Macolek-Colekan Adeng dari Duta Buleleng Curi Perhatian di PKB 2026

BALIEXPRESS.ID - Di tengah kemegahan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Buleleng dari Sanggar Seni Suara Mustika justru menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi sarat kenangan.
Mereka mengangkat permainan tradisional khas Banyuning, Macolek-Colekan Adeng, ke atas panggung pertunjukan terbesar di Bali.
Permainan yang dahulu akrab dimainkan anak-anak di lingkungan Desa Banyuning itu menjadi daya tarik tersendiri.
Baca Juga: Lukisan Ketut Polih Dihibahkan ke Desa Sayan, Wujud Kepedulian Seniman Lestarikan Budaya
Bukan sekadar menjadi bagian dari tari dolanan, Mecolek-Colekan Adeng membawa kembali suasana bermain yang mulai jarang ditemui di tengah dominasi gawai dan permainan digital.
Ketua Sanggar Seni Suara Mustika, Made Wira Okta Atmadi, menjelaskan bahwa permainan tersebut sebenarnya berakar dari tradisi yang dilakukan saat piodalan di Pura Pemayun Banyuning.
Seiring waktu, tradisi itu berkembang menjadi bagian dari keseharian anak-anak.
Dalam berbagai permainan tradisional seperti macecimpedan maupun maatma-atmaan, anak yang kalah biasanya akan menerima hukuman ringan berupa macolek-colekan adeng.
Hukuman itu dilakukan dengan suasana penuh canda dan tawa sehingga justru menjadi bagian yang paling ditunggu dalam permainan.
“Dari kebiasaan sederhana itulah kemudian lahir ide untuk mengemasnya menjadi sebuah tari dolanan. Nilai yang ingin kami angkat adalah kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan anak-anak,” ujarnya.
Di tengah banyaknya permainan tradisional yang mulai ditinggalkan, Sanggar Seni Suara Mustika justru melihat Macolek-Colekan Adeng sebagai warisan budaya yang layak diperkenalkan kepada generasi sekarang.



