alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Dokumentasikan Tradisi, Tanam Jaka untuk Konservasi Air

Krama Desa Pedawa, Kecamatan Banjar tentu punya tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan para leluhurnya. Tak hanya peninggalan budaya yang adilihung, Pedawa yang wilayahnya merupakan kawasan perbukitan dan sebagai hulunya Buleleng tentu wajib menjaga sumber air lewat konservasi.

 

Kondisi inipun membuat sejumlah masyarakat di Pedawa terpanggil untuk tampil sebagai bagian dari pelestari budaya lewat Kayoman Pedawa. Mereka mendokumentasikan tradisi dan budaya khas Bali Aga. Tak jarang juga mereka terlibat mendata peninggalan benda prasejarah jaman megalitikum, seperti sarkofagus.

 

Ketua Kayoman Pedawa, Putu Yuli Supriyandana mengatakan ia dan sejumlah rekannya memulai aktif mendokumentasikan tradisi dan budaya Desa Pedawa sejak tahun 2015 silam. Berselang setahun kemudian, tahun2016 masyarakat Desa Pedawa menginisiasi dibentuknya Kelompok Kayoman Pedawa.

 

Kelompok ini dibentuk dengan misi untuk merekonstruksi dan merevitalisasi keberadaan potensi adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat setempat. Selain melestarikan budaya, upaya ini juga diharapkan dapat mendukung Pedawa sebagai desa wisata.

Dikatakan Yuli, Kayoman Pedawa adalah jawaban atas kegelisihan para tokoh-tokoh muda Desa Pedawa akan fenomena semakin tergerusnya alam dan kearifan lokal akibat pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang mengglobal.

 “Kami bersama masyarakat langsung bergerak mendokumentasikan Budaya Pedawa, dengan foto-foto, mendata benda-benda purbakala yang digali bersama Balai Arkeologi, termasuk juga  pelestarian di bidang tanaman untuk merawat sumber mata air,”  jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pasca dibentuk, konservasi hutan sebagai bentuk wana kerti menjadi hal paling prioritas untuk diprogramkan dan dilaksanakan oleh kelompok Kayoman Pedawa. Masyarakat meyakini bahwa alam menjadi dasar dari kearifan lokal. Terlebih masyarakat Desa Pedawa merupakan masyarakat yang pola kebudayaannya berbasis agrikultur

“Dari hasil observasi banyak kerusakan yang terjadi akibat eksploitasi kayu-kayu hutan tersebut. Tentu dikhawatirkan berdampak pada mengecilnya sumber air,” jelasnya.

Penanaman pohon-pohon berkayu keras terus digenjot. Seperti pohon jaka atau aren cempaka, majegau dan nangka. Tak hanya berfungsi untuk menjaga kelestarian sumber air, tanaman tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Terutama pohon aren untuk jangka panjang yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula merah.

“Masyarakat Pedawa memang banyak yang terjun menjadi pengrajin gula merah atau Gula Pedawa yang bahan bakunya dari air nira. Apalagi pohon jaka jumlahnya semakin menurun akibat alih fungsi ke tanaman yang lebih ekonomis. Sehingga bersama masyarakat kami melakukan penanaman kembali,” imbuhnya.

Selain melakukan pelestarian terhadap hutan, Kelompok Kayoman Pedawa juga menginisiasi pemetaan peninggalan-peninggalan purbakala jaman megalitikum. Tercatat total jumlah sarkofagus yang ada di Desa Pedawa mencapai tujuh buah. Dari jumlah tersebut lima diantaranya dalam kondisi utuh.

Bamun dua lagi dalam kondisi rusak. Penemuan lima sarkofagus awalnya terjadi secara tidak sengaja di lahan-lahan perkebunan warga. “Sedangkan yang 2 lagi merupakan temuan dari hasil pencarian yang sengaja dilakukan masyarakat yang pada tahun 2009 lalu,” jelasnya.

 

Adat dan tradisi adalah nafas dari Desa pedawa sebagai Desa Bali Aga. Tak ingin adat dan budaya mengalami degradasi akibat modernisasi, Kayoman Pedawa pun pasang badan untuk menjaga warisan leluhurnya.

Putu Yuli Supriyandana mengatakan Kayoman Pedawa telah melakukan sejumlah langkah-langkah penyelamatan melalui upaya rekonstruksi. Seperti menrekonstruksi Rumah Adat Bandung Rangki yang eksistensinya semakin mengkahwatirkan.

Bahkan, lewat penasihat Kayoman Pedawa, Wayan Sukrata membangun kembali rumah adat Bandung Rangki di lahannya seluas 5 are. Rumah adat pun dibangun lengkap dengan beragam ornament-ornamennya. Sehingga kerap dijadikan rujukan bagi wisatawan yang datang ke Pedawa untuk melihat rumah adat Bandung Rangki yang masih utuh.

“Pengunjung yang datang mengunjungi rumah adat tersebut dapat pula mengenakan pakaian tradisional masyarakat Pedawa. Ini penting bagi pengunjung agar mengenal bagaimana pakaian adat kami,” imbuhnya.

Selain itu, Kayoman Pedawa kian membulatkan tekadnya dalam menjaga warisan leluhurnya lewat permainan tradisional. Seperti melestarikan permainan gangsing yang sempat redup di Pedawa. Kayoman Pedawa kemudian menginisiasi pembentukan kelompok sekaa gangsing Desa Pedawa. Sekaa gangsing Desa Pedawa pada awalnya didirikan tahun 2016 dan anggotanya hanya terdiri dari anggota kelompok Kayoman Pedawa.

Tingklik Pedawa sebagai gamelan tradisional juga turut dilestarikan. gamelan ini berbeda dibandingkan dengan Tingklik pada umumnya. Tingklik ini terbuat dari bambu memiliki delapan plawah yang ukuran bilahnya relatif besar.

Menurut penuturan Yuli, Tingklik Pedawa sesungguhnya bersifat sakral dan tidak boleh sembarangan dimainkan. Terlebih tingklik tersebut ditempatkan di Pura Desa setempat. Akibatnya banyak anak-anak muda setempat yang tidak berminat memainkannya.

 Sehingga Tingklik Pedawa kerap hanya dimainkan orang tua saja. Kayoman Pedawa pun menginisiasi replika tingklik tersebut yang awalnya ditujukan untuk latihan, serta menumbuhkan kecintaan para pemuda setempat akan Tingklik Pedawa. “Tujuan jangka panjangnya adalah agar ada regenerasi dari penabuh Tingklik Pedawa yang sakral,” pungkasnya. 


Krama Desa Pedawa, Kecamatan Banjar tentu punya tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan para leluhurnya. Tak hanya peninggalan budaya yang adilihung, Pedawa yang wilayahnya merupakan kawasan perbukitan dan sebagai hulunya Buleleng tentu wajib menjaga sumber air lewat konservasi.

 

Kondisi inipun membuat sejumlah masyarakat di Pedawa terpanggil untuk tampil sebagai bagian dari pelestari budaya lewat Kayoman Pedawa. Mereka mendokumentasikan tradisi dan budaya khas Bali Aga. Tak jarang juga mereka terlibat mendata peninggalan benda prasejarah jaman megalitikum, seperti sarkofagus.

 

Ketua Kayoman Pedawa, Putu Yuli Supriyandana mengatakan ia dan sejumlah rekannya memulai aktif mendokumentasikan tradisi dan budaya Desa Pedawa sejak tahun 2015 silam. Berselang setahun kemudian, tahun2016 masyarakat Desa Pedawa menginisiasi dibentuknya Kelompok Kayoman Pedawa.

 

Kelompok ini dibentuk dengan misi untuk merekonstruksi dan merevitalisasi keberadaan potensi adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat setempat. Selain melestarikan budaya, upaya ini juga diharapkan dapat mendukung Pedawa sebagai desa wisata.

Dikatakan Yuli, Kayoman Pedawa adalah jawaban atas kegelisihan para tokoh-tokoh muda Desa Pedawa akan fenomena semakin tergerusnya alam dan kearifan lokal akibat pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang mengglobal.

 “Kami bersama masyarakat langsung bergerak mendokumentasikan Budaya Pedawa, dengan foto-foto, mendata benda-benda purbakala yang digali bersama Balai Arkeologi, termasuk juga  pelestarian di bidang tanaman untuk merawat sumber mata air,”  jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pasca dibentuk, konservasi hutan sebagai bentuk wana kerti menjadi hal paling prioritas untuk diprogramkan dan dilaksanakan oleh kelompok Kayoman Pedawa. Masyarakat meyakini bahwa alam menjadi dasar dari kearifan lokal. Terlebih masyarakat Desa Pedawa merupakan masyarakat yang pola kebudayaannya berbasis agrikultur

“Dari hasil observasi banyak kerusakan yang terjadi akibat eksploitasi kayu-kayu hutan tersebut. Tentu dikhawatirkan berdampak pada mengecilnya sumber air,” jelasnya.

Penanaman pohon-pohon berkayu keras terus digenjot. Seperti pohon jaka atau aren cempaka, majegau dan nangka. Tak hanya berfungsi untuk menjaga kelestarian sumber air, tanaman tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Terutama pohon aren untuk jangka panjang yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula merah.

“Masyarakat Pedawa memang banyak yang terjun menjadi pengrajin gula merah atau Gula Pedawa yang bahan bakunya dari air nira. Apalagi pohon jaka jumlahnya semakin menurun akibat alih fungsi ke tanaman yang lebih ekonomis. Sehingga bersama masyarakat kami melakukan penanaman kembali,” imbuhnya.

Selain melakukan pelestarian terhadap hutan, Kelompok Kayoman Pedawa juga menginisiasi pemetaan peninggalan-peninggalan purbakala jaman megalitikum. Tercatat total jumlah sarkofagus yang ada di Desa Pedawa mencapai tujuh buah. Dari jumlah tersebut lima diantaranya dalam kondisi utuh.

Bamun dua lagi dalam kondisi rusak. Penemuan lima sarkofagus awalnya terjadi secara tidak sengaja di lahan-lahan perkebunan warga. “Sedangkan yang 2 lagi merupakan temuan dari hasil pencarian yang sengaja dilakukan masyarakat yang pada tahun 2009 lalu,” jelasnya.

 

Adat dan tradisi adalah nafas dari Desa pedawa sebagai Desa Bali Aga. Tak ingin adat dan budaya mengalami degradasi akibat modernisasi, Kayoman Pedawa pun pasang badan untuk menjaga warisan leluhurnya.

Putu Yuli Supriyandana mengatakan Kayoman Pedawa telah melakukan sejumlah langkah-langkah penyelamatan melalui upaya rekonstruksi. Seperti menrekonstruksi Rumah Adat Bandung Rangki yang eksistensinya semakin mengkahwatirkan.

Bahkan, lewat penasihat Kayoman Pedawa, Wayan Sukrata membangun kembali rumah adat Bandung Rangki di lahannya seluas 5 are. Rumah adat pun dibangun lengkap dengan beragam ornament-ornamennya. Sehingga kerap dijadikan rujukan bagi wisatawan yang datang ke Pedawa untuk melihat rumah adat Bandung Rangki yang masih utuh.

“Pengunjung yang datang mengunjungi rumah adat tersebut dapat pula mengenakan pakaian tradisional masyarakat Pedawa. Ini penting bagi pengunjung agar mengenal bagaimana pakaian adat kami,” imbuhnya.

Selain itu, Kayoman Pedawa kian membulatkan tekadnya dalam menjaga warisan leluhurnya lewat permainan tradisional. Seperti melestarikan permainan gangsing yang sempat redup di Pedawa. Kayoman Pedawa kemudian menginisiasi pembentukan kelompok sekaa gangsing Desa Pedawa. Sekaa gangsing Desa Pedawa pada awalnya didirikan tahun 2016 dan anggotanya hanya terdiri dari anggota kelompok Kayoman Pedawa.

Tingklik Pedawa sebagai gamelan tradisional juga turut dilestarikan. gamelan ini berbeda dibandingkan dengan Tingklik pada umumnya. Tingklik ini terbuat dari bambu memiliki delapan plawah yang ukuran bilahnya relatif besar.

Menurut penuturan Yuli, Tingklik Pedawa sesungguhnya bersifat sakral dan tidak boleh sembarangan dimainkan. Terlebih tingklik tersebut ditempatkan di Pura Desa setempat. Akibatnya banyak anak-anak muda setempat yang tidak berminat memainkannya.

 Sehingga Tingklik Pedawa kerap hanya dimainkan orang tua saja. Kayoman Pedawa pun menginisiasi replika tingklik tersebut yang awalnya ditujukan untuk latihan, serta menumbuhkan kecintaan para pemuda setempat akan Tingklik Pedawa. “Tujuan jangka panjangnya adalah agar ada regenerasi dari penabuh Tingklik Pedawa yang sakral,” pungkasnya. 


Most Read

Artikel Terbaru

/