alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Penempatan Binatang dalam Sesajen Suci Menurut Arah Mata Angin

Penggunaan binatang untuk keperluan banten biasanya dilakukan menurut tingkatan upacaranya itu sendiri. Hal ini karena dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, kegunaan binatang sebagai sarana yadnya umumnya dibagi menjadi dua jenis.

 

Pertama, hewan untuk sesajen suci atau lazim disebut dengan selam. Kemudian hewan untuk sesajen di bawah (ringsor) atau lazim disebut dengan kapir. Penggunaan binatang pun dalam setiap upacara juga berbeda tergantung tujuan dan maksud upacara tersebut diselenggarakan.

 

Veronika mengatakan, sifat binatang seolah menjadi referensi utama untuk digunakan dalam upacara keagamaan. Semisal, itik karena memeliki makna kesucian, seringkali digunakan untuk Selam. Sedangkan binatang yang dipakai sesajen di bawah (ringsor) misalnya ayam, sapi, kerbau, babi.

 

“Ini disebabkan watak dan prilakunya masing-masing, seperti ayam, yang dianggap memiliki watak rakus, tidak bisa hidup rukun dan selalu menang sendiri,” imbuhnya.

 

Ia menambahkan, dalam upacara caru misalnya, juga dipergunakan lima macam ayam yang disesuaikan dengan arah mata angin. Penggunaannya memiliki makna simbolik, untuk arah Timur, memakai ayam berwarna putih, di Selatan memakai ayam merah, di Barat memakai ayam berwarna kuning (putih siungan), di Utara menggunakan ayam berwarna Hitam (selem) dan di Tengah memakai ayam Brumbun (manca warna).

 

Penempatan binatang menurut arah mata angim mengandung makna untuk menyeimbangkan kesemestaan. Pada konteks kosmologis yang berkembang dalam segenap aktifitas hidup keseharian.

 

Arah mata angin menunjukkan adanya perilaku keselarasan hidup dalam masyarakat. Penggunaan jenis ayam berkaitan dengan jenis upacara yang diselenggarakan, baik dalam upacara Dewa yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Dalam upacara Bhuta Yadnya digunakan jenis ayam yang berkaitan dengan makna dan fungsinya masing-masing.

 

Dalam Lontar Tingkahing Caru disebutkan sesuai dengan tingkatannya dan sesuai dengan letak pengindraan Dewa Nawa Sanga Ayam Brumbun ditengah letaknya, diolah dijadikan ketengan 8, ditaruh menjadi satu tempat, Banten bayuannya semua 8, katiknya 8.

 

Ayam putih Siungan (kuning) di Barat letaknya, diolah dijadikan ketengan 7 menjadi satu tempat, banten bayuannya 7, katiknya semua 7. Ayam Bieng (merah) di Selatan letaknya, diolah menjadi ketengan 9, diletakkan menjadi satu tempat, katinya semua 9.

 

Ayam putih di Timur letaknya, diolah menjadi ketengan, ditempatkan menjadi satu tempat, katiknya semua 5. Ayam Hitam (selem) di utara letaknya, diolah menjadi ketengan 4, ditempatkan menjadi satu tempat, banten bayuannya 4.

 

“Secara niskala, ayam memiliki fungsi yang sangat banyak. Ayam digunakan sebagai media penyupatan, sebagai penyucian dan ayam sebagai pembayaran hutang atau rna,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Penggunaan binatang untuk keperluan banten biasanya dilakukan menurut tingkatan upacaranya itu sendiri. Hal ini karena dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, kegunaan binatang sebagai sarana yadnya umumnya dibagi menjadi dua jenis.

 

Pertama, hewan untuk sesajen suci atau lazim disebut dengan selam. Kemudian hewan untuk sesajen di bawah (ringsor) atau lazim disebut dengan kapir. Penggunaan binatang pun dalam setiap upacara juga berbeda tergantung tujuan dan maksud upacara tersebut diselenggarakan.

 

Veronika mengatakan, sifat binatang seolah menjadi referensi utama untuk digunakan dalam upacara keagamaan. Semisal, itik karena memeliki makna kesucian, seringkali digunakan untuk Selam. Sedangkan binatang yang dipakai sesajen di bawah (ringsor) misalnya ayam, sapi, kerbau, babi.

 

“Ini disebabkan watak dan prilakunya masing-masing, seperti ayam, yang dianggap memiliki watak rakus, tidak bisa hidup rukun dan selalu menang sendiri,” imbuhnya.

 

Ia menambahkan, dalam upacara caru misalnya, juga dipergunakan lima macam ayam yang disesuaikan dengan arah mata angin. Penggunaannya memiliki makna simbolik, untuk arah Timur, memakai ayam berwarna putih, di Selatan memakai ayam merah, di Barat memakai ayam berwarna kuning (putih siungan), di Utara menggunakan ayam berwarna Hitam (selem) dan di Tengah memakai ayam Brumbun (manca warna).

 

Penempatan binatang menurut arah mata angim mengandung makna untuk menyeimbangkan kesemestaan. Pada konteks kosmologis yang berkembang dalam segenap aktifitas hidup keseharian.

 

Arah mata angin menunjukkan adanya perilaku keselarasan hidup dalam masyarakat. Penggunaan jenis ayam berkaitan dengan jenis upacara yang diselenggarakan, baik dalam upacara Dewa yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Dalam upacara Bhuta Yadnya digunakan jenis ayam yang berkaitan dengan makna dan fungsinya masing-masing.

 

Dalam Lontar Tingkahing Caru disebutkan sesuai dengan tingkatannya dan sesuai dengan letak pengindraan Dewa Nawa Sanga Ayam Brumbun ditengah letaknya, diolah dijadikan ketengan 8, ditaruh menjadi satu tempat, Banten bayuannya semua 8, katiknya 8.

 

Ayam putih Siungan (kuning) di Barat letaknya, diolah dijadikan ketengan 7 menjadi satu tempat, banten bayuannya 7, katiknya semua 7. Ayam Bieng (merah) di Selatan letaknya, diolah menjadi ketengan 9, diletakkan menjadi satu tempat, katinya semua 9.

 

Ayam putih di Timur letaknya, diolah menjadi ketengan, ditempatkan menjadi satu tempat, katiknya semua 5. Ayam Hitam (selem) di utara letaknya, diolah menjadi ketengan 4, ditempatkan menjadi satu tempat, banten bayuannya 4.

 

“Secara niskala, ayam memiliki fungsi yang sangat banyak. Ayam digunakan sebagai media penyupatan, sebagai penyucian dan ayam sebagai pembayaran hutang atau rna,” pungkasnya. (habis)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/