alexametrics
25.4 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Mau Jadi Sulinggih? Minimal Umur 40 Tahun dan Terdaftar di PHDI

DENPASAR, BALI EXPRESS – Seorang sulinggih memiliki kedudukan yang sangat dihormati oleh umat Hindu. Selain melakukan dharmaning agama, seorang sulinggih juga harus melakukan dharmaning negara yaitu tata titi yang sesuai dengan pediksaan yang dikeluarkan oleh PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu.

Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali Pinandita Pasek Swastika menyebutkan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh umat untuk menjadi seorang sulinggih, di antaranya umur manimal 40 tahun. Pada umur 40 tahun, dalam catur asrama, maka orang tersebut sudah melalui Brahmacari dan Grahasta, menuju Wanaprahasta dan Bhiksuka. “Secara dharma agama, dalam usia tesebut seseorang sudah dianggap cukup mapan dalam segi ilmu dan pengetahuan agama,” jelasnya.

Dari segi pengalaman, sang calon sulinggih harus sudah memiliki pengalaman nganteb banten dalam berbagai upacara dan diterima oleh masyarakat. Seorang calon sulinggih keberadaannya harus diakui oleh desa Pakraman.

Baca Juga :  Usada Sato (6) : Ini Tanda Sapi yang Bisa Bikin Sial

“PHDI telah banyak melakukan penundaan pediksaan jika dalam verifikasi ditemukan syarat-syarat yang belum terpenuhi oleh calon sulinggih.  Salah satunya, umurnya masih di bawah 40 tahun,” imbuhnya.

Untuk dapat didiksa menjadi seorang sulinggih, umat yang sudah melalui proses tingkatan kawikon harus masuk ke dalam pasemetonan, maksimal selama tiga tahun. Hal ini dikecualikan untuk calon sulinggih yang nyambung rah, atau putra seorang sulinggih yang menggantikan tugas orang tuanya.

“Ada nyambung rah masih utuh atau sekantun nyeneng, jika Nabe Lanang Istri masih ada,  tetapi sudah ada pengganti karena merasa sudah tidak mampu melayani umat setiap hari. Ada juga nyambung rah ketapak waktu layon masih di bale, serta Nyambung Griya ketika Lanang dan Istri sudah tidak ada,” jelasnya.

Baca Juga :  Jadi Perbekel setelah Mohon Restu di Pura Dalem Bia

Setelah diperoleh kesepakatan untuk didiksa oleh pasemetonan, maka calon sulinggih harus didaftarkan  ke PHDI provinsi. Untuk bisa terdaftar ke PHDI, maka dalam pariksa yang dilakukan oleh pasemetonan wajib dihadiri oleh semua komponen dari manggala kepala dusun, desa pakraman dan kabupaten. “Pariksa ini sebagai pra pengumuman bahwa di desa tersebut akan ada griya beserta sulinggihnya,” ujarnya.

PHDI, MDA, dan kementrian agama merupakan lembaga yang bertugas untuk membimbing sulinggih tersebut. Dengan prosesi tersebut maka sulinggih sudah tercatat di PHDI provinsi. “Setiap sulinggih yang tercatat akan mendapatkan hak batuan social. Jika ada kegiatan keagamaan di kabupaten, provinsi berhak menunjuk sulinggih yang tercatat untuk muput karya tersebut. Apabila tidak tercatat di PHDI, pihaknya tidak akan menjadi tanggung jawab PHDI provinsi,” paparnya.


DENPASAR, BALI EXPRESS – Seorang sulinggih memiliki kedudukan yang sangat dihormati oleh umat Hindu. Selain melakukan dharmaning agama, seorang sulinggih juga harus melakukan dharmaning negara yaitu tata titi yang sesuai dengan pediksaan yang dikeluarkan oleh PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu.

Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali Pinandita Pasek Swastika menyebutkan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh umat untuk menjadi seorang sulinggih, di antaranya umur manimal 40 tahun. Pada umur 40 tahun, dalam catur asrama, maka orang tersebut sudah melalui Brahmacari dan Grahasta, menuju Wanaprahasta dan Bhiksuka. “Secara dharma agama, dalam usia tesebut seseorang sudah dianggap cukup mapan dalam segi ilmu dan pengetahuan agama,” jelasnya.

Dari segi pengalaman, sang calon sulinggih harus sudah memiliki pengalaman nganteb banten dalam berbagai upacara dan diterima oleh masyarakat. Seorang calon sulinggih keberadaannya harus diakui oleh desa Pakraman.

Baca Juga :  Simbol Purusa Pradana Tertuang Mulai dari Rajah, Banten hingga Mudra

“PHDI telah banyak melakukan penundaan pediksaan jika dalam verifikasi ditemukan syarat-syarat yang belum terpenuhi oleh calon sulinggih.  Salah satunya, umurnya masih di bawah 40 tahun,” imbuhnya.

Untuk dapat didiksa menjadi seorang sulinggih, umat yang sudah melalui proses tingkatan kawikon harus masuk ke dalam pasemetonan, maksimal selama tiga tahun. Hal ini dikecualikan untuk calon sulinggih yang nyambung rah, atau putra seorang sulinggih yang menggantikan tugas orang tuanya.

“Ada nyambung rah masih utuh atau sekantun nyeneng, jika Nabe Lanang Istri masih ada,  tetapi sudah ada pengganti karena merasa sudah tidak mampu melayani umat setiap hari. Ada juga nyambung rah ketapak waktu layon masih di bale, serta Nyambung Griya ketika Lanang dan Istri sudah tidak ada,” jelasnya.

Baca Juga :  Unud-Polda Buat Hand Sanitizer Berbahan Arak Bali

Setelah diperoleh kesepakatan untuk didiksa oleh pasemetonan, maka calon sulinggih harus didaftarkan  ke PHDI provinsi. Untuk bisa terdaftar ke PHDI, maka dalam pariksa yang dilakukan oleh pasemetonan wajib dihadiri oleh semua komponen dari manggala kepala dusun, desa pakraman dan kabupaten. “Pariksa ini sebagai pra pengumuman bahwa di desa tersebut akan ada griya beserta sulinggihnya,” ujarnya.

PHDI, MDA, dan kementrian agama merupakan lembaga yang bertugas untuk membimbing sulinggih tersebut. Dengan prosesi tersebut maka sulinggih sudah tercatat di PHDI provinsi. “Setiap sulinggih yang tercatat akan mendapatkan hak batuan social. Jika ada kegiatan keagamaan di kabupaten, provinsi berhak menunjuk sulinggih yang tercatat untuk muput karya tersebut. Apabila tidak tercatat di PHDI, pihaknya tidak akan menjadi tanggung jawab PHDI provinsi,” paparnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/