Minggu, 28 Nov 2021
Bali Express
Home / Balinese
icon featured
Balinese
Ritual Makala-kalaan dalam Pawiwahan (2)

Benang Putih dalam Mekala-kalaan Simbol Pembatas Waktu dan Jarak

26 November 2021, 08: 50: 26 WIB | editor : I Dewa Gede Rastana

Benang Putih dalam Mekala-kalaan Simbol Pembatas Waktu dan Jarak

Dosen Filsafat Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan (Dok. Bali Express)

Share this      

DALAM makala-kalaan, sarana berupa benang putih juga tidak boleh dilupakan. Seperti sarana lainnya, benang putih juga memiliki makna. Pengantin melewati atau memutus benang tersebut sebanyak tiga kali.

Dikatakan Dosen Filsafat Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja Putu Ariyasa Darmawan, benang putih memiliki makna sebagai pembatas, yaitu pembatas waktu, dan pembatas jarak. Pembatas waktu maksudnya adalah sebagai batas antara waktu masih muda (lajang) dengan waktu hidup berumah tangga.

Pada waktu  lajang (brahmacari) tidak banyak kewajiban yang dimiliki, namun setelah hidup berumah tangga (grhasta) maka ada empat kewajiban yang harus dipenuhi. Seperti melaksanakan upacara yadnya, merawat orang tua sampai menyama braya. Sedangkan pembatas jarak bermakna bahwa pada saat hidup lajang tidak ada jarak untuk bergaul, setiap orang boleh bergaul atau berteman dengan siapa saja. Namun setelah hidup berumah tangga maka tidak memiliki kebebasan untuk bergaul dengan setiap orang, memiliki jarak hubungan dengan lawan jenis.

Baca juga: Duduk di Bale Gajah Dikaitkan Mejaya-Jaya, Ini Kata PHDI Pusat

Selain itu ada penyegjeg. Penyegjeg adalah simbol permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi supaya sang pengantin dianugerahkan perilaku yang bersifat jujur, bertindak selalu berdasarkan suara budinya, karena mulai terjun untuk bermasyarakat.

Isi penyegjeg umumnya beras, benang, tingkih, pangi, porosan, tunas kelapa, tunas pohon pinang, pohon keladi, pohon kunyit, pohon endong. Harapannya, agar rumah tangga pasangan pengantin cepat mendapatkan keturunan. Ada juga sarana penegteg yang merupakan sebuah bakul di dalamnya berisi sebuah nasi tumpeng, jajan, pisang, tebu, buah-buahan, peras, tulung sayut, canang burat wangi, lenga wangi, berisi banten danan, penyeneng, dan sampian naga sari.

Upacara mekala-kalaan yang dijalankan oleh kedua pengantin juga menggunakan uparengga berupa sapu lidi sebanyak tiga katih (batang). Sapu lidi ini dipegang oleh pengantin pria sambil berjalan di belakang pengantin wanita. Pada saat kedua pengantin berjalan mengelilingi sanggah surya sebanyak tiga kali,  saat itulah pengantin pria mencemeti pengantin wanita. Makannya adalah pengantin pria memberi semangat kepada pengantin wanita agar dalam mengarungi kehidupan berumah tangga selalu bekerja keras untuk menghidupi seluruh keluarga.

Digunakan juga sarana sambuk (serabut) yang dibelah tiga. Di dalamnya diisi sebutir telur bebek, kemudian dicakup kembali dan diikat dengan benang tri datu. Pada saat upacara  berlangsung, serabut kelapa itu ditendang oleh kedua pengantin, yang disebut matanjung sambuk, masing-masing sebanyak tiga kali, setelah itu diduduki secara simbolis oleh pengantin wanita

Secara filosofis, saat menjalani kehidupan berumah tangga pasti ada rintangan yang menghadang. Namun harus disikapi dengan sabar serta bertekad mempertahankan ikatan perkawinan yang telah disepakati bersama.

Saat makala-kalaan juga tak lepas dari prosesi medagang-dagangan. Medagang-dagangan dilakukan oleh pengantin pria dengan pengantin wanita. Di dalam medagang-dagangan terdapat aktivitas tawar-menawar dan selanjutnya jual beli.

Akhir dari medagang-dagangan merobek tikeh dadakan. Medagang-dagangan kesepakatan, yaitu kelak setelah berumah tangga segala sesuatu harus diputuskan dengan musyawarah mufakat. “Baik suami maupun istri harus menghilangkan atau menekan egonya supaya kesepakatan atau musyawarah mufakat dapat diwujudkan,” pungkasnya.(habis)

(bx/dik/ras/JPR)


Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia