alexametrics
28.8 C
Denpasar
Tuesday, June 28, 2022

Dari Awal Tanam hingga Panen Padi, Petani Tak Surut Muliakan Dewi Sri

“ Pemuliaan Dewi Sri sebagai Dewi Padi ini memerlukan tempat tempat suci berupa pura, palinggih dan media pemujaan berupa cili, cau, deling, dengan nama yang beragam, mencerminkan kearifan lokal seperti Dewa Ayu Manik Galih, Bhatari Sri, Nini Padi, Dewa Nini, dan ini masih lestari sampai sekarang di tangan petani”.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ada banyak lontar dan naskah yang memuat tentang pemuliaan Dewi Sri di Bali. Meski di tengah maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman, namun ritus pemujaan terhadap Dewi Sri masih dilakukan oleh para petani.

Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Susila Putra mengatakan, ada sejumlah lontar yang memuat tentang pemujaan Dewi Sri dalam dunia pertanian. Mulai dari Lontar Sri Tattwa, Tattwa Cacarikan, Aji Pari, Sri Purana, Dharmman Pamaculan, dan Usada Carik, Tingkah Makarya ring Pratiwi.

Di dalam lontar tersebut bahkan memuat tentang pedoman petani dalam bercocok tanam padi. Mulai dari memilih hari baik dan ritual yang patut dilakukan, mulai dari pengolahan lahan (maluku), pembibitan (mamulih), mencabut bibit (ngabut bulih), tata cara mengalirkan air, menanam, memelihara padi, panen, hingga menyimpan padi di lumbung.

Termasuk juga dalam pengendalian hama dengan penggunaan obat-obatan tradisional, diulas dalam lontar. Seperti garam, tri ketuka (mesui, kesuna jangu), liligundi, dan lain sebagainya. Terdapat pula upacara pacaruan yang bermakna menjaga harmonisasi manusia dengan alam.

Mulai menggarap tanah persawahan dipersiapkan sesaji dan mempergunakan sanggar cucuk dari bambu dengan mantra : Ong bhatari sri, sri wastu ya nama swaha. Ketika membajak, mantranya :  Ong jagat raya sunia ya nama swaha.

“Aktivitas ritual ini berkaitan satu sama lainnya. Sehingga pemujaan terhadap Dewi Sri dilakukan dari mulai membajak sawah sampai panen,” jelasnya.

Sebut saja saat pembibitan padi. Pemujaan dilakukan dengan mengucapkan mantra : Ong sri paduka. Sedangkan upacara menabur benih disertai dengan sejumlah sarana yang menggunakan caru nasi kojong, dagingnya telur dadar, udang goreng sambal kecambah serundeng kelapa kuning dengan persembahan beras kuning direndam, tetebus, benang kuning.

Prosesi ini dipersembahkan pada saluran air pada petak pertama yang airnya akan dialirkan ke sawah yang bersangkutan masing-masing yang disebut pangalapan, mantranya : Om sanghyang ibu pertiwi hulun hamita nugraha, pakani tanaman hingulun sampurna sida murip waras, om sri, sri sri namah swaha.

Jika diartikan : hormat hamba kepada manifestasi Tuhan dalam wujud Ibu Pertiwi hamba memohon anugerah, jagalah tanaman hamba agar dapat hidup dengan baik, hormat kepada manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Sri.

Selanjutnya ketika mencabut bibit untuk ditanam kembali di petak sawah yang telah disiapkan juga tidak lepas dari pemujaan terhadap Dewi Sri oleh petani. Mantranya :  Ong sri wanghya.

Aktivitas budaya agraris di sawah dalam pembudidayaan padi memerlukan air sebagai salah satu unsur penting, yang dipercaya sebagai wujud Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pemelihara kehidupan.

Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Sri, dalam kehidupan sehari-hari dianalogikan dengan padi, sehingga padi tidak dapat dipisahkan dengan air, untuk memohon kesejahteraan dilaksanakan ritual mendak toya.

“Ini terlihat saat upacara ngendagin atau membuka jalan air. Di Bali senantiasa ada sesajennya berisi buah-buahan base sulasih, kembang payasan, lenga wangi, burat wangi, haturkan di sanggah,” sebutnya. (dik)
 






Reporter: I Putu Mardika

“ Pemuliaan Dewi Sri sebagai Dewi Padi ini memerlukan tempat tempat suci berupa pura, palinggih dan media pemujaan berupa cili, cau, deling, dengan nama yang beragam, mencerminkan kearifan lokal seperti Dewa Ayu Manik Galih, Bhatari Sri, Nini Padi, Dewa Nini, dan ini masih lestari sampai sekarang di tangan petani”.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ada banyak lontar dan naskah yang memuat tentang pemuliaan Dewi Sri di Bali. Meski di tengah maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman, namun ritus pemujaan terhadap Dewi Sri masih dilakukan oleh para petani.

Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Susila Putra mengatakan, ada sejumlah lontar yang memuat tentang pemujaan Dewi Sri dalam dunia pertanian. Mulai dari Lontar Sri Tattwa, Tattwa Cacarikan, Aji Pari, Sri Purana, Dharmman Pamaculan, dan Usada Carik, Tingkah Makarya ring Pratiwi.

Di dalam lontar tersebut bahkan memuat tentang pedoman petani dalam bercocok tanam padi. Mulai dari memilih hari baik dan ritual yang patut dilakukan, mulai dari pengolahan lahan (maluku), pembibitan (mamulih), mencabut bibit (ngabut bulih), tata cara mengalirkan air, menanam, memelihara padi, panen, hingga menyimpan padi di lumbung.

Termasuk juga dalam pengendalian hama dengan penggunaan obat-obatan tradisional, diulas dalam lontar. Seperti garam, tri ketuka (mesui, kesuna jangu), liligundi, dan lain sebagainya. Terdapat pula upacara pacaruan yang bermakna menjaga harmonisasi manusia dengan alam.

Mulai menggarap tanah persawahan dipersiapkan sesaji dan mempergunakan sanggar cucuk dari bambu dengan mantra : Ong bhatari sri, sri wastu ya nama swaha. Ketika membajak, mantranya :  Ong jagat raya sunia ya nama swaha.

“Aktivitas ritual ini berkaitan satu sama lainnya. Sehingga pemujaan terhadap Dewi Sri dilakukan dari mulai membajak sawah sampai panen,” jelasnya.

Sebut saja saat pembibitan padi. Pemujaan dilakukan dengan mengucapkan mantra : Ong sri paduka. Sedangkan upacara menabur benih disertai dengan sejumlah sarana yang menggunakan caru nasi kojong, dagingnya telur dadar, udang goreng sambal kecambah serundeng kelapa kuning dengan persembahan beras kuning direndam, tetebus, benang kuning.

Prosesi ini dipersembahkan pada saluran air pada petak pertama yang airnya akan dialirkan ke sawah yang bersangkutan masing-masing yang disebut pangalapan, mantranya : Om sanghyang ibu pertiwi hulun hamita nugraha, pakani tanaman hingulun sampurna sida murip waras, om sri, sri sri namah swaha.

Jika diartikan : hormat hamba kepada manifestasi Tuhan dalam wujud Ibu Pertiwi hamba memohon anugerah, jagalah tanaman hamba agar dapat hidup dengan baik, hormat kepada manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Sri.

Selanjutnya ketika mencabut bibit untuk ditanam kembali di petak sawah yang telah disiapkan juga tidak lepas dari pemujaan terhadap Dewi Sri oleh petani. Mantranya :  Ong sri wanghya.

Aktivitas budaya agraris di sawah dalam pembudidayaan padi memerlukan air sebagai salah satu unsur penting, yang dipercaya sebagai wujud Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pemelihara kehidupan.

Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Sri, dalam kehidupan sehari-hari dianalogikan dengan padi, sehingga padi tidak dapat dipisahkan dengan air, untuk memohon kesejahteraan dilaksanakan ritual mendak toya.

“Ini terlihat saat upacara ngendagin atau membuka jalan air. Di Bali senantiasa ada sesajennya berisi buah-buahan base sulasih, kembang payasan, lenga wangi, burat wangi, haturkan di sanggah,” sebutnya. (dik)
 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/