Rumah Adat Sridandan dan Msegali, Dirancang Sekolah Adat Manik Empul, Gunakan Ratusan Bambu

BALIEXPRESS.ID-Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng semakin menguatkan perannya dalam merekonstruksi budaya yang terkikis oleh gempuran jaman. Setelah sukses merekonstruksi tiga jenis tari Rejang sakral yang sudah 50 tahun hilang, kini dilanjutkan dengan merekonstruksi rumah adat Sridandan dan Masegali yang nyaris punah.
Masyarakat Pedawa memang mengenal tiga jenis rumah adat, yakni Sridandan, Bandung Rangki dan Masegali. Namun, saat ini jenis Bandung Rangki masih tersisia sekitar 27 unit di Pedawa, sedangkan Sridandan hanya tersisa dua unit, sedangkan jenis Masegali ini yang sudah tidak ada.
Ketua Sekolah Adat Manik Empul Pedawa, Wayan Sadyana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan, pihaknya melakukan restorasi ini melibatkan sejumlah pihak. Seperti Yayasan Wisnu dan Tenure Facility
“Awalnya, para orang tua menceritakan ada beberapa rumah adat yang hilang. Kemudian, kami telusuri, dan ditemukan tipe Rumah Adat Masegali, yang sama sekali tidak bisa ditemukan. Sedangkan bandung rangki ada 27 unit, dan Sridandan sisa 2 unit,” ungkap Sadnyana.
Atas kondisi itu, pihaknya pun membuat kajian atas punahnya kedua rumah adat kebanggaan masyarakat Pedawa. Demi mewujudkan kembali rumah adat itu, pihaknya bekerjasama dengan Yayasna Wisnu dengan merekonstruksi rumah yang langka ini.
Baca Juga: Perkuat Layanan Kesehatan untuk Masyarakat dan Wisatawan, Diskes Badung Tingkatkan Kesiapsiagaan
“Kami diseminasikan di hadapan para tetua adat untuk menyesuaikan ukuran, bentuk, bahan baku, dan diputuskan bentuk rumahnya seperti ini,” ungkapnya.
Dijelaskan Sadyana, proses rekonstruksi rumah adat tersebut tidak dilakukan secara instan. Pembangunan membutuhkan waktu lebih dari empat bulan. Menariknya, prosesnya diawali dengan penelusuran pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan para tetua adat.
Sekolah Adat Manik Empul juga menelusuri keberadaan sejumlah perkampungan tua yang menjadi bagian dari sejarah permukiman masyarakat Pedawa.
Dari hasil penelusuran tersebut kemudian dibuat sketsa rumah adat. Sketsa tidak langsung diwujudkan dalam bentuk bangunan, tetapi terlebih dahulu didiskusikan dan dikaji bersama para tetua serta prajuru adat.
Ia menjelaskan, antara Bandung Rangki, Masegali dan Sridandan secara bentuk hampir sama. Namun, ada sejumlah perbedaan yang bisa dilihat sebagai acuan di bagian dalam rumah untuk membedakan.



