alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

Sanggah Kemulan Nganten di Pedawa; Terbuat dari Bambu, Wajib setelah Menikah

Setiap laki-laki di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng yang sudah menikah wajib membuat sanggah kemulan baru. Namanya Sanggah Kemulan Nganten, yang diwujudkan dalam rangkaian upacara perkawinan.

BAGI masyarakat Pedawa, Sanggah Kemulan Nganten juga sering disebut dengan sanggah tiing yang berarti tempat pemujaan. Sanggah Kemulan Nganten terbuat dari bambu. Tempat pemujaan ini sebagai simbol dari pembentukan rumah tangga baru dari individu tersebut.

Tokoh adat Pedawa Wayan Sukrata mengatakan, Sanggah Kemulan Nganten di desanya wajib bagi laki-laki yang sudah menikah, baik dengan wanita desa setempat maupun mengambil dari luar desa. Menurut kepercayaan masyarakat di desanya  sebagai simbol purusa dan predana yang tidak dapat dipisahkan.

“Setiap laki-laki yang menikah dengan perempuan dari dalam maupun luar Desa Pedawa harus mendirikan Sanggah Kemulan Nganten dan juga harus ikut ngelinggihang (menempatkan, Red) sungsungan bhatara dari pihak istri dalam Sanggah Kemulan Ngantennya tersebut,” jelasnya.

Dari pihak laki-laki akan nunas atau meminta yos sebagai kawitan lokal yang sesuai dengan sungsungan bhatara dari mempelai perempuan ke anak lingsir atau orang tertua dalam yos pihak laki-laki tersebut maupun nunas ke balian (orang pintar) desa untuk kemudian bisa ngelinggihang (menempatkan) bersama di Sanggah Kemulan Nganten tersebut. “Secara simbolis sungsungan bhatara dari pihak laki-laki dan sungsungan bhatara dari pihak istri menikah di Sanggah Kemulan Nganten tersebut dan kemudian bisa memujanya bersama-sama,” sebutnya.

Sanggah Kemulan Nganten ini sangat sederhana. Semua bahan  terbuat dari bambu. Walaupun zaman sudah berkembang begitu pesat. Namun keberadaan Sanggah Kemulan Nganten ini masih tetap eksis. Sampai saat ini belum ditemukan adanya prasasti atau lontar-lontar mengenai sejarah ataupun mula-mula Sanggah Kemulan Nganten. Masyarakat Desa Pedawa tidak memiliki catatan mengenai sejarah keberadaan Sanggah Kemulan Nganten di desa setempat.

Namun ada cerita mengenai cikal-bakal sampai adanya Sanggah Kemulan Nganten di Desa Pedawa. Dikatakan  Sukrata  berawal dari seseorang mengalami kesakitan. Pada saat merasa kesakitan seseorang tersebut nunas (meminta) petunjuk ke balian.






Reporter: I Putu Mardika

Setiap laki-laki di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng yang sudah menikah wajib membuat sanggah kemulan baru. Namanya Sanggah Kemulan Nganten, yang diwujudkan dalam rangkaian upacara perkawinan.

BAGI masyarakat Pedawa, Sanggah Kemulan Nganten juga sering disebut dengan sanggah tiing yang berarti tempat pemujaan. Sanggah Kemulan Nganten terbuat dari bambu. Tempat pemujaan ini sebagai simbol dari pembentukan rumah tangga baru dari individu tersebut.

Tokoh adat Pedawa Wayan Sukrata mengatakan, Sanggah Kemulan Nganten di desanya wajib bagi laki-laki yang sudah menikah, baik dengan wanita desa setempat maupun mengambil dari luar desa. Menurut kepercayaan masyarakat di desanya  sebagai simbol purusa dan predana yang tidak dapat dipisahkan.

“Setiap laki-laki yang menikah dengan perempuan dari dalam maupun luar Desa Pedawa harus mendirikan Sanggah Kemulan Nganten dan juga harus ikut ngelinggihang (menempatkan, Red) sungsungan bhatara dari pihak istri dalam Sanggah Kemulan Ngantennya tersebut,” jelasnya.

Dari pihak laki-laki akan nunas atau meminta yos sebagai kawitan lokal yang sesuai dengan sungsungan bhatara dari mempelai perempuan ke anak lingsir atau orang tertua dalam yos pihak laki-laki tersebut maupun nunas ke balian (orang pintar) desa untuk kemudian bisa ngelinggihang (menempatkan) bersama di Sanggah Kemulan Nganten tersebut. “Secara simbolis sungsungan bhatara dari pihak laki-laki dan sungsungan bhatara dari pihak istri menikah di Sanggah Kemulan Nganten tersebut dan kemudian bisa memujanya bersama-sama,” sebutnya.

Sanggah Kemulan Nganten ini sangat sederhana. Semua bahan  terbuat dari bambu. Walaupun zaman sudah berkembang begitu pesat. Namun keberadaan Sanggah Kemulan Nganten ini masih tetap eksis. Sampai saat ini belum ditemukan adanya prasasti atau lontar-lontar mengenai sejarah ataupun mula-mula Sanggah Kemulan Nganten. Masyarakat Desa Pedawa tidak memiliki catatan mengenai sejarah keberadaan Sanggah Kemulan Nganten di desa setempat.

Namun ada cerita mengenai cikal-bakal sampai adanya Sanggah Kemulan Nganten di Desa Pedawa. Dikatakan  Sukrata  berawal dari seseorang mengalami kesakitan. Pada saat merasa kesakitan seseorang tersebut nunas (meminta) petunjuk ke balian.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/