alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Lontar Kala Tattwa: Metatah Belum Tuntas sebelum Mejaya-jaya

UPACARA Metatah atau potong gigi memang tidak bisa dilepaskan dari kisah Bhatara Kala. Upacara ini dilakukan dengan memotong empat buah gigi seri dan dua buah taring sebagai simbol menghilangkan sad ripu atau enam musuh dalam diri manusia.

Hal ini sesuai dengan cerita yang terdapat dalam Lontar Tattwa Kala yaitu saat Hyang Kala tidak dapat bertemu dengan Ayah Ibunya, lalu bhatara Siwa meminta agar taringnya dipotong, setelah itu baru beliau mau menjelaskan siapa ayah-ibunya.

Dosen Kajian Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ida Bagus Gede Paramita mengatakan, dalam ritual potong gigi saat sang anak beranjak dewasa, ada sejumlah tahapan yang sarat akan makna filosofis. Menurut Lontar Kala Tattwa, tahapan tersebut diawali dengan upacara Pekalan-kalan. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum upacara potong gigi, biasanya dilaksanakan pada sore hari dengan sarana berupa upakara caru ayam brumbun.

Biasanya dibuatkan sanggar agung sebagai tempat pemujaan kehadapan Sang Hyang Smarajaya dang Sang Hyang Smara Ratih. Karena itu caru diletakkan persis di depan tempat pemujaan. “Upacara ini bertujuan sebagai persembahan ke hadapan Bhatara Kala agar pengaruh keburukannya dapat dinetralisir menjadi pengaruh kedewataan yang berguna bagi anak dalam mengarungi salah satu unsur Tri Upasaksi yaitu Bhuta saksi,” ungkapnya.

Tahapan selanjutnya adalah Upacara pengekeban. Upacara ini biasanya dilakukan di sebuah bangunan (bale) yang terkurung dan diberi hiasan sehingga kelihatan indah dengan dipasangkan sanggah Ardha Candra yang berisi upakara di sebelah kanan dan kiri pintu masuknya.

Sanggah Arda Candra tersebut merupakan tempat pemujaaan Sang Hyang Kama Bang disebelah kiri dan Sang Hyang Kama Petak disebelah kanan dari raha keluar pintu. Kata pengekeban berasal dari kata ngekeb yang artinya mematangkan denga pada hari itu terjadi suatu proses perubahan status dari status anak dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Kumara menjadi status remaja dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Smarajaya/ Sang Hyang Smara Ratih.






Reporter: I Putu Mardika

UPACARA Metatah atau potong gigi memang tidak bisa dilepaskan dari kisah Bhatara Kala. Upacara ini dilakukan dengan memotong empat buah gigi seri dan dua buah taring sebagai simbol menghilangkan sad ripu atau enam musuh dalam diri manusia.

Hal ini sesuai dengan cerita yang terdapat dalam Lontar Tattwa Kala yaitu saat Hyang Kala tidak dapat bertemu dengan Ayah Ibunya, lalu bhatara Siwa meminta agar taringnya dipotong, setelah itu baru beliau mau menjelaskan siapa ayah-ibunya.

Dosen Kajian Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ida Bagus Gede Paramita mengatakan, dalam ritual potong gigi saat sang anak beranjak dewasa, ada sejumlah tahapan yang sarat akan makna filosofis. Menurut Lontar Kala Tattwa, tahapan tersebut diawali dengan upacara Pekalan-kalan. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum upacara potong gigi, biasanya dilaksanakan pada sore hari dengan sarana berupa upakara caru ayam brumbun.

Biasanya dibuatkan sanggar agung sebagai tempat pemujaan kehadapan Sang Hyang Smarajaya dang Sang Hyang Smara Ratih. Karena itu caru diletakkan persis di depan tempat pemujaan. “Upacara ini bertujuan sebagai persembahan ke hadapan Bhatara Kala agar pengaruh keburukannya dapat dinetralisir menjadi pengaruh kedewataan yang berguna bagi anak dalam mengarungi salah satu unsur Tri Upasaksi yaitu Bhuta saksi,” ungkapnya.

Tahapan selanjutnya adalah Upacara pengekeban. Upacara ini biasanya dilakukan di sebuah bangunan (bale) yang terkurung dan diberi hiasan sehingga kelihatan indah dengan dipasangkan sanggah Ardha Candra yang berisi upakara di sebelah kanan dan kiri pintu masuknya.

Sanggah Arda Candra tersebut merupakan tempat pemujaaan Sang Hyang Kama Bang disebelah kiri dan Sang Hyang Kama Petak disebelah kanan dari raha keluar pintu. Kata pengekeban berasal dari kata ngekeb yang artinya mematangkan denga pada hari itu terjadi suatu proses perubahan status dari status anak dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Kumara menjadi status remaja dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Smarajaya/ Sang Hyang Smara Ratih.






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/