Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tirta Pangentas dalam Upacara Ngaben, Jalan Suci Jiwatman Menuju Alam Pitra

I
Penulis: I Putu Mardika❯

Proses pembuatan tirta untuk ritual yadnya
Proses pembuatan tirta untuk ritual yadnya
BALIEXPRESS.ID-Dalam setiap pelaksanaan upacara pengabenan umat Hindu di Bali, berbagai sarana upacara dipersiapkan secara cermat. Dua di antara yang paling penting adalah toya (air) dan tirta (air suci) yang menjadi unsur utama proses penyucian.


Advertisement

Keberadaan keduanya bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan instrumen teologis yang diyakini menentukan perjalanan Jiwatman menuju alam pitra dan akhirnya mencapai moksa.

Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan secara ideal, beberapa jenis toya wajib disiapkan dalam upacara pengabenan. Pertama, Toya Ening atau Toya Empul, yakni air jernih yang diperoleh langsung dari sumber mata air sebagai lambang kemurnian.

Kedua, Kumkuman, campuran air dengan bunga-bunga harum yang berfungsi sebagai penyegar dan penyuci. Selanjutnya, Temuku Aya atau Toya Panembak, dan Toya Panembak Banjar yang disiapkan oleh banjar adat melalui Kelian Adat.

Advertisement

“Empat jenis air ini menjadi dasar pelaksanaan upacara, terutama pada tahap-tahap awal penyucian jasad dan simbolisnya,” ungkapnya.

Selain toya, tirta menempati posisi sentral. Tirta yang dipersiapkan dalam pengabenan meliputi Tirta Pengelukatan atau Tirtha Payuk Panglukatan, sebagai sarana pembersihan awal; Tirta Pembersihan atau Tirtha Siwambha; Tirtha Widdhi, juga dikenal sebagai Tirtha Wangsuhpada atau Banyun Cokor; serta Tirta Kekuluh.

Advertisement

Tirta-tirta lainnya termasuk Tirta Merajan (Kemimitan) dan Tirta Pura Swagina, seperti Tirta dari Pura Bale Banjar, Melanting, Taman, dan Subak.

Salah satu tirta yang paling menentukan adalah Tirta Pengentas, yaitu tirta khusus untuk membebaskan Jiwatman dari keterikatan duniawi. Tirta pengentas mencakup tiga jenis: Tirta Pengentas Pakingsan (Pendem), Tirta Pengentas Pamuput, dan Tirta Pengentas Dalem.

“Ketiganya digunakan pada tahap berbeda dalam rangkaian pengabenan, namun fungsi utamanya serupa: membebaskan, melepas, dan mengantar Jiwatman menuju alam pitra,” paparnya.

Secara etimologis, tirta berarti air suci, sedangkan pengentas berasal dari kata entas yang berarti melepaskan. Tirta pengentas dimaknai sebagai air suci untuk melepaskan atma dari belenggu material.

Konsep ini disebutkan dalam berbagai sumber pustaka suci Hindu. Dalam Rg-Veda dan Yajur-Veda, air (apah) dipandang sebagai elemen suci, pembawa kehidupan, sekaligus penyuci yang menghapus kotoran lahir dan batin.

Dalam Lontar Yama Purwana Tattwa disebutkan: “Sang atma wus pejah saking sarira, tan wenang ngalantur ring swarga yening tan kasucian antuk tirta pangentas.” Artinya, atma yang telah berpisah dari jasad tidak dapat menuju surga bila belum disucikan dengan tirta pangentas.

Sementara itu Lontar Siwa Tattwa menegaskan: “Sang Hyang Siwa linggih ring tirta, sira ta pinaka pangentas papa, sira ta ngentasang atma ring sarira sekala.” Artinya, Sang Hyang Siwa berstana dalam air suci dan bertindak sebagai pengentas dosa penyebab keterikatan duniawi.

Dalam Lontar Sang Hyang Aji Pangentas, ditegaskan pula bahwa tirta pengentas harus bersumber dari lingga Siwa agar sah sebagai sarana pelepasan, sebab lingga adalah sumber amerta atau kehidupan abadi. Pandita atau Sulinggih yang membuat tirta ini harus melalui tahapan penyucian diri Mapulang Lingga atau Paripurna Diksa.

Pembuatan tirta pengentas melalui proses yang kompleks dengan sarana khusus. Di antaranya Priyuk berdiameter 10–20 cm yang ditulisi dasa aksara sebagai wadah utama; Payuk Pere yang ditulisi aksara dasa bayu; serta berbagai pripih seperti cendana, emas, perak, tembaga, dan besi.

“Bahan lainnya termasuk mirah (pudi), potongan tebu, potongan kayu gaharu, jepun, nagasari, serta sembilan atau dua belas jenis bulih padi,” ungkapnya.

Tak hanya itu, terdapat pula daun dapdap, bija ratus dari berbagai buah kering, kalpika, karowista, serta kelepikan bunga jepun putih. Dalam beberapa upacara, ditambahkan pula kitir Ulantaga, merujuk pada ajaran dalam Lontar Aji Pangentas yang menyebut Sang Hyang Ula Antaga sebagai pengentas roh yang berputar dalam samsara.

“Ula” melambangkan roh yang terus berputar, sementara “Antaga” melambangkan kekuatan Siwa yang mengakhiri putaran itu.

Selain sebagai sarana pembersihan, tirta pengentas membuka jalan Jiwatman memasuki Pitara Lokha, sebelum menuju tahapan berikutnya melalui upacara nyekah atau mamukur. Tahap ini menjadi momentum penting dalam keyakinan Hindu Bali, yakni upaya memurnikan dan membebaskan atma untuk mencapai moksa dan bersatu dengan Brahman.

Keberadaan toya dan tirta dalam upacara pengabenan memperlihatkan bagaimana ajaran-ajaran dalam lontar, Veda, dan tradisi lokal menyatu dalam praktik ritual yang hidup hingga kini.

“Upacara kematian dalam perspektif Hindu Bali bukan hanya proses perpisahan, melainkan perjalanan spiritual yang dipersiapkan dengan menjaga kesucian, ketelitian, dan penghormatan penuh terhadap leluhur dan sumber-sumber suci,” pungkasnya. (dik)

 

Advertisement

Artikel Terkait

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

YILI dan Joyday Dukung Gaya Hidup Sehat melalui Self-Care AMRun 5K 2026 di Bali

PT Yili Indonesia Dairy (YILI) bersama merek es krim Joyday turut berpartisipasi dalam kegiatan Self-Care Antimicrobial Resistance Awareness Run (AMRun) 5K 2026 yang diselenggarakan di kawasan Sanur, Bali awal November

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Giri Prasta Turun ke Lokasi Longsor Pelaga, Dua Korban Masih Dicari

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan anggota DPRD Badung Made Bima Nata meninjau lokasi longsor pada Senin (2/11).

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Gelar Seminar, Women’s World Banking Ungkap 23 Persen Usaha Perempuan Bertahan Lebih dari 5 Tahun

Riset tersebut menemukan hanya 44 persen pengusaha perempuan yang mampu mempertahankan usahanya selama tiga hingga lima tahun. Sementara itu, hanya 23 persen yang dapat bertahan lebih dari lima tahun.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer