alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Sang Hyang Rahu Ciptakan Kala, Para Dewa Diciptakan Sang Hyang Ketu

BULELENG, BALI EXPRESS – BILA dalam Lontar Medangkemulan tidak ada menyebutkan tentang lahirnya Astawara, Sangawara dan Dasawara. Maka ada sedikit perbedaan dengan mitologi lahirnya wewaran berdasarkan Lontar Bagawan Garga.

Dalam Bagawan Garga disebutkan : Hana ta dewa anglayang, guru tunggal, ingaranan sanghyang licin, suksma nirmala, endah snenya maring sunya, pantaranya rumawak tuduh, ya ta sanghyang licin, rumaga rama tan sahayebu. Mayoga sang licin, hana bhagawan bregu, mayoga bhagawan bregu hana rwa mimitan, nga rahayu mimitan, hala mimitan, rupanya kadi tunggal, nga, dewakala, rahu mawak ketu lwirnya : sanghyang rahu hangadakna, kala kabeh, sanghyang ketu ika hamijilkna dewa kabeh, mwang wewaran”.

Terjemahannya : Adalah dewa melayang-layang, beliau itu guru sejati disebut Sang Hyang Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci bermacam-macam wujudnya di alam yang kosong ini, itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh, Ia itulah Sang Hyang Licin, beliau yang ada pertama kali, tanpa ayah dan ibu

Dosen Wariga, STAHN Mpu Kuturan Made Gami Sandi Untara mengatakan, mitologi itu lahir dari beryoganya Sang Hyang Licin, maka lahirlah dua hal yaitu baik dan buruk (positif dan negatif). Wujudnya seperti satu adalah Dewakala, yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. “Sang Hyang Rahu menciptakan semua Kala, Sang Hyang Ketu itu menciptakan para Dewa dan wewaran,” jelasnya.

Selanjutnya diuraikan bahwa Sang Hyang Licin sebenarnya menjadi Ekawara yaitu Luwang. Kemudian lahirlah wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu Menga, Pepet. Inilah yang menyebabkan adanya baik buruk (ala ayu). Sang Hyang Menga menjadi siang adalah Sang Hyang Rahu; Hyang Pepet menjadi malam adalah Sang Hyang Ketu

Baca Juga :  Ini Sejarah Tradisi Khusus Umat Muslim di Pura Bhur Bwah Swah

Wuku Tambir lahirlah Triwara yaitu Dora, Waya, Byantara. Sesungguhnya Dora adalah Kala, Waya adalah manusia dan Byantara adalah Dewa. Ada wuku Kulawu, lahirlah Caturwara yaitu Sri, Laba, Jaya, Mandala. Sesungguhnya adalah Batari Gangga, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Sangkara, Sang Hyang Kancanawidi.

Kemudian wuku Wariga lahirlah Pancawara, yaitu Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Sebenarnya adalah Sang Hyang Iswara, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Mahadewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Ciwa.

Wuku Pahang, lahirlah Sadwara yaitu Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu. Sesungguhnya Tungleh adalah Antabuta, Aryang adalah Padabuta, Urukung adalah Anggabuta, Paniron adalah Malecabuta, Was adalah Astabuta, Maulu adalah Mastakabuta.

Wuku Bala, lahirlah Saptawara yaitu Radite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara; sebenarnya adalah Hyang Banu, Hyang Candra, Sang Manggala, Hyang Buda, Hyang Wraspati, Bhagawan Sukra, Dewi Sori.

Wuku Kulantir, lahirlah Astawara yaitu Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma. Sebenarnya adalah Batari Giriputri, Hyang Indra, sang Hyang Guru, Sang Hyang Yama, Hyang Ludra, Hyang Bruna, Hyang Kalantaka, Sang Hyang Amreta.

Selanjutnya Wuku Langkir lahirlah Sangawara yaitu, Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus, Dadi. Sebenarnya dangu adalah Buta Urung, Jangur merupakan Buta Pataha, Gigis adalah Buta Jirek, Nohan Buta Raregek, Ogan adalah Buta Jingkrak.

Kemudian Erangan adalah Buta Jabung, Urungan adalah Buta Kenying, Tulus adalah Sang Hyang Saraswati, dan Dadi adalah Sang Hyang Dharma.

Wuku Uye, lahirlah Dasawara yaitu Pandita, Pati Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa. Sebenarnya adalah Sang Aruna adalah Pandita, Kala adalah Pati, Smara adalah Suka, Durga adalah Duka, Sang Hyang Basundari adalah Sri, Kala Lupa adalah Manuh, Sang Hyang Suksma Jati adalah Manusa, Kala Tangis adalah Raja, Sang Hyang Sambu adalah Dewa, Sang Kala Kopa adalah Raksasa.

Baca Juga :  Tradisi Ngunya di Banjar Mas Netralisasi Kekuatan Negatif

Gami menambahkan, berdasarkan cerita kelahiran wewaran tak bisa dipungkiri bahwa semua wewaran itu adalah ciptaan Hyang Widhi melalui Yoganya. Pada mulanya Hyang Widhi yang disebut Sanghyang Licin yang beryoga lahirlah Bhagawan Bregu. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sanghyang Rahu dan Sanghyang Ketu.

Sanghyang Rahu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran. “Maksudnya adalah Tuhan itu tunggal tidak ada duanya yang diwujudkan dengan Ekawara adalah Luang. Luang artinya kosong. Pada mulanya belum ada apa-apa atau alam ini kosong, kosong (Luang) itu adalah perwujudan Hyang Widhi yang tunggal (satu) yang disebut dengan Parama Ciwa dalam Sapta loka beliau berkedudukan pada Satya loka,” ujarnya.

Pada tingkat ini, Hyang Widhi suci nirmala belum terpengaruh oleh apapun jua sehingga disebut dengan Nirguna Brahma. Dari yoganya Hyang Widhi ada Bhagawan Bregu, Bhagawan Bregu ada pada tingkat Mahaloka, yang mana Hyang Widhi sudah terpengaruh oleh hal-hal maya. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sanghyang Rahu dan Sanghyang Ketu.

Pada tingkatan Mahaloka, Hyang Widhi diberi gelar Sada Ciwa yang disebut dengan Saguna Brahma karena sudah terpengaruh hal maya, oleh karena itulah muncul dua kekuatan Cetana, Acetana, Purusa Predana atau Sanghyang Ketu, Sanghyang Rahu.

“Dengan adanya dua kekuatan ini barulah muncul ciptaan yang disebutkan dengan Sang Hyang Rahu beryoga lahir para Kala dan Sanghyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – BILA dalam Lontar Medangkemulan tidak ada menyebutkan tentang lahirnya Astawara, Sangawara dan Dasawara. Maka ada sedikit perbedaan dengan mitologi lahirnya wewaran berdasarkan Lontar Bagawan Garga.

Dalam Bagawan Garga disebutkan : Hana ta dewa anglayang, guru tunggal, ingaranan sanghyang licin, suksma nirmala, endah snenya maring sunya, pantaranya rumawak tuduh, ya ta sanghyang licin, rumaga rama tan sahayebu. Mayoga sang licin, hana bhagawan bregu, mayoga bhagawan bregu hana rwa mimitan, nga rahayu mimitan, hala mimitan, rupanya kadi tunggal, nga, dewakala, rahu mawak ketu lwirnya : sanghyang rahu hangadakna, kala kabeh, sanghyang ketu ika hamijilkna dewa kabeh, mwang wewaran”.

Terjemahannya : Adalah dewa melayang-layang, beliau itu guru sejati disebut Sang Hyang Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci bermacam-macam wujudnya di alam yang kosong ini, itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh, Ia itulah Sang Hyang Licin, beliau yang ada pertama kali, tanpa ayah dan ibu

Dosen Wariga, STAHN Mpu Kuturan Made Gami Sandi Untara mengatakan, mitologi itu lahir dari beryoganya Sang Hyang Licin, maka lahirlah dua hal yaitu baik dan buruk (positif dan negatif). Wujudnya seperti satu adalah Dewakala, yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. “Sang Hyang Rahu menciptakan semua Kala, Sang Hyang Ketu itu menciptakan para Dewa dan wewaran,” jelasnya.

Selanjutnya diuraikan bahwa Sang Hyang Licin sebenarnya menjadi Ekawara yaitu Luwang. Kemudian lahirlah wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu Menga, Pepet. Inilah yang menyebabkan adanya baik buruk (ala ayu). Sang Hyang Menga menjadi siang adalah Sang Hyang Rahu; Hyang Pepet menjadi malam adalah Sang Hyang Ketu

Baca Juga :  Begini Makna Maprani Perahu-perahuan di Banjar Pabean Ketewel

Wuku Tambir lahirlah Triwara yaitu Dora, Waya, Byantara. Sesungguhnya Dora adalah Kala, Waya adalah manusia dan Byantara adalah Dewa. Ada wuku Kulawu, lahirlah Caturwara yaitu Sri, Laba, Jaya, Mandala. Sesungguhnya adalah Batari Gangga, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Sangkara, Sang Hyang Kancanawidi.

Kemudian wuku Wariga lahirlah Pancawara, yaitu Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Sebenarnya adalah Sang Hyang Iswara, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Mahadewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Ciwa.

Wuku Pahang, lahirlah Sadwara yaitu Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu. Sesungguhnya Tungleh adalah Antabuta, Aryang adalah Padabuta, Urukung adalah Anggabuta, Paniron adalah Malecabuta, Was adalah Astabuta, Maulu adalah Mastakabuta.

Wuku Bala, lahirlah Saptawara yaitu Radite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara; sebenarnya adalah Hyang Banu, Hyang Candra, Sang Manggala, Hyang Buda, Hyang Wraspati, Bhagawan Sukra, Dewi Sori.

Wuku Kulantir, lahirlah Astawara yaitu Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma. Sebenarnya adalah Batari Giriputri, Hyang Indra, sang Hyang Guru, Sang Hyang Yama, Hyang Ludra, Hyang Bruna, Hyang Kalantaka, Sang Hyang Amreta.

Selanjutnya Wuku Langkir lahirlah Sangawara yaitu, Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus, Dadi. Sebenarnya dangu adalah Buta Urung, Jangur merupakan Buta Pataha, Gigis adalah Buta Jirek, Nohan Buta Raregek, Ogan adalah Buta Jingkrak.

Kemudian Erangan adalah Buta Jabung, Urungan adalah Buta Kenying, Tulus adalah Sang Hyang Saraswati, dan Dadi adalah Sang Hyang Dharma.

Wuku Uye, lahirlah Dasawara yaitu Pandita, Pati Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa. Sebenarnya adalah Sang Aruna adalah Pandita, Kala adalah Pati, Smara adalah Suka, Durga adalah Duka, Sang Hyang Basundari adalah Sri, Kala Lupa adalah Manuh, Sang Hyang Suksma Jati adalah Manusa, Kala Tangis adalah Raja, Sang Hyang Sambu adalah Dewa, Sang Kala Kopa adalah Raksasa.

Baca Juga :  Sarasamuccaya (24) : Duabelas Brata Sang Brahmana

Gami menambahkan, berdasarkan cerita kelahiran wewaran tak bisa dipungkiri bahwa semua wewaran itu adalah ciptaan Hyang Widhi melalui Yoganya. Pada mulanya Hyang Widhi yang disebut Sanghyang Licin yang beryoga lahirlah Bhagawan Bregu. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sanghyang Rahu dan Sanghyang Ketu.

Sanghyang Rahu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran. “Maksudnya adalah Tuhan itu tunggal tidak ada duanya yang diwujudkan dengan Ekawara adalah Luang. Luang artinya kosong. Pada mulanya belum ada apa-apa atau alam ini kosong, kosong (Luang) itu adalah perwujudan Hyang Widhi yang tunggal (satu) yang disebut dengan Parama Ciwa dalam Sapta loka beliau berkedudukan pada Satya loka,” ujarnya.

Pada tingkat ini, Hyang Widhi suci nirmala belum terpengaruh oleh apapun jua sehingga disebut dengan Nirguna Brahma. Dari yoganya Hyang Widhi ada Bhagawan Bregu, Bhagawan Bregu ada pada tingkat Mahaloka, yang mana Hyang Widhi sudah terpengaruh oleh hal-hal maya. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sanghyang Rahu dan Sanghyang Ketu.

Pada tingkatan Mahaloka, Hyang Widhi diberi gelar Sada Ciwa yang disebut dengan Saguna Brahma karena sudah terpengaruh hal maya, oleh karena itulah muncul dua kekuatan Cetana, Acetana, Purusa Predana atau Sanghyang Ketu, Sanghyang Rahu.

“Dengan adanya dua kekuatan ini barulah muncul ciptaan yang disebutkan dengan Sang Hyang Rahu beryoga lahir para Kala dan Sanghyang Ketu beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran,” pungkasnya.

 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/