alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Umur Bisa Pendek, Tidak Berani Pangkas Beringin Sembarangan

BANGLI, BALI EXPRESS – Di Desa Adat Apuan, Kecamatan Susut, Bangli, ada sebuah Lesung kayu di atas pohon beringin. Alat yang biasanya untuk menumbuk beras itu sudah ada di sana sejak zaman kerajaan. Masyarakat setempat menyebutnya Pajenengan atau Tedung Jagat.

Selain Lesung, pohon beringin tempat Lesung tersebut juga dikeramatkan. Masyarakat setempat bahkan tidak berani memangkasnya sembarangan. Bisa celaka.

Bendesa Adat Apuan Nyoman Wirya menegaskan, pohon beringin yang jika dilihat dari kejauhan diyakini mirip tedung itu sebenarnya bisa dipangkas. Dipangkas untuk mengantisipasi korban karena bisa patah. Mengingat posisinya di pinggir jalan utama. Namun, sebelum dipangkas harus menggelar upacara terlebih dulu. Harus minta izin secara niskala melalui sarana upakara.

Wirya menegaskan bahwa barang siapa yang berani memangkas sembarangan, maka akan berumur pendek. Itu sudah pernah dialami seseorang. “Itu keyakinan, sire je purun motong (siapapun yang berani memotong), akan berumur pendek,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Wirya, pohon beringin itu jarang dipangkas. Syukurnya tidak pernah sampai ada yang celaka karena cabang atau rantingnya patah sendiri. Masyarakat setempat percaya bahwa Tedung Jagat itu melindungi masyarakat dari bahaya. “Masyarakat tidak ada dibahayakan oleh pohon beringin ini,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa upacara tertentu yang butuh daun beringin, nunas di sana. Alat untuk memetik daun, demikian juga orang yang melakukannya tidak sembarangan. “Ada orang khusus memetik,” ungkap Wirya. (wan)

 


BANGLI, BALI EXPRESS – Di Desa Adat Apuan, Kecamatan Susut, Bangli, ada sebuah Lesung kayu di atas pohon beringin. Alat yang biasanya untuk menumbuk beras itu sudah ada di sana sejak zaman kerajaan. Masyarakat setempat menyebutnya Pajenengan atau Tedung Jagat.

Selain Lesung, pohon beringin tempat Lesung tersebut juga dikeramatkan. Masyarakat setempat bahkan tidak berani memangkasnya sembarangan. Bisa celaka.

Bendesa Adat Apuan Nyoman Wirya menegaskan, pohon beringin yang jika dilihat dari kejauhan diyakini mirip tedung itu sebenarnya bisa dipangkas. Dipangkas untuk mengantisipasi korban karena bisa patah. Mengingat posisinya di pinggir jalan utama. Namun, sebelum dipangkas harus menggelar upacara terlebih dulu. Harus minta izin secara niskala melalui sarana upakara.

Wirya menegaskan bahwa barang siapa yang berani memangkas sembarangan, maka akan berumur pendek. Itu sudah pernah dialami seseorang. “Itu keyakinan, sire je purun motong (siapapun yang berani memotong), akan berumur pendek,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Wirya, pohon beringin itu jarang dipangkas. Syukurnya tidak pernah sampai ada yang celaka karena cabang atau rantingnya patah sendiri. Masyarakat setempat percaya bahwa Tedung Jagat itu melindungi masyarakat dari bahaya. “Masyarakat tidak ada dibahayakan oleh pohon beringin ini,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa upacara tertentu yang butuh daun beringin, nunas di sana. Alat untuk memetik daun, demikian juga orang yang melakukannya tidak sembarangan. “Ada orang khusus memetik,” ungkap Wirya. (wan)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/