alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Tradisi Metimpugan di Padang Luwih sebagai Wujud Syukur

MANGUPURA, BALI EXPRESS- Bertepatan dengan purnama sasih kapat dalam kalender Bali, Desa Adat Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Badung menyelenggarakan tradisi metimpugan tipat dan bantal (jajan bantal). Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widi atas karunianya yang telah memberikan kesukertan jagat.

Bendesa Adat Padang Luwih I Gusti Ngurah Oka Suradarma mengatakan, tradisi metimpugan atau mesalaran telah dilaksanakan sejak caka 1775 atau 1697 masehi. Tradisi ini digelar tiap tahun, sekitar September atau Oktober, bertempat di depan Pura Desa dan Puseh.  

Menurutnya, tradisi ini merupakan wujud terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kasukertan jagat. Sarananya berupa tipat dan jajan bantal  yang sebelumnya dihaturkan oleh para krama desa setempat. Melalui tradisi ini, pihaknya ingin mengingatkan kepada krama bahwa pada purnama kapat tersebut Ida Bhatara Siwa Pasupati sebagai simbol energi purusa yang dilambangkan dengan jajan bantal dan Ida Bhatari Uma sebagai energi pradana, dilambangkan dengan ketupat turun ke bumi memberikan anugerah kepada umat berupa kemakmuran dan kesuburan yang sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian.

Tanpa adanya energi purusa dan pradana ini, Suradarma menjelaskan, tidak akan tercipta kesuburan dan kemakmuran tersebut. Tradisi ini biasanya diikuti oleh Sekaa Truna Truni yang ada di enam banjar di desa itu. Namun krama desa lainnya juga boleh ikut. “Jadi dari enam banjar tersebut setiap tahunnya akan bergiliran. Kemudian prosesi ini juga akan diiringi degan tabuh baleganjur, sehingga suasananya semakin meriah. Prosesi terakhir setelah metimpugan, krama desa akan kembali berkumpul di madya mandala pura untuk melaksanakan persembahyangan bersama,” terangnya, Jumat (26/11).

Lebih lanjut pihaknya menambahkan, selama pandemi Covid-19 tradisi ini tetap dilaksanakan. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan  peserta terbatas pada  parajuru desa adat, pamangku Pura Desa dan Puseh, serta penyarikan pura.

 


MANGUPURA, BALI EXPRESS- Bertepatan dengan purnama sasih kapat dalam kalender Bali, Desa Adat Padang Luwih, Kecamatan Kuta Utara, Badung menyelenggarakan tradisi metimpugan tipat dan bantal (jajan bantal). Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widi atas karunianya yang telah memberikan kesukertan jagat.

Bendesa Adat Padang Luwih I Gusti Ngurah Oka Suradarma mengatakan, tradisi metimpugan atau mesalaran telah dilaksanakan sejak caka 1775 atau 1697 masehi. Tradisi ini digelar tiap tahun, sekitar September atau Oktober, bertempat di depan Pura Desa dan Puseh.  

Menurutnya, tradisi ini merupakan wujud terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kasukertan jagat. Sarananya berupa tipat dan jajan bantal  yang sebelumnya dihaturkan oleh para krama desa setempat. Melalui tradisi ini, pihaknya ingin mengingatkan kepada krama bahwa pada purnama kapat tersebut Ida Bhatara Siwa Pasupati sebagai simbol energi purusa yang dilambangkan dengan jajan bantal dan Ida Bhatari Uma sebagai energi pradana, dilambangkan dengan ketupat turun ke bumi memberikan anugerah kepada umat berupa kemakmuran dan kesuburan yang sangat erat kaitannya dengan dunia pertanian.

Tanpa adanya energi purusa dan pradana ini, Suradarma menjelaskan, tidak akan tercipta kesuburan dan kemakmuran tersebut. Tradisi ini biasanya diikuti oleh Sekaa Truna Truni yang ada di enam banjar di desa itu. Namun krama desa lainnya juga boleh ikut. “Jadi dari enam banjar tersebut setiap tahunnya akan bergiliran. Kemudian prosesi ini juga akan diiringi degan tabuh baleganjur, sehingga suasananya semakin meriah. Prosesi terakhir setelah metimpugan, krama desa akan kembali berkumpul di madya mandala pura untuk melaksanakan persembahyangan bersama,” terangnya, Jumat (26/11).

Lebih lanjut pihaknya menambahkan, selama pandemi Covid-19 tradisi ini tetap dilaksanakan. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan  peserta terbatas pada  parajuru desa adat, pamangku Pura Desa dan Puseh, serta penyarikan pura.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/