Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi Kawas di Silangjana: Simbol Harmoni Panca Dewata yang Terus Dijaga

I
Penulis: I Putu Mardika❯
Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Advertisement

BALIEXPRESS.ID-Tradisi upakara kawas yang masih lestari di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, tidak hanya dipandang sebagai bagian dari rangkaian ritual keagamaan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang sarat makna filosofis.

Di balik setiap sajian kawas tersimpan ajaran tentang keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama yang diwujudkan melalui konsep Panca Dewata.

Bagi masyarakat Desa Silangjana, kawas merupakan simbol penyatuan energi alam semesta yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas spiritual desa.

Advertisement

Perbekel Desa Silangjana, Komang Suparma, menjelaskan bahwa upakara kawas memiliki nilai yang jauh melampaui aspek kuliner maupun tradisi semata. Menurutnya, setiap unsur dalam kawas telah diwariskan secara turun-temurun dengan makna yang sangat mendalam.

"Kawas adalah warisan leluhur yang mengajarkan keharmonisan. Melalui warna, bahan, dan tata letaknya, masyarakat diajak memahami bahwa kehidupan harus selalu selaras dengan kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta keseimbangan alam semesta," ujarnya.

Ia menuturkan, representasi Panca Dewata tampak jelas pada warna lawar yang disajikan. Lawar putih melambangkan Dewa Iswara di timur, merah sebagai simbol Dewa Brahma di selatan, kuning untuk Dewa Mahadewa di barat, hitam melambangkan Dewa Wisnu di utara, serta brumbun sebagai simbol Dewa Siwa di tengah.

Advertisement

Penataan sajian mengikuti arah mata angin sehingga membentuk mandala suci yang menjadi gambaran hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos.

Tidak hanya warna, setiap bahan yang digunakan juga mengandung filosofi tersendiri. Kencur melambangkan kesucian, kunyit menjadi simbol keberanian, lengkuas mencerminkan kekuatan, jahe melambangkan keseimbangan, bawang merah menggambarkan kebijaksanaan, sementara jeruk limau menjadi simbol pemersatu seluruh unsur kehidupan.

Berbagai bahan tersebut dipadukan dengan lawar, urab, gecok, jejeruk, hingga jukut daun belimbing yang masing-masing merepresentasikan pengorbanan, kesucian batin, kemakmuran, dan pemeliharaan alam.

Komang Suparma menegaskan bahwa pelestarian upakara kawas menjadi tanggung jawab bersama agar generasi muda tidak hanya mengenal bentuk ritualnya, tetapi juga memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Advertisement

Artikel Terkait

  Uniknya Tradisi Megibung di Desa Pumahan, Sukasada  Krama Cuntaka tak Boleh Ikut, Dilaksanakan saat Pujawali

Uniknya Tradisi Megibung di Desa Pumahan, Sukasada Krama Cuntaka tak Boleh Ikut, Dilaksanakan saat Pujawali

Tradisi Megibung tidak hanya dilaksanakan di desa desa Kabupaten Karangasem. Namun, tradisi ini juga bisa ditemukan di Desa Adat Pumahan, Kecamatan Sukasada yang dilaksanakan bertepatan pada hari Tumpek Landep. Tradisi m

Tradisi Tiban di Banyuwangi: Cambuk Beradu, Warisan Leluhur Tetap Terjaga

Tradisi Tiban di Banyuwangi: Cambuk Beradu, Warisan Leluhur Tetap Terjaga

Dua warga berdiri berhadapan di atas panggung persegi yang dikelilingi hamparan sawah. Cambuk di tangan mereka diayunkan secara bergantian. Suara cambuk yang mengenai tubuh pun terdengar di tengah keramaian warga.

Tradisi Ngerebeg Api Lodtunduh  Siat Api untuk Menjaga Keseimbangan Desa

Tradisi Ngerebeg Api Lodtunduh Siat Api untuk Menjaga Keseimbangan Desa

Desa Adat Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar masih melestarikan Tradisi Ngerebeg Api Lodtunduh. Tradisi yang juga populer disebut Siat Api ini bukan sekadar menjadi bagian dari prosesi, tetapi memiliki makna simbolis seb

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer