alexametrics
30.8 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Roga Pariksa, Cara Memeriksa Penyakit oleh Balian Usada

Jika tim medis melakukan diagnosis terhadap pasien yang berobat, begitu Balian Pengusada yang melayani pengobatan tradisonal Bali (usada) wajib melakukan Roga Pariksa sebagai cara memeriksa penyakit. Bahkan ada, sejumlah cara melakukan roga pariksa terhadap pasien yang berobat.

Praktisi usadha yang sekaligus akademisi Ayurweda UNHI Denpasar, Dr. Ida Bagus Suatama, M.Si menuturkan, sejak terbitnya Peraturan Gubernur Bali nomor 55 Tahun 2019 yang mengatur tentang Pelayanan Kesehatan Tadisional Bali kian menguatkan pemajuan objek tradisi budaya melalui teknisk usada Bali.

Dosen Prodi Ayur Weda ini mengatakan, terbitnya Pergub ini membuat Balian Usada memiliki paying hokum secara kuat dalam melakukan pelayanan pengobatan tradisional terhadap pasien yang sakit.

Menurutnya, ada sebuah cara khusus yang disebut Roga Pariksa dalam menangani pasien. “Balian Usada atau pengusada seperti dokter. punya sistem dalam pengobatan, punya panduan dalam mendiagnosis. Memeriksa orang sakit. Jadi Orang sakit itu disebut rogi atau menderita sakit. Kalau di Bali sakit itu disebut roga,” jelasnya.

Menurunya, Roga pariksa ini sebagai bentuk kecermatan seorang Balian Pengusada dalam menangani pasien. Setelah berhasil memeriksa, barulah Balian bisa memberikan obat kepada pasien.

Baca Juga :  Lingkaran Buram Soal Balian, Sakit, dan Pura Dalem (1)

“Sebelum memeriksa, balian harus berdoa. Tidak boleh langsung. Karena Balian itu hanya sebagai pengayah. Sehingga secara status dia itu Pinandita. Karena wajib mawinten. Harus memuja ista dewata,” imbuhnya.

Selama ini, Ista Dewata yang dipuja oleh Balian Pengusada misalnya Dewa Brahma Prajapati, karena turunnya usada dan ayur weda dari Batara Brahma. “Kalau di Bali disebut Prajapati. Dari sisi magis memohon sehat kepada Beliau. Jadi Kalau kebih memohon obat maka bisa hadi racun. Maka obat itu harus diukur dengan tepat,” ungkapnya.

Selain itu, Dewa yang sering dipuja oleh Balian Pengusada misalnya Sang Hyang Aji Saraswati, Bhatara Guru, Ganapati, Baruna Astawa. Mantramnya harus hafal. Karena memuja di dalam hati (japam). Kalau sudah memasar atau orang percaya dengan jasa pengusada, maka dilayani dengan cara sistem Roga Pariksa

“Semua diawali dengan berdoa memuja Ista Dewata, agar proses pengusadaan bisa berjalan dengan lancar. Ingat, kalau Balian itu hanya pengayah, ada yang lebih kuasa dalam memberikan restu kesembuhan, yakni dari Ista Dewata yang dipuja,” katanya. (bersambung)

Jika tim medis melakukan diagnosis terhadap pasien yang berobat, begitu Balian Pengusada yang melayani pengobatan tradisonal Bali (usada) wajib melakukan Roga Pariksa sebagai cara memeriksa penyakit. Bahkan ada, sejumlah cara melakukan roga pariksa terhadap pasien yang berobat.

Praktisi usadha yang sekaligus akademisi Ayurweda UNHI Denpasar, Dr. Ida Bagus Suatama, M.Si menuturkan, sejak terbitnya Peraturan Gubernur Bali nomor 55 Tahun 2019 yang mengatur tentang Pelayanan Kesehatan Tadisional Bali kian menguatkan pemajuan objek tradisi budaya melalui teknisk usada Bali.

Dosen Prodi Ayur Weda ini mengatakan, terbitnya Pergub ini membuat Balian Usada memiliki paying hokum secara kuat dalam melakukan pelayanan pengobatan tradisional terhadap pasien yang sakit.

Menurutnya, ada sebuah cara khusus yang disebut Roga Pariksa dalam menangani pasien. “Balian Usada atau pengusada seperti dokter. punya sistem dalam pengobatan, punya panduan dalam mendiagnosis. Memeriksa orang sakit. Jadi Orang sakit itu disebut rogi atau menderita sakit. Kalau di Bali sakit itu disebut roga,” jelasnya.

Menurunya, Roga pariksa ini sebagai bentuk kecermatan seorang Balian Pengusada dalam menangani pasien. Setelah berhasil memeriksa, barulah Balian bisa memberikan obat kepada pasien.

Baca Juga :  Sering Dicari Makhluk Misterius, Balian Wayan Orti hanya Berserah

“Sebelum memeriksa, balian harus berdoa. Tidak boleh langsung. Karena Balian itu hanya sebagai pengayah. Sehingga secara status dia itu Pinandita. Karena wajib mawinten. Harus memuja ista dewata,” imbuhnya.

Selama ini, Ista Dewata yang dipuja oleh Balian Pengusada misalnya Dewa Brahma Prajapati, karena turunnya usada dan ayur weda dari Batara Brahma. “Kalau di Bali disebut Prajapati. Dari sisi magis memohon sehat kepada Beliau. Jadi Kalau kebih memohon obat maka bisa hadi racun. Maka obat itu harus diukur dengan tepat,” ungkapnya.

Selain itu, Dewa yang sering dipuja oleh Balian Pengusada misalnya Sang Hyang Aji Saraswati, Bhatara Guru, Ganapati, Baruna Astawa. Mantramnya harus hafal. Karena memuja di dalam hati (japam). Kalau sudah memasar atau orang percaya dengan jasa pengusada, maka dilayani dengan cara sistem Roga Pariksa

“Semua diawali dengan berdoa memuja Ista Dewata, agar proses pengusadaan bisa berjalan dengan lancar. Ingat, kalau Balian itu hanya pengayah, ada yang lebih kuasa dalam memberikan restu kesembuhan, yakni dari Ista Dewata yang dipuja,” katanya. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru