alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Pura Bale Agung-Dalem Cepaka Menyatu, Secara Niskala Terpisah

TABANAN, BALI EXPRESS-Jika selama ini umumnya Pura Kahyangan Tiga di sebuah desa, tempatnya selalu terpisah. Namun, berbeda dengan Desa Adat Cepaka, Kecamatan Kediri, Tabanan. Pura Bale Agung dan Pura Dalem Desa berada dalam satu areal. Bahkan, kedua pura tanpa dibatasi tembok panyengker.

Bendesa Adat Cepaka, I Wayan Wija, 60, menuturkan, meskipun areal Pura Bale Agung serta Pura Dalem menjadi satu, tapi tetap memiliki awig-awig ataupun aturan yang berlaku, dan tidak boleh dilanggar.

Dijelaskannya, sejarah Pura Bale Agung bisa menjadi satu areal dengan Pura Dalem, memang tak terungkap dalam sebuah bukti otentik. Hanya saja, berdasarkan penuturan turun-temurun dari leluhur atau pendahulunya di Desa Cepaka, areal jaba Pura Bale Agung serta Pura Desa (letaknya beberapa meter di barat daya Pura Dalem) dahulunya menjadi satu. 

Kemudian, kemungkinan dahulu para leluhur mereka memilih lokasi yang datar untuk dibangun Pura Bale Agung tersebut. Sehingga dipilihlah lahan datar yang cocok tersebut, yang tempatnya persis di sebelah barat Pura Dalem.

“Karena perkembangan zaman, dibangunlah jalan desa yang baru. Sehingga areal jaba Pura Desa dan Pura Bale Agung dipisahkan oleh jalan yang baru itu. Padahal, jalan desa atau jalan yang sering dilintasi warga sejak dahulu berada persis di sebelah timur panyengker Pura Dalem, dan jalannya itu mengitari pura hingga ke selatan panyengker,” beber Wayan Wija.

Meski dalam satu areal, lanjutnya, tapi tetap pada saat patoyan atau piodalan di masing-masing pura, ada aturan yang wajib dipatuhi. “Seperti saat piodalan di Pura Dalem. Ida Bhatara ngaranjing (masuk) atau medal (keluar) lewat kori (pintu) sebelah utara, dan tidak boleh lewat kori di Pura Bale Agung yang berada di sebelah barat.

Begitu juga sebaliknya, jika piodalan di Pura Bale Agung, Ida Bhatara ngaranjing atau medal, lewatnya dari kori di sebelah barat,” tegas Wayan Wija kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu 

Namun, ada pengkhususan ketika upacara Tawur Agung Sasih Kasanga. Bagi warga yang tangkil diperbolehkan masuk lewat kori sebelah barat dan keluar lewat pintu di sebelah utara. “Tujuannya untuk memperlancar upacara. Istilahnya meminjam tempat untuk keluar. Itu sudah dijalankan dari dahulu,” imbuh Wija.

Tapi, hal itu tidak berlaku ketika Ida Bhatara ngaranjing untuk dilinggihkan (distanakan) atau medal setelah prosesi Tawur Agung tersebut. Pengurus desa adat sudah mewanti-wanti kepada juru sunggi supaya mengikuti prosedur.

Misalnya, Ida Bhatara di Pura Dalem yang hendak dilinggihkan di Pura Bale Agung, wajib medal melewati kori yang khusus memang untuk Pura Dalem. Begitu juga, ketika prosesi telah selesai, Ida Bhatara medal lewat kori sebelah barat dan ngaranjing lewat kori sebelah utara.

“Meskipun dari sekala menjadi satu areal, namun di niskala tidak boleh disamakan. Wajib mengikuti aturan,” tegasnya.

Dikatakannya, dahulu pernah ada peristiwa, ketika Ida Bhatara di Pura Dalem medal dijadikan satu di sebelah barat melewati kori di Pura Bale Agung, pemangku Pura Dalem sering sakit dan sering juga mendapat pawisik (petunjuk gaib), yang diharuskan Ida Bhatara Pura Dalem harus ngaranjing atau medal dari utara. Begitu juga saat piodalan. 

Desa dengan penduduk lebih dari 400 KK ini, warga bersembahyang ketika piodalan hanya boleh bersembahyang sampai batas dari Pura Dalem yang lokasinya di Madya Mandala. Begitu juga ketika piodalan di Pura Bale Agung.

“Yang jelas luluhur kami memang membangun Pura Dalem terpisah dengan Pura Bale Agung. Itu terlihat dari kori pamedalan maupun ngaranjing Pura Dalem dibuat terpisah dengan kori pamedalan maupun ngaranjing Pura Bale Agung,” tandasnya.

Ditambahian Wija, piodalan di Pura Dalem jatuh pada Tilem Sasih Kaulu. Sedangkan piodalan di Pura Bale Agung di Purnama Sasih Kapat, bersamaan dengan piodalan di Pura Desa. 


TABANAN, BALI EXPRESS-Jika selama ini umumnya Pura Kahyangan Tiga di sebuah desa, tempatnya selalu terpisah. Namun, berbeda dengan Desa Adat Cepaka, Kecamatan Kediri, Tabanan. Pura Bale Agung dan Pura Dalem Desa berada dalam satu areal. Bahkan, kedua pura tanpa dibatasi tembok panyengker.

Bendesa Adat Cepaka, I Wayan Wija, 60, menuturkan, meskipun areal Pura Bale Agung serta Pura Dalem menjadi satu, tapi tetap memiliki awig-awig ataupun aturan yang berlaku, dan tidak boleh dilanggar.

Dijelaskannya, sejarah Pura Bale Agung bisa menjadi satu areal dengan Pura Dalem, memang tak terungkap dalam sebuah bukti otentik. Hanya saja, berdasarkan penuturan turun-temurun dari leluhur atau pendahulunya di Desa Cepaka, areal jaba Pura Bale Agung serta Pura Desa (letaknya beberapa meter di barat daya Pura Dalem) dahulunya menjadi satu. 

Kemudian, kemungkinan dahulu para leluhur mereka memilih lokasi yang datar untuk dibangun Pura Bale Agung tersebut. Sehingga dipilihlah lahan datar yang cocok tersebut, yang tempatnya persis di sebelah barat Pura Dalem.

“Karena perkembangan zaman, dibangunlah jalan desa yang baru. Sehingga areal jaba Pura Desa dan Pura Bale Agung dipisahkan oleh jalan yang baru itu. Padahal, jalan desa atau jalan yang sering dilintasi warga sejak dahulu berada persis di sebelah timur panyengker Pura Dalem, dan jalannya itu mengitari pura hingga ke selatan panyengker,” beber Wayan Wija.

Meski dalam satu areal, lanjutnya, tapi tetap pada saat patoyan atau piodalan di masing-masing pura, ada aturan yang wajib dipatuhi. “Seperti saat piodalan di Pura Dalem. Ida Bhatara ngaranjing (masuk) atau medal (keluar) lewat kori (pintu) sebelah utara, dan tidak boleh lewat kori di Pura Bale Agung yang berada di sebelah barat.

Begitu juga sebaliknya, jika piodalan di Pura Bale Agung, Ida Bhatara ngaranjing atau medal, lewatnya dari kori di sebelah barat,” tegas Wayan Wija kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu 

Namun, ada pengkhususan ketika upacara Tawur Agung Sasih Kasanga. Bagi warga yang tangkil diperbolehkan masuk lewat kori sebelah barat dan keluar lewat pintu di sebelah utara. “Tujuannya untuk memperlancar upacara. Istilahnya meminjam tempat untuk keluar. Itu sudah dijalankan dari dahulu,” imbuh Wija.

Tapi, hal itu tidak berlaku ketika Ida Bhatara ngaranjing untuk dilinggihkan (distanakan) atau medal setelah prosesi Tawur Agung tersebut. Pengurus desa adat sudah mewanti-wanti kepada juru sunggi supaya mengikuti prosedur.

Misalnya, Ida Bhatara di Pura Dalem yang hendak dilinggihkan di Pura Bale Agung, wajib medal melewati kori yang khusus memang untuk Pura Dalem. Begitu juga, ketika prosesi telah selesai, Ida Bhatara medal lewat kori sebelah barat dan ngaranjing lewat kori sebelah utara.

“Meskipun dari sekala menjadi satu areal, namun di niskala tidak boleh disamakan. Wajib mengikuti aturan,” tegasnya.

Dikatakannya, dahulu pernah ada peristiwa, ketika Ida Bhatara di Pura Dalem medal dijadikan satu di sebelah barat melewati kori di Pura Bale Agung, pemangku Pura Dalem sering sakit dan sering juga mendapat pawisik (petunjuk gaib), yang diharuskan Ida Bhatara Pura Dalem harus ngaranjing atau medal dari utara. Begitu juga saat piodalan. 

Desa dengan penduduk lebih dari 400 KK ini, warga bersembahyang ketika piodalan hanya boleh bersembahyang sampai batas dari Pura Dalem yang lokasinya di Madya Mandala. Begitu juga ketika piodalan di Pura Bale Agung.

“Yang jelas luluhur kami memang membangun Pura Dalem terpisah dengan Pura Bale Agung. Itu terlihat dari kori pamedalan maupun ngaranjing Pura Dalem dibuat terpisah dengan kori pamedalan maupun ngaranjing Pura Bale Agung,” tandasnya.

Ditambahian Wija, piodalan di Pura Dalem jatuh pada Tilem Sasih Kaulu. Sedangkan piodalan di Pura Bale Agung di Purnama Sasih Kapat, bersamaan dengan piodalan di Pura Desa. 


Most Read

Artikel Terbaru

/