Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meru Simbol Alam Semesta, Terungkap dalam Lontar Andha Bhuana

I
Penulis: I Putu Mardika❯
Pelinggih dengan atap Meru di Pura Ulun Danu Tamblingan (I Putu Mardika/Bali Express)
Pelinggih dengan atap Meru di Pura Ulun Danu Tamblingan (I Putu Mardika/Bali Express)

Advertisement

BALIEXPRESS.ID-Meru menjadi salah satu ornament yang ditemukan di tempat suci dengan beragam tingkatan. Secara filosofis, meru merupakan simbol Andha Bhuana atau alam semesta dan tingkatannya lengkap dengan tingkatannya sebagai simbol lapisan alam.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan penyebutan kata meru terungkap dalam Lontar Andha Bhuana. Dalam lontar tersebut diuraikan bahwa arti simbolis atau filsafat Meru sebagai berikut:

“Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwibha andhabhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit”.

Advertisement

Terjemahannya: Oleh karena itu, Meru berasal dari kata, me, berarti meme atau ibu atau pradana tattwa, sedangkan ru, berarti guru berarti bapak atau purusa tattwa, sehingga penggabungannya dari Meru memiliki arti batur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol andha bhuana (alam semesta), tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam, yaitu bhuana agung dan bhuana alit”.

Lanjutnya, Lontar Andha Bhuana bahwa Meru memiliki dua makna simbolis, yaitu Meru sebagai simbolisasi dari cikal-bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan bahwa Meru mempunyai dua makna.

Advertisement

Pertama, Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru dan gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau Papulaning Sarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekawin Dharma Sunia dan Usana Bali.

“Bila ditelisik, Meru sebagai Dewa Pratista itu berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat dalam komplek Pura-Pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga,” jelasnya.

Makna selanjutnya bahwa Meru melambangkan Ibu dan Bapak sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana. Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi, yaitu unsure  Pradana tattwa dan Bapak mengandung makna Aji Akasa, yaitu unsur purusa tattwa.

Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan Meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di komplek Pura-Pura Pedarman Besakih.

Dalam hal ini, Meru sebagai Atma Pratista berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa pitara atau roh yang telah melalui proses upacara, ngaben, kemudian menyusul upacara memukur dan ngelinggihang Dewa Pitara. Setelah upacara tingkat terakhir inilah baru dibuatkan Meru Gedong Kemimitan.

Advertisement

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer