alexametrics
30.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Wajib Digunakan Saat Muput Pecaruan, Dibunyikan Bersamaan

Panca Genta mungkin tidak asing lagi didengar di telinga umat Hindu. Sarana ini wajib digunakan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa saat muput upacara pecaruan. Mulai dari tingkat Caru Panca Sata sampai dengan Caru Eka Dasa Rudra sebagai agem-ageman saat muput.

 

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Wiweka Natha dari Geriya Taman Taru Pinge, Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng menjelaskan, panca genta tersebut diantaranya Genta Uter, Genta Sangkha atau Sungu, Genta Ketipluk atau Damaru, Genta Orag dan Genta Padma.

 

Panca Genta ini sebagai Agem-ageman ini diperkuat dari berbagai Lontar. Seperti Lontar Iti Siwa Lingga, Lontar Tutur Dangdang Bungalan, Lontar Aji Janantaka, Lontar Resi Wesnawa, Lontar Tutur Lebur Sangsa hingga Lontar Purwa Bumi Kemulan.

 

Dalam Lontar Aji Janantaka (16.b-17.a) menyebutkan tentang Panca Genta, dan dalam isi Lontar ini dengan jelas menyebutkan:

 

“……raris kasunggi Ida Bhujangga Alit, tur kiniring wong kabeh sepanengakena saksana dateng ring salu-panjang, tur kalinggihang angayoning banten akeh, tur sregep ikang siwa-krana, saha sarwa sanjata kabeh, genta-wuter, gentaa-padma, genta-orag, genta-katipluk, genta[1]sangka, saha sarwa weda, tegep sarwa pangruwat letuhing jagat kabeh…..”

 

Terjemahannya :” …..lalu diboponglah Ida Bhujangga Alit, lalu di antar oleh banyak orang dan tiba di rumah atau balai panjang, dan duduk menghadapi banten (upakara) banyak, serta lengkap dengan Siwa Upakarana (alat pemujaan), serta lengkap dengan alat-alat perlengkapan untuk melaksanakan upacara, genta-uter, genta-padma, genta-orag, genta-katipluk (damaru), genta sangka (sungu), serta mantra-mantra weda siap untuk membersihkan atau meruwat bimi ini……….”

 

Dikatakan Ida Rsi, penggunaan panca genta juga tidak lepas dari bhisama Mpu Kuturan pada jaman Bali Kuna.. “Sira para Bhujangga Bali (sulinggih) iki warah angulun. Yan hana upacara mageng ring Bali, wenang kapuput dening Sang Katrini. Sira Sang katrini, nike peranda Siwa, Peranda Buda lan Peranda Bhujangga,” jelasnya, Selasa (24/8) siang.

 

Lanjutnya, Sang Siwa diberi senjata Agningalayang untuk menyucikan akasa atau swah loka, Sang Bodha diberi senjata Agnisara untuk menyucikan alam tengah bwah loka. Kemudian Sang Bujangga diberi senjata Agni Sinararasa untuk menyucikan sarwaprani di alam bawah atau bhur loka. Ini disebut Sang Tri Bhuwana Katon.

 

 

Sulinggih dari Ida Bhujangga wenang mreteka jagat atau menyucikan bhur loka atau alam bawah. Kepuputang dening panca bajra. Yakni Genta Sungu, Genta Orag, Ketipluk, Bajra Uter dan Genta Padma.

 

Ida Rsi yang melunggih sejak tahun 2014 ini mengatakan Genta Sungu disuarakan untuk mengundang para bhuta kala. Kemudian Ketipluk untuk ngupepira sarwa mupas (mekuping atau bertelinga), Genta Orag ngupa pira sarwa mupas atau biantang menyengat (ngacel), Bajra Uter diusarakan untuk mengundang Dewata Nawa Sanga dan Bajra Padma untuk mengundang Ida Sang Hyang Widhi.

 

“Panca Genta juga menarik dan mengumpulkan roh-roh alam bawah seperti setan, tonya, memedi, bhuta kala, dan roh-roh yang mengganggu alam ini, untuk dibersihkan, dan berfungsi untuk “Nyomya” atau meng inisiasi para roh-roh jahat dan roh alam bawah, agar sifat Bhuta berubah menjadi sifat Dewa.” ujar mantan Perawat di RSUD Buleleng ini.

 

Selama ini, proses mendapatkan bajra uter itu biasanya diperoleh lewat paica. Yakni lewat yoga, tapa brata semadhi. Sedangkan sekarang bisa didapatkan dengan cara membeli, karena memang ada yang membuatnya.”Sekarang banyak yang membuatnya,” paparnya. (bersambung)


Panca Genta mungkin tidak asing lagi didengar di telinga umat Hindu. Sarana ini wajib digunakan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa saat muput upacara pecaruan. Mulai dari tingkat Caru Panca Sata sampai dengan Caru Eka Dasa Rudra sebagai agem-ageman saat muput.

 

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Wiweka Natha dari Geriya Taman Taru Pinge, Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng menjelaskan, panca genta tersebut diantaranya Genta Uter, Genta Sangkha atau Sungu, Genta Ketipluk atau Damaru, Genta Orag dan Genta Padma.

 

Panca Genta ini sebagai Agem-ageman ini diperkuat dari berbagai Lontar. Seperti Lontar Iti Siwa Lingga, Lontar Tutur Dangdang Bungalan, Lontar Aji Janantaka, Lontar Resi Wesnawa, Lontar Tutur Lebur Sangsa hingga Lontar Purwa Bumi Kemulan.

 

Dalam Lontar Aji Janantaka (16.b-17.a) menyebutkan tentang Panca Genta, dan dalam isi Lontar ini dengan jelas menyebutkan:

 

“……raris kasunggi Ida Bhujangga Alit, tur kiniring wong kabeh sepanengakena saksana dateng ring salu-panjang, tur kalinggihang angayoning banten akeh, tur sregep ikang siwa-krana, saha sarwa sanjata kabeh, genta-wuter, gentaa-padma, genta-orag, genta-katipluk, genta[1]sangka, saha sarwa weda, tegep sarwa pangruwat letuhing jagat kabeh…..”

 

Terjemahannya :” …..lalu diboponglah Ida Bhujangga Alit, lalu di antar oleh banyak orang dan tiba di rumah atau balai panjang, dan duduk menghadapi banten (upakara) banyak, serta lengkap dengan Siwa Upakarana (alat pemujaan), serta lengkap dengan alat-alat perlengkapan untuk melaksanakan upacara, genta-uter, genta-padma, genta-orag, genta-katipluk (damaru), genta sangka (sungu), serta mantra-mantra weda siap untuk membersihkan atau meruwat bimi ini……….”

 

Dikatakan Ida Rsi, penggunaan panca genta juga tidak lepas dari bhisama Mpu Kuturan pada jaman Bali Kuna.. “Sira para Bhujangga Bali (sulinggih) iki warah angulun. Yan hana upacara mageng ring Bali, wenang kapuput dening Sang Katrini. Sira Sang katrini, nike peranda Siwa, Peranda Buda lan Peranda Bhujangga,” jelasnya, Selasa (24/8) siang.

 

Lanjutnya, Sang Siwa diberi senjata Agningalayang untuk menyucikan akasa atau swah loka, Sang Bodha diberi senjata Agnisara untuk menyucikan alam tengah bwah loka. Kemudian Sang Bujangga diberi senjata Agni Sinararasa untuk menyucikan sarwaprani di alam bawah atau bhur loka. Ini disebut Sang Tri Bhuwana Katon.

 

 

Sulinggih dari Ida Bhujangga wenang mreteka jagat atau menyucikan bhur loka atau alam bawah. Kepuputang dening panca bajra. Yakni Genta Sungu, Genta Orag, Ketipluk, Bajra Uter dan Genta Padma.

 

Ida Rsi yang melunggih sejak tahun 2014 ini mengatakan Genta Sungu disuarakan untuk mengundang para bhuta kala. Kemudian Ketipluk untuk ngupepira sarwa mupas (mekuping atau bertelinga), Genta Orag ngupa pira sarwa mupas atau biantang menyengat (ngacel), Bajra Uter diusarakan untuk mengundang Dewata Nawa Sanga dan Bajra Padma untuk mengundang Ida Sang Hyang Widhi.

 

“Panca Genta juga menarik dan mengumpulkan roh-roh alam bawah seperti setan, tonya, memedi, bhuta kala, dan roh-roh yang mengganggu alam ini, untuk dibersihkan, dan berfungsi untuk “Nyomya” atau meng inisiasi para roh-roh jahat dan roh alam bawah, agar sifat Bhuta berubah menjadi sifat Dewa.” ujar mantan Perawat di RSUD Buleleng ini.

 

Selama ini, proses mendapatkan bajra uter itu biasanya diperoleh lewat paica. Yakni lewat yoga, tapa brata semadhi. Sedangkan sekarang bisa didapatkan dengan cara membeli, karena memang ada yang membuatnya.”Sekarang banyak yang membuatnya,” paparnya. (bersambung)


Most Read

Artikel Terbaru

/