alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Gelar Seminar Yadnya, Disbud Badung Ingin Luruskan Persepsi Upakara

BALI EXPRESS, MANGUPURA – Dinas Kebudayaan (Disbud) Badung ingin meluruskan persepsi masyarakat, terutama umat Hindu seputar sarana upakara yadnya. Diharapkan, masyarakat benar-benar mengerti makna, fungsi, serta upakara dan upacara yadnya. Terlebih membuat dan melaksanakannya sesuai kemampuan.

Hal itu disinggung Kadisbud Badung, IB Anom Bhasma saat pembukaan seminar dan pelatihan tentang tata cara pembuatan sarana ulam upakara dan pelaksanaan upacara yadnya. Kegiatan bertempat di Museum Yadnya yang terletak di sebelah barat Pura Taman Ayun, Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Senin (27/5).

“Kami dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung ingin meluruskan persepsi di masyarakat dengan menghadirkan narasumber untuk memberikan pengetahuan tentang ukuran upakara itu seperti apa. Juga bagaimana tingkatan sesuai dengan kemampuan di dalam pelaksanaannya dan sarana upakaranya berdasarkan sastra,” ungkap Anom Bhasma yang juga menjadi narasumber.

Hal ini, menurutnya, sangat penting. Ia berharap ke depan masyarakat betul-betul memahami makna dan filosofi dari sebuah upakara. “Kami berharap masyarakat yang melaksanakan yadnya mengerti dan memahami makna filosofi dari upakara dalam pelaksanaan upacara yadnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, pejabat asal Desa Taman, Abiansemal ini juga berharap generasi muda, khususnya siswa-siswi pelajar di Kabupaten Badung, mengetahui tentang upacara yadnya, bagaimana proses membuat sarana ulam upakara.

 “Ini akan kami latih, ke depannya agar generasi muda Kabupaten Badung mengetahui sejak dini makna dan fungsi upakara dalam pelaksanaan upacara yadnya,” imbuhnya.

Ketua panitia pelaksana seminar, Ida Ayu Komang Kalpika, dalam laporannya menyampaikan dasar pelaksanaan seminar ini adalah peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 5 Tahun 2019. Juga Surat Keputusan Bupati Badung tentang pembentukan panitia, penunjukan narasumber dan peserta seminar pengelolaan kekayaan budaya, pembuatan ulam upakara dan belajar bersama di Museum Yadnya.

Lebih lanjut dikatakan, seminar tentang tata cara pembuatan sarana ulam upakara dan pelaksanaan upacara yadnya ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para peserta seminar pada kehidupan sehari-hari dalam melaksanakan upacara yadnya.

 “Semoga dengan dilaksanakannya seminar ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan para peserta ke depannya di Kabupaten Badung dalam melaksanakan upakara dan upacara yadnya,” harapnya.

Para narasumber yang dilibatkan dalam seminar ini, yakni Ida Pedanda Gede Giri Dwija Guna dari Gria Giri Sari Uma Ngenjung Angantaka, Badung dan Kepala Kantor Kementerian Agama Badung I Gusti Agung Gede Manguningrat. Seminar diikuti bendesa adat se-Kabupaten Badung, para serati banten serta para siswa-siswi pelajar SMA dan SMP di Kabupaten Badung. Seminar diisi dengan dharmatula dan tanya jawab yang dilaksanakan beberapa tahapan, mulai dari Senin (27/5) hingga Rabu 31 Juli 2019.


BALI EXPRESS, MANGUPURA – Dinas Kebudayaan (Disbud) Badung ingin meluruskan persepsi masyarakat, terutama umat Hindu seputar sarana upakara yadnya. Diharapkan, masyarakat benar-benar mengerti makna, fungsi, serta upakara dan upacara yadnya. Terlebih membuat dan melaksanakannya sesuai kemampuan.

Hal itu disinggung Kadisbud Badung, IB Anom Bhasma saat pembukaan seminar dan pelatihan tentang tata cara pembuatan sarana ulam upakara dan pelaksanaan upacara yadnya. Kegiatan bertempat di Museum Yadnya yang terletak di sebelah barat Pura Taman Ayun, Desa Mengwi, Kabupaten Badung, Senin (27/5).

“Kami dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung ingin meluruskan persepsi di masyarakat dengan menghadirkan narasumber untuk memberikan pengetahuan tentang ukuran upakara itu seperti apa. Juga bagaimana tingkatan sesuai dengan kemampuan di dalam pelaksanaannya dan sarana upakaranya berdasarkan sastra,” ungkap Anom Bhasma yang juga menjadi narasumber.

Hal ini, menurutnya, sangat penting. Ia berharap ke depan masyarakat betul-betul memahami makna dan filosofi dari sebuah upakara. “Kami berharap masyarakat yang melaksanakan yadnya mengerti dan memahami makna filosofi dari upakara dalam pelaksanaan upacara yadnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, pejabat asal Desa Taman, Abiansemal ini juga berharap generasi muda, khususnya siswa-siswi pelajar di Kabupaten Badung, mengetahui tentang upacara yadnya, bagaimana proses membuat sarana ulam upakara.

 “Ini akan kami latih, ke depannya agar generasi muda Kabupaten Badung mengetahui sejak dini makna dan fungsi upakara dalam pelaksanaan upacara yadnya,” imbuhnya.

Ketua panitia pelaksana seminar, Ida Ayu Komang Kalpika, dalam laporannya menyampaikan dasar pelaksanaan seminar ini adalah peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 5 Tahun 2019. Juga Surat Keputusan Bupati Badung tentang pembentukan panitia, penunjukan narasumber dan peserta seminar pengelolaan kekayaan budaya, pembuatan ulam upakara dan belajar bersama di Museum Yadnya.

Lebih lanjut dikatakan, seminar tentang tata cara pembuatan sarana ulam upakara dan pelaksanaan upacara yadnya ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para peserta seminar pada kehidupan sehari-hari dalam melaksanakan upacara yadnya.

 “Semoga dengan dilaksanakannya seminar ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan para peserta ke depannya di Kabupaten Badung dalam melaksanakan upakara dan upacara yadnya,” harapnya.

Para narasumber yang dilibatkan dalam seminar ini, yakni Ida Pedanda Gede Giri Dwija Guna dari Gria Giri Sari Uma Ngenjung Angantaka, Badung dan Kepala Kantor Kementerian Agama Badung I Gusti Agung Gede Manguningrat. Seminar diikuti bendesa adat se-Kabupaten Badung, para serati banten serta para siswa-siswi pelajar SMA dan SMP di Kabupaten Badung. Seminar diisi dengan dharmatula dan tanya jawab yang dilaksanakan beberapa tahapan, mulai dari Senin (27/5) hingga Rabu 31 Juli 2019.


Most Read

Artikel Terbaru

/