alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Sarati Banten Jro Ketut Untara, Belajar Banten Otodidak, Layani hampir Seluruh Bali

Tak banyak orang tertarik menjadi sarati banten. Sebab, selain harus memiliki minat yang kuat, juga harus diiringi dengan pemahaman akan sastra maupun tattwa sehingga banten yang dihasilkan penuh makna.

 

Rupanya, menjadi sarati banten justru adalah cita-cita Jro Ketut Untara, sejak muda. Pria asal Banjar Tegal, Desa/Kecamatan Kubutambahan mengaku jika lingkungan sekitarnya sudah membentuknya untuk mendalami banten, lantaran para leluhurnya dahulu juga seorang sarati banten.

 

Tentu saja, hal ini tergolong langka. Bagaimana tidak, sarati banten di Bali umumnya selalu identic dengan kaum wanita. Namun, Jro Untara seolah mematahkan stigma tersebut, jika banten selalu erat kaitannya dengan wanita.

 

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Rabu (26/1) Jro Untara mengatakan dirinya memang sudah mendapat petunjuk dari leluhurnya terdahulu untuk menekuni profesi Sarati Banten. Sebab, dengan keahliannya dalam membuat banten, seorang sarati secara tidak langsung ngayah membantu melayani umat yang membutuhkan banten untuk yadnya.

 

Jro Untara menceritakan, ia sempat mengenyam pendidikan Diploma III di kampus STKIP Agama Hindu Singaraja sekitar tahun 1983. Keputusannya kuliah di kampus bernafaskan Agama Hindu tersebut tidak lain adalah untuk mendalami ilmu tentang tattwa banten yang bersumber dari pustaka suci baik lontar maupun naskah lainnya.

 

Benar saja, keputusannya itu tak hanya membuat ia paham tentang tata cara membuat berbagai jenis banten. Melainkan juga apa makna filosofis banten dan sarana upakara yang digunakan. Sehingga memutus rantai pemahaman “mula keto” yang sering dipahami masyarakat pada umumnya.

 

“Memang dari pendahulu sudah mengarahkan agar kesana (tertarik ke banten, Red). Makanya, tamat SMA langsung kuliah untuk mendapatkan ilmu tentang tatwa membuat banten dan mendalami sastra,” ungkapnya.

Sambil menyelam, minum air, di tengah upayanya belajar mendalami sastra, banten, ia juga mulai menerima berbagai pesanan banten dari berbagai kalangan masyarakat. Jenisnya beragam. Seperti banten tiga bulanan, banten melaspas rumah, melaspas penunggun karang sampai ngaben.

“Dulu kendalanya kan ada tukang banten, tetapi tidak ada pengarah, sehingga saya mencoba menjadi pengarahnya, dengan dibantu oleh para tukang banten,” katanya.

Rasa haus akan ilmu membuatnya mendalami berbagai sastra Bali, khususnya lontar yang memuat tentang banten. Ia mencoba menggalinya dari Gedong Kirtya. Disana, Jro Untara menelisik lebih jauh isi lontar Yama Purana, Yama Purana Tattwa, Yama Tattwa Atma, Dewa Tattwa. Berbagai rujukan sastra tentang banten ia dapatkan dari sana.

Selain belajar dari sastar, Jro Untara menimba ilmu dari para sulinggih-sulinggih di Bali. Seperti dari Geria Manuaba Kubutambahan, belajar juga dari tukang senior di Geria Sukasada, Geria Banjar.

“Kadang kalau saya mendapat pesanan membuat banten dalam jumlah besar, saya memanggil para tukang banten untuk membantu mengejakan banten tersebut secara bersama-sama. Disana juga secara tidak langsung belajar lagi,” kata ayah satu orang anak ini.

Banten-banten untuk yadnya yang sekupnya lebih besar tak luput dari pelajarannya. Ia mendalami belajar banten Catur, banten Bebangkit. Tidak hanya belajar dari geria di Buleleng. Namun juga geria di luar Buleleng, seperti Karangasem hingga Badung.

Uniknya, saat kuliah, ia kerap ngayah bersama kampusnya di pura-pura di Bali. Seperti saat pujawali Panca Wali Krama di Besakih, Upacara Tawur agung di Besakih.” Praktiknya langsung di pura, sehigga saya mempelajari setiap nama dan jenis banten yang tidak banyak orang tertarik untuk mendalaminya,” paparnya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Tak banyak orang tertarik menjadi sarati banten. Sebab, selain harus memiliki minat yang kuat, juga harus diiringi dengan pemahaman akan sastra maupun tattwa sehingga banten yang dihasilkan penuh makna.

 

Rupanya, menjadi sarati banten justru adalah cita-cita Jro Ketut Untara, sejak muda. Pria asal Banjar Tegal, Desa/Kecamatan Kubutambahan mengaku jika lingkungan sekitarnya sudah membentuknya untuk mendalami banten, lantaran para leluhurnya dahulu juga seorang sarati banten.

 

Tentu saja, hal ini tergolong langka. Bagaimana tidak, sarati banten di Bali umumnya selalu identic dengan kaum wanita. Namun, Jro Untara seolah mematahkan stigma tersebut, jika banten selalu erat kaitannya dengan wanita.

 

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Rabu (26/1) Jro Untara mengatakan dirinya memang sudah mendapat petunjuk dari leluhurnya terdahulu untuk menekuni profesi Sarati Banten. Sebab, dengan keahliannya dalam membuat banten, seorang sarati secara tidak langsung ngayah membantu melayani umat yang membutuhkan banten untuk yadnya.

 

Jro Untara menceritakan, ia sempat mengenyam pendidikan Diploma III di kampus STKIP Agama Hindu Singaraja sekitar tahun 1983. Keputusannya kuliah di kampus bernafaskan Agama Hindu tersebut tidak lain adalah untuk mendalami ilmu tentang tattwa banten yang bersumber dari pustaka suci baik lontar maupun naskah lainnya.

 

Benar saja, keputusannya itu tak hanya membuat ia paham tentang tata cara membuat berbagai jenis banten. Melainkan juga apa makna filosofis banten dan sarana upakara yang digunakan. Sehingga memutus rantai pemahaman “mula keto” yang sering dipahami masyarakat pada umumnya.

 

“Memang dari pendahulu sudah mengarahkan agar kesana (tertarik ke banten, Red). Makanya, tamat SMA langsung kuliah untuk mendapatkan ilmu tentang tatwa membuat banten dan mendalami sastra,” ungkapnya.

Sambil menyelam, minum air, di tengah upayanya belajar mendalami sastra, banten, ia juga mulai menerima berbagai pesanan banten dari berbagai kalangan masyarakat. Jenisnya beragam. Seperti banten tiga bulanan, banten melaspas rumah, melaspas penunggun karang sampai ngaben.

“Dulu kendalanya kan ada tukang banten, tetapi tidak ada pengarah, sehingga saya mencoba menjadi pengarahnya, dengan dibantu oleh para tukang banten,” katanya.

Rasa haus akan ilmu membuatnya mendalami berbagai sastra Bali, khususnya lontar yang memuat tentang banten. Ia mencoba menggalinya dari Gedong Kirtya. Disana, Jro Untara menelisik lebih jauh isi lontar Yama Purana, Yama Purana Tattwa, Yama Tattwa Atma, Dewa Tattwa. Berbagai rujukan sastra tentang banten ia dapatkan dari sana.

Selain belajar dari sastar, Jro Untara menimba ilmu dari para sulinggih-sulinggih di Bali. Seperti dari Geria Manuaba Kubutambahan, belajar juga dari tukang senior di Geria Sukasada, Geria Banjar.

“Kadang kalau saya mendapat pesanan membuat banten dalam jumlah besar, saya memanggil para tukang banten untuk membantu mengejakan banten tersebut secara bersama-sama. Disana juga secara tidak langsung belajar lagi,” kata ayah satu orang anak ini.

Banten-banten untuk yadnya yang sekupnya lebih besar tak luput dari pelajarannya. Ia mendalami belajar banten Catur, banten Bebangkit. Tidak hanya belajar dari geria di Buleleng. Namun juga geria di luar Buleleng, seperti Karangasem hingga Badung.

Uniknya, saat kuliah, ia kerap ngayah bersama kampusnya di pura-pura di Bali. Seperti saat pujawali Panca Wali Krama di Besakih, Upacara Tawur agung di Besakih.” Praktiknya langsung di pura, sehigga saya mempelajari setiap nama dan jenis banten yang tidak banyak orang tertarik untuk mendalaminya,” paparnya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/