alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Diyakini Mampu Sembuhkan Penyakit Kulit, Desa Adat Bakbakan Tata Penglukatan

GIANYAR, BALI EXPRESS  – Objek wisata religi berupa tempat melukat saat ini memang digemari masyarakat belakangan ini. Sembari berwisata, masyarakat utamanya umat Hindu dapat melakukan pembersihan diri. Salah satu tempat pengelukatan yang saat ini sedang ditata adalah Beji Tukad Cebluk di Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar.

 

Bendesa Adat Bakbakan, Ida Bagus Gede Purnama, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menata Beji Tukad Cebluk tersebut. Selama ini keberadaan beji tersebut memang sudah dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk melukat maupun kebutuhan upacara lainnya. “Awalnya tempat ini dipakai nunas Toya Ning untuk upacara Ngaben,” ujarnya Senin (28/3).

 

Beji Tukad Cebluk itu sendiri terdiri dari beberapa bagian. Mulai dari bagian utara, yang terdapat taman penyucian Ida Batara saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat setempat. Selanjutnya di bagian selatan terdapat tempat pemandian masyarakat. “Karena dulu di rumah belum ada PAM. Jadi mandi di bagian selatan. Dibedakan laki dan perempuan. Tapi seiring berkembangnya zaman utamanya setelah PDAM masuk, tempat pemandian umum itu jarang dipakai,” paparnya.

 

Maka dari itu belakangan ini, pihaknya mulai menata kawasan tersebut. Termasuk memperbaiki taman penyucian Ida Betara yang ada dibagian depan. Penataan pun telah dimulai sejak bulan Oktober 2021. Menurutnya, masyarakat sangat bersemangat melakukan penataan. Bahkan, anak muda yang lihai mengukir ikut menyumbang karya dengan mengukir tebing secara sukarela. Terlebih anak muda di desa tersebut memang memiliki keahlian sebagai perajin patung.

 

“Ada relief, cuma belum bercerita. Ini ungkapan seni para Yowana disini, jadi mereka bebas eksperimen,” jelasnya.

 

Selain itu, beji tersebut juga memiliki keunikan karena diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit, seperti misalnya cacar dan sejenisnya. Dan hal itu juga sudah dipercayai oleh masyarakat diluar Desa Adat Bakbakan. “Keberadaan beji itu juga telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat kami disini,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika masyarakat yang ingin memohon kesembuhan dari penyakit kulit, prosesinya cukup sederhana, yakni menghaturkan Yadnya sesuai kemampuan masing-masing. “Misalnya membawa pejati, melalui pemangku kemudian matur piuning. Kalau sakit bisa langsung datang kesini. Kecuali menstruasi baru tidak boleh mandi,” paparnya.

 

Ia mengakui, jika Desa Adat Bakbakan memiliki angan-angan, untuk menjadikan Beji tersebut sebagai objek wisata penglukatan. Sehingga selain menata beji, pihaknya juga membutuhkan akses menuju lokasi yang strategis. Terlebih untuk menuju Beji, harus melewati sejumlah lahan warga, sehingga kedepannya pihaknya akan bekerjasama dengan pemilik lahan. Oleh karena itu pihaknya berharap pemerintah mendukung upaya desa adat Bakbakan, baik dari segi pendanaan hingga promosi.

 

“Harapan kami seperti itu, dan nantinya hasilnya bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan upakara keagamaan. Ini baru sebatas angan-angan kalau-kalau ada pendanaan nanti. Dan kami di Desa Adat tentu siap ikut menjaga kelestaian dan kesucian objek ini,” tandas Ida Bagus Purnama.


GIANYAR, BALI EXPRESS  – Objek wisata religi berupa tempat melukat saat ini memang digemari masyarakat belakangan ini. Sembari berwisata, masyarakat utamanya umat Hindu dapat melakukan pembersihan diri. Salah satu tempat pengelukatan yang saat ini sedang ditata adalah Beji Tukad Cebluk di Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar.

 

Bendesa Adat Bakbakan, Ida Bagus Gede Purnama, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menata Beji Tukad Cebluk tersebut. Selama ini keberadaan beji tersebut memang sudah dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk melukat maupun kebutuhan upacara lainnya. “Awalnya tempat ini dipakai nunas Toya Ning untuk upacara Ngaben,” ujarnya Senin (28/3).

 

Beji Tukad Cebluk itu sendiri terdiri dari beberapa bagian. Mulai dari bagian utara, yang terdapat taman penyucian Ida Batara saat pujawali di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat setempat. Selanjutnya di bagian selatan terdapat tempat pemandian masyarakat. “Karena dulu di rumah belum ada PAM. Jadi mandi di bagian selatan. Dibedakan laki dan perempuan. Tapi seiring berkembangnya zaman utamanya setelah PDAM masuk, tempat pemandian umum itu jarang dipakai,” paparnya.

 

Maka dari itu belakangan ini, pihaknya mulai menata kawasan tersebut. Termasuk memperbaiki taman penyucian Ida Betara yang ada dibagian depan. Penataan pun telah dimulai sejak bulan Oktober 2021. Menurutnya, masyarakat sangat bersemangat melakukan penataan. Bahkan, anak muda yang lihai mengukir ikut menyumbang karya dengan mengukir tebing secara sukarela. Terlebih anak muda di desa tersebut memang memiliki keahlian sebagai perajin patung.

 

“Ada relief, cuma belum bercerita. Ini ungkapan seni para Yowana disini, jadi mereka bebas eksperimen,” jelasnya.

 

Selain itu, beji tersebut juga memiliki keunikan karena diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit, seperti misalnya cacar dan sejenisnya. Dan hal itu juga sudah dipercayai oleh masyarakat diluar Desa Adat Bakbakan. “Keberadaan beji itu juga telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat kami disini,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika masyarakat yang ingin memohon kesembuhan dari penyakit kulit, prosesinya cukup sederhana, yakni menghaturkan Yadnya sesuai kemampuan masing-masing. “Misalnya membawa pejati, melalui pemangku kemudian matur piuning. Kalau sakit bisa langsung datang kesini. Kecuali menstruasi baru tidak boleh mandi,” paparnya.

 

Ia mengakui, jika Desa Adat Bakbakan memiliki angan-angan, untuk menjadikan Beji tersebut sebagai objek wisata penglukatan. Sehingga selain menata beji, pihaknya juga membutuhkan akses menuju lokasi yang strategis. Terlebih untuk menuju Beji, harus melewati sejumlah lahan warga, sehingga kedepannya pihaknya akan bekerjasama dengan pemilik lahan. Oleh karena itu pihaknya berharap pemerintah mendukung upaya desa adat Bakbakan, baik dari segi pendanaan hingga promosi.

 

“Harapan kami seperti itu, dan nantinya hasilnya bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan upakara keagamaan. Ini baru sebatas angan-angan kalau-kalau ada pendanaan nanti. Dan kami di Desa Adat tentu siap ikut menjaga kelestaian dan kesucian objek ini,” tandas Ida Bagus Purnama.


Most Read

Artikel Terbaru

/