alexametrics
29.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Gambang dalam Ritual Ngaben, Diyakini Antarkan Sang Atma ke Sunya Loka

Gambang salah satu gamelan yang sering digunakan dalam Upacara Ngaben. Kesenian gambang diyakini sebagai seni wali dalam upacara Ngaben merujuk pada lontar Panca Suda Atma. Konon, tetabuhan Gambang dapat mengantarkan Sang Atma ke Sunya Loka.

 

Seniman tabuh, Jro Putu Ardhiyasa, mengatakan Gambang merupakan salah satu kesenian kuno yang ada di Nusantara. Bahannya yang terbuat dari kayu. Dimana, bahan pelawahnya dan bilah daunnya dari bamboo yang merupakan salah satu ciri dari kesenian kuno.

Dalam prasasti Jagaraga, yaitu pada lembaran yang ke Va menyebutkan nama gamelan gambang dengan sebutan galunggang petung, isinya menyebutkan: “Mangkena yan hena selundig wai ri thaniya manahura ya tikasan ma 1 saputthayu, tan kne sakwaih ning saji-saji saprakara, yen galunggang petung manahura ku 1 saputtha”.

Terjemahannya: Demikianlah kalau ada selunding wsi disuatu desa, maka mereka masingmasing agar membayar tikasen sebesar 1ma (saka) dan mereka tidak dikenakan saji-sajian, sedangakn kalau ada galunggang petung disuatu desa, mereka masing-masing agar membayar 1 ku (pang).

Jika merujuk isi prasasti Jagaraga tersebut, kata galunggang petung merujuk pada nama perangkat bunyi-bunyian yang dibuat dari bilah-bilah petung atau bambu yang ukuran batangnya relatif lebih panjang dan berdiameter lebih besar dari bambu-bambu lainya. Galunggang petung yang dimaksud dalam prasasti tersebut merupakan nama kuno dari gambang

Dalam Lontar Panca Suda Atma yang memuat pedoman Pandita dalam mengupacarai layon (mayat) juga menyebut tentang keberadaan gambang. Layon yang siap untuk dilebur kembali ke Panca Maha Bhuta diupacarai sedemikian rupa agar Sang Hyang Atma mendapatkan tempat yang sesuai dengan karma wasananya.

“Didalam lontar ini juga terdapat petunjuk yang menyatakan bahwa untuk upacara ngaben agar mempergunakan gambang sebagai wali dalam upacara tersebut,” ungkapnya.

Ia menceritakan, gamelan Gambang erat dengan sebuah mitologi yang diyakini. Dimana, kisah ini bermula ada seorang petani miskin yang sangat tekun mengerjakan tanah sawahnya. Sawahnya tersebut terletak dipinggir hutan yang tidak terlalu jauh dari desanya. Pada suatu hari ketika ia sedang berteduh dibawah pohon yang berada ditengah hutan, ia bertemu dengan seorang wanita yang belum pernah dikenalnya.

Wanita itu membawa seperangkat gambelan dari bambu dan menawarkan gamelan tersebut seharga satak selawe kepeng (225 kepeng). Wanita tersebut mengatakan bahwa gambelan yang dibawa bernama Gambang. Karena sudah lama tertarik untuk memiliki gamelan, ia pun membelinya dengan uang yang dimilikinya.

Suau ketika, ia melihat dua ekor burung gagak yang satu berbulu putih dan yang satu lagi berbulu hitam. Kedua gagak tersebut dapat bercakap-cakap seperti manusia. Agar bisa mendengar percakapan kedua burung gagak tersebut dengan jelas, petani itu lalu bersembunyi didalam semak-semak yang lebat sambil terus menguping tentang perbincanga kedua burung gagak itu.

Dalam percakapan itu, Gagak putih menyatakan bahwa dirinya bisa bolakbalik pergi dari sorga ke bumi, disebabkan karena dia tau lagu yang bisa mengantarkan dirinya ke sorga. Mendengar penjelasan itu gagak hitam kemudian mohon agar diajarkan lagu itu. Dengan harapan agar ia juga bisa seperti gagak putih yang pergi ke sorga dan kembali ke bumi.

Gagak putih bersedia mengajarkan lagu tersebut. Asalkan kerahasiaannya terjaga dan tidak ada selain mereka yang mengetahui lagu tersebut. Sebelum lagu tersebut diajarkan oleh gagak putih, dimintalah agar gagak hitam mengawasi disekelilingnya dengan seksama.

Merasa aman, Gagak hitam kemudian memastkan tidak ada yang mendengar percakapannya. Kemudian, Gagak putih lalu mengajarkan lagu yang dapat mengantarkan siapa saja untuk pergi kesorga kepada gagak hitam. Gagak putih mengucapkan terlebih dahulu, kemudian ditirukan oleh gagak hitam.

Beberapa kali nyanyian itu diulang oleh kedua burung gagak itu, sehingga gagak hitam dan petani tersebut hafal dengan nyanyian itu. Setelah merasa cukup, maka dimintalah gagak hitam untuk menyanyikan lagu tersebut secara sendiri, dan gagak putih akan menilai ketepatannya.

“Pada saat gagak hitam dites oleh gagak putih, secara tak sadar petani itu ikut pula bernyanyi sehingga suaranya didengar oleh gagak putih dan gagak hitam,” paparnya.

Gagak putih sangat kaget karena ada manusia yang menguping dan sekarang telah bisa menirukan nyanyian itu. Ia sangat marah atas kecerobohan gagak hitam. Gagak hitam lalu dikutuknya agar gagak hitam selamanya tidak akan pernah bisa pergi ke sorga, dan tetap menjadi pemakan bangkai.

“Petani itu dengan rasa puas lalu pulang. Sesampainya dirumah ia mencoba memainkan lagu yang baru saja dihafalkannya pada gamelan gambang yang dimilikinya,” imbuhnya.

Ternyata nada-nadanya pas dengan gending yang diajarkan oleh gagak putih. Mulai saat itulah lagu yang diajarkan oleh gagak putih dijadikan sebagai gending gambang dan diyakini memiliki kekuatan spiritual.

“Gamelan gambang yang dilantunkan ketika upacara ngaben diyakini akan dapat mengatarkan Sang Hyang Atma untuk pergi ke sunya loka dengan hati yang tenang,” katanya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Gambang salah satu gamelan yang sering digunakan dalam Upacara Ngaben. Kesenian gambang diyakini sebagai seni wali dalam upacara Ngaben merujuk pada lontar Panca Suda Atma. Konon, tetabuhan Gambang dapat mengantarkan Sang Atma ke Sunya Loka.

 

Seniman tabuh, Jro Putu Ardhiyasa, mengatakan Gambang merupakan salah satu kesenian kuno yang ada di Nusantara. Bahannya yang terbuat dari kayu. Dimana, bahan pelawahnya dan bilah daunnya dari bamboo yang merupakan salah satu ciri dari kesenian kuno.

Dalam prasasti Jagaraga, yaitu pada lembaran yang ke Va menyebutkan nama gamelan gambang dengan sebutan galunggang petung, isinya menyebutkan: “Mangkena yan hena selundig wai ri thaniya manahura ya tikasan ma 1 saputthayu, tan kne sakwaih ning saji-saji saprakara, yen galunggang petung manahura ku 1 saputtha”.

Terjemahannya: Demikianlah kalau ada selunding wsi disuatu desa, maka mereka masingmasing agar membayar tikasen sebesar 1ma (saka) dan mereka tidak dikenakan saji-sajian, sedangakn kalau ada galunggang petung disuatu desa, mereka masing-masing agar membayar 1 ku (pang).

Jika merujuk isi prasasti Jagaraga tersebut, kata galunggang petung merujuk pada nama perangkat bunyi-bunyian yang dibuat dari bilah-bilah petung atau bambu yang ukuran batangnya relatif lebih panjang dan berdiameter lebih besar dari bambu-bambu lainya. Galunggang petung yang dimaksud dalam prasasti tersebut merupakan nama kuno dari gambang

Dalam Lontar Panca Suda Atma yang memuat pedoman Pandita dalam mengupacarai layon (mayat) juga menyebut tentang keberadaan gambang. Layon yang siap untuk dilebur kembali ke Panca Maha Bhuta diupacarai sedemikian rupa agar Sang Hyang Atma mendapatkan tempat yang sesuai dengan karma wasananya.

“Didalam lontar ini juga terdapat petunjuk yang menyatakan bahwa untuk upacara ngaben agar mempergunakan gambang sebagai wali dalam upacara tersebut,” ungkapnya.

Ia menceritakan, gamelan Gambang erat dengan sebuah mitologi yang diyakini. Dimana, kisah ini bermula ada seorang petani miskin yang sangat tekun mengerjakan tanah sawahnya. Sawahnya tersebut terletak dipinggir hutan yang tidak terlalu jauh dari desanya. Pada suatu hari ketika ia sedang berteduh dibawah pohon yang berada ditengah hutan, ia bertemu dengan seorang wanita yang belum pernah dikenalnya.

Wanita itu membawa seperangkat gambelan dari bambu dan menawarkan gamelan tersebut seharga satak selawe kepeng (225 kepeng). Wanita tersebut mengatakan bahwa gambelan yang dibawa bernama Gambang. Karena sudah lama tertarik untuk memiliki gamelan, ia pun membelinya dengan uang yang dimilikinya.

Suau ketika, ia melihat dua ekor burung gagak yang satu berbulu putih dan yang satu lagi berbulu hitam. Kedua gagak tersebut dapat bercakap-cakap seperti manusia. Agar bisa mendengar percakapan kedua burung gagak tersebut dengan jelas, petani itu lalu bersembunyi didalam semak-semak yang lebat sambil terus menguping tentang perbincanga kedua burung gagak itu.

Dalam percakapan itu, Gagak putih menyatakan bahwa dirinya bisa bolakbalik pergi dari sorga ke bumi, disebabkan karena dia tau lagu yang bisa mengantarkan dirinya ke sorga. Mendengar penjelasan itu gagak hitam kemudian mohon agar diajarkan lagu itu. Dengan harapan agar ia juga bisa seperti gagak putih yang pergi ke sorga dan kembali ke bumi.

Gagak putih bersedia mengajarkan lagu tersebut. Asalkan kerahasiaannya terjaga dan tidak ada selain mereka yang mengetahui lagu tersebut. Sebelum lagu tersebut diajarkan oleh gagak putih, dimintalah agar gagak hitam mengawasi disekelilingnya dengan seksama.

Merasa aman, Gagak hitam kemudian memastkan tidak ada yang mendengar percakapannya. Kemudian, Gagak putih lalu mengajarkan lagu yang dapat mengantarkan siapa saja untuk pergi kesorga kepada gagak hitam. Gagak putih mengucapkan terlebih dahulu, kemudian ditirukan oleh gagak hitam.

Beberapa kali nyanyian itu diulang oleh kedua burung gagak itu, sehingga gagak hitam dan petani tersebut hafal dengan nyanyian itu. Setelah merasa cukup, maka dimintalah gagak hitam untuk menyanyikan lagu tersebut secara sendiri, dan gagak putih akan menilai ketepatannya.

“Pada saat gagak hitam dites oleh gagak putih, secara tak sadar petani itu ikut pula bernyanyi sehingga suaranya didengar oleh gagak putih dan gagak hitam,” paparnya.

Gagak putih sangat kaget karena ada manusia yang menguping dan sekarang telah bisa menirukan nyanyian itu. Ia sangat marah atas kecerobohan gagak hitam. Gagak hitam lalu dikutuknya agar gagak hitam selamanya tidak akan pernah bisa pergi ke sorga, dan tetap menjadi pemakan bangkai.

“Petani itu dengan rasa puas lalu pulang. Sesampainya dirumah ia mencoba memainkan lagu yang baru saja dihafalkannya pada gamelan gambang yang dimilikinya,” imbuhnya.

Ternyata nada-nadanya pas dengan gending yang diajarkan oleh gagak putih. Mulai saat itulah lagu yang diajarkan oleh gagak putih dijadikan sebagai gending gambang dan diyakini memiliki kekuatan spiritual.

“Gamelan gambang yang dilantunkan ketika upacara ngaben diyakini akan dapat mengatarkan Sang Hyang Atma untuk pergi ke sunya loka dengan hati yang tenang,” katanya. (bersambung)






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/