alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Dua Tahapan Belajar Pangiwa, dari Maguru Sisia dan Berkat Anugerah

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mempelajari Ilmu Pangiwa memang membutuhkan proses. Tidak instan dan dibutuhkan kesabaran serta ketekunan. Ketika belajar Ilmu Pangiwa maka dipastikan ada sistem pengajarannya atau aguron-guronnya.

Cendikiawan Hindu Ida Bagus Made Baskara dari Griya Gunung Kawi, Manuaba Tampaksiring, Gianyar mengatakan, ada dua sistem pengajaran ketika memasuki konsep Pangiwa.

Pertama, Maguru Sisia, maka wajib datang pada gurunya untuk memohon pelajaran atau anugerah. Di sana yang bersangkutan diberikan tahapan oleh gurunya.

Kedua, ada yang belajar tanpa Guru Sisia. Artinya tidak perlu mendapat anugerah dari guru. Seperti dalam kisah Calon Arang Nyi Rangdeng Girah. Dalam posisi ini, Rangdeng Girah tidak memiliki guru, namun memohon langsung anugerah pada Bhatari Durga.

“Cuma, tidak banyak orang yang seperti itu (tanpa guru). Karena harus mendapatkan anugerah. Yang umum itu orang belajar Pangiwa Pangleakan langsung dengan guru sisia,” katanya.

Disinggung terkait tahapan orang belajar Pangleakan, Ida Bagus Baskara menyebut setidakanya ada 15 tahapan orang belajar Pangiwa atau Pangleakan. Kendati tidak merinci secara keseluruhan, namun ia menyampaikan garis besarnya.

Pertama, ada seseorang harus menjalankan prosesi Bhuta Sudi. Bhuta itu unsur dan sudi ini penyucian. Orang yang belajar Pangiwa karena mengolah api di dalam tubuh, maka dia harus belajar untuk menyucikan. Oleh karena itu, guru akan memberikan hari baik untuk menjalani ritual Bhuta Sudi ini.

“Guru lah yang memimpin apa saja prosesinya, apa yang dibutuhkan untuk menyucikan unsur aksara suci lapisan tubuh halus sebelum diolah, dasa bayu harus disucikan, sehingga bisa disucikan sebagai dasaring Pangiwa atau Panengen,” ungkapnya.

Kedua, memahami tentang tahapan Mandala. Menurutnya, ini adalah simbol suci. Ada Dewata Nawa Sanga Mandala, harus hafal. Orang yang belajar Pangiwa, ulunya (orientasinya) atau mandalanya adalah ke setra.

Ketiga, Cakra diartikan sebagai pusat tubuh halus dalam tubuh. Konon, pada teks sastra itu tertulis bahwa di dalam tubuh manusia ada pusat energi. Orang yang belajar Pangiwa atau Pangleakan harus memahami pusat penting dimana unsur itu diolah.

“Ketika mengolah unsur api, pada bagian tubuh tertentu harus difokuskan, ke semua unsur itu dipusatkan pada titik inilah. Entah dengan merafal mantra, pola pernapasan, dan sarana magis,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Mempelajari Ilmu Pangiwa memang membutuhkan proses. Tidak instan dan dibutuhkan kesabaran serta ketekunan. Ketika belajar Ilmu Pangiwa maka dipastikan ada sistem pengajarannya atau aguron-guronnya.

Cendikiawan Hindu Ida Bagus Made Baskara dari Griya Gunung Kawi, Manuaba Tampaksiring, Gianyar mengatakan, ada dua sistem pengajaran ketika memasuki konsep Pangiwa.

Pertama, Maguru Sisia, maka wajib datang pada gurunya untuk memohon pelajaran atau anugerah. Di sana yang bersangkutan diberikan tahapan oleh gurunya.

Kedua, ada yang belajar tanpa Guru Sisia. Artinya tidak perlu mendapat anugerah dari guru. Seperti dalam kisah Calon Arang Nyi Rangdeng Girah. Dalam posisi ini, Rangdeng Girah tidak memiliki guru, namun memohon langsung anugerah pada Bhatari Durga.

“Cuma, tidak banyak orang yang seperti itu (tanpa guru). Karena harus mendapatkan anugerah. Yang umum itu orang belajar Pangiwa Pangleakan langsung dengan guru sisia,” katanya.

Disinggung terkait tahapan orang belajar Pangleakan, Ida Bagus Baskara menyebut setidakanya ada 15 tahapan orang belajar Pangiwa atau Pangleakan. Kendati tidak merinci secara keseluruhan, namun ia menyampaikan garis besarnya.

Pertama, ada seseorang harus menjalankan prosesi Bhuta Sudi. Bhuta itu unsur dan sudi ini penyucian. Orang yang belajar Pangiwa karena mengolah api di dalam tubuh, maka dia harus belajar untuk menyucikan. Oleh karena itu, guru akan memberikan hari baik untuk menjalani ritual Bhuta Sudi ini.

“Guru lah yang memimpin apa saja prosesinya, apa yang dibutuhkan untuk menyucikan unsur aksara suci lapisan tubuh halus sebelum diolah, dasa bayu harus disucikan, sehingga bisa disucikan sebagai dasaring Pangiwa atau Panengen,” ungkapnya.

Kedua, memahami tentang tahapan Mandala. Menurutnya, ini adalah simbol suci. Ada Dewata Nawa Sanga Mandala, harus hafal. Orang yang belajar Pangiwa, ulunya (orientasinya) atau mandalanya adalah ke setra.

Ketiga, Cakra diartikan sebagai pusat tubuh halus dalam tubuh. Konon, pada teks sastra itu tertulis bahwa di dalam tubuh manusia ada pusat energi. Orang yang belajar Pangiwa atau Pangleakan harus memahami pusat penting dimana unsur itu diolah.

“Ketika mengolah unsur api, pada bagian tubuh tertentu harus difokuskan, ke semua unsur itu dipusatkan pada titik inilah. Entah dengan merafal mantra, pola pernapasan, dan sarana magis,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/