alexametrics
29.8 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Berisi Tentang Pajak, Batas Wilayah serta Kewajiban Warga Tamblingan

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Desa Gobleg merupakan aslah satu bagian dari Catur Desa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. di desa ini terdapat peninggalan berupa prasasti yang disimpan di Puri Gobleg. Prasasti yang berjumlah 23 keping itu diketahui berasal dari  tiga jaman. Yakni jaman Pemerintahan Raja Udayana, Pemerintahan Raja Ugracena dan Pemerintahan Raja Suradhipa. Prasasti-prasasti yang terbuat dari bahan tembaga itu memuat tentang pajak, batas-batas wilayah Tamblingan yang konon menjadi pemukiman warga Desa Gobleg.

Prasasti-prasasti itu diletakkan dalam dua wadah yang berbeda. Yakni di dalam sebuah guci dengan jumlah 15 lempeng, serta di dalam keropak sebanyak delapan lempeng. Khusus prasasti yang ada di dalam guci, ditemukan oleh warga terkubur di wilayah Pura Endek, Desa Gobleg pada tahun 2001 lalu. Saat digali, ditemukan sebuah guci dengan ukuran yang cukup besar. Di dalam guci itu lah terdapat 15 lempeng prasasti  dengan tulisan aksara Jawa Kuno.

Sementara prasasti yang tersimpan di dalam keropak mulanya ditemukan di Pura Batur, Desa Gobleg. Tidak ada yang tahu sejak kapan prasasti itu ditemukan. Namun yang jelas, prasasti dengan panjang 42.4  sentimeter serta lebar 8.7 sentimter itu sudah cukup lama tersimpan di Puri Desa Gobleg.

Prasasti itu pun dijaga dengan baik oleh keluarga puri. Setiap Tumpek Landep prasasti itu akan diturunkan untuk diupacarai dan dibersihkan. Kondisi prasasti yang terbuat dari tembaga itu pun telah melengkung, berkarat serta berjamur. Hal itu dikarenakan usia  prasasti sudah cukup tua, sehingga mengalami kerusakan. “Prasasti ini dari leluhur kami yang dulu tinggal di Tamblingan, lalu pindah dan di bawa ke sini (Desa Gobleg,red). Terkait isinya jarang ada yang tau,” ungkap Penglingsir Puri Gobleg I Gusti Ngurah Agung Pradnyan.

Dituturkan, sekitar tahun 800an, warga Desa Gobleg dulunya tinggal di daerah Danau Tamblingan. Memasuki tahun 1.400an, para leluhur itu lantas pindah ke wilayah yang kini disebut dengan Desa Gobleg, lantaran Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci (hulu). “Saat melaksanakan pitra yadnya tidak bisa karena itu daerah suci,” kata dia.

Selain itu menurut sejarah, dulu saat melaksanakan pitra yadnya banyak mayat yang hilang entah kemana. Oleh karena itu karena faktor menjaga kesucian, dan mungkin kesuburan tanah maka warga desa itu pindah ke tempat ini yakni Desa Gobleg. Dari hasil identifikasi Balai Arkeologi, diketahui prasasti itu dibuat pada masa kerajaan Ugracena tahun 844 Caka, lalu masa Kerajaan Udayana serta masa Kerajaan Suradhipa pada tahun 1.041 Caka.

Di puri prasasti-prasasti itu disimpan di sebuah rumah yang dibuat khusus. Namun tidak ada yang mengetahui tahun pembuatan rumah tersebut. Namun diperkirakan pada jaman colonial Belanda. Rumah itu hanya berukuran 6×8 meter. Rumah ini pun hanya ada satu di Desa Gobleg. Konon, para tetua dulu membuat rumah ini untuk menyimpan prasasti karena dirasa kurang aman bila ditempatkan di pura.


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Desa Gobleg merupakan aslah satu bagian dari Catur Desa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. di desa ini terdapat peninggalan berupa prasasti yang disimpan di Puri Gobleg. Prasasti yang berjumlah 23 keping itu diketahui berasal dari  tiga jaman. Yakni jaman Pemerintahan Raja Udayana, Pemerintahan Raja Ugracena dan Pemerintahan Raja Suradhipa. Prasasti-prasasti yang terbuat dari bahan tembaga itu memuat tentang pajak, batas-batas wilayah Tamblingan yang konon menjadi pemukiman warga Desa Gobleg.

Prasasti-prasasti itu diletakkan dalam dua wadah yang berbeda. Yakni di dalam sebuah guci dengan jumlah 15 lempeng, serta di dalam keropak sebanyak delapan lempeng. Khusus prasasti yang ada di dalam guci, ditemukan oleh warga terkubur di wilayah Pura Endek, Desa Gobleg pada tahun 2001 lalu. Saat digali, ditemukan sebuah guci dengan ukuran yang cukup besar. Di dalam guci itu lah terdapat 15 lempeng prasasti  dengan tulisan aksara Jawa Kuno.

Sementara prasasti yang tersimpan di dalam keropak mulanya ditemukan di Pura Batur, Desa Gobleg. Tidak ada yang tahu sejak kapan prasasti itu ditemukan. Namun yang jelas, prasasti dengan panjang 42.4  sentimeter serta lebar 8.7 sentimter itu sudah cukup lama tersimpan di Puri Desa Gobleg.

Prasasti itu pun dijaga dengan baik oleh keluarga puri. Setiap Tumpek Landep prasasti itu akan diturunkan untuk diupacarai dan dibersihkan. Kondisi prasasti yang terbuat dari tembaga itu pun telah melengkung, berkarat serta berjamur. Hal itu dikarenakan usia  prasasti sudah cukup tua, sehingga mengalami kerusakan. “Prasasti ini dari leluhur kami yang dulu tinggal di Tamblingan, lalu pindah dan di bawa ke sini (Desa Gobleg,red). Terkait isinya jarang ada yang tau,” ungkap Penglingsir Puri Gobleg I Gusti Ngurah Agung Pradnyan.

Dituturkan, sekitar tahun 800an, warga Desa Gobleg dulunya tinggal di daerah Danau Tamblingan. Memasuki tahun 1.400an, para leluhur itu lantas pindah ke wilayah yang kini disebut dengan Desa Gobleg, lantaran Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci (hulu). “Saat melaksanakan pitra yadnya tidak bisa karena itu daerah suci,” kata dia.

Selain itu menurut sejarah, dulu saat melaksanakan pitra yadnya banyak mayat yang hilang entah kemana. Oleh karena itu karena faktor menjaga kesucian, dan mungkin kesuburan tanah maka warga desa itu pindah ke tempat ini yakni Desa Gobleg. Dari hasil identifikasi Balai Arkeologi, diketahui prasasti itu dibuat pada masa kerajaan Ugracena tahun 844 Caka, lalu masa Kerajaan Udayana serta masa Kerajaan Suradhipa pada tahun 1.041 Caka.

Di puri prasasti-prasasti itu disimpan di sebuah rumah yang dibuat khusus. Namun tidak ada yang mengetahui tahun pembuatan rumah tersebut. Namun diperkirakan pada jaman colonial Belanda. Rumah itu hanya berukuran 6×8 meter. Rumah ini pun hanya ada satu di Desa Gobleg. Konon, para tetua dulu membuat rumah ini untuk menyimpan prasasti karena dirasa kurang aman bila ditempatkan di pura.


Most Read

Artikel Terbaru

/