtera hendaknya senantiasa menghormati perempuan. Betapa diagungkannya seorang wanita bila kita lihat di dalam kitab-kitab suci agama Hindu. Hendaknya hal ini dapat dijadikan pedoman dan contoh dalam kehidupan,” pesannya.

(bx/dik/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia