alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Bisa Terkena Kutuk Sengsara, Guru sebagai Siwa, Surya, dan Nabe

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Merayakan Saraswati tentu bukan hanya diperingati sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan. Tetapi juga memaknai proses aguron-guron atau pembelajaran antara guru dengan siswa sebagai proses penurunalihan ilmu pengetahuan kepada generasi.

Hubungan aguron-guron antara guru dengan siswa diulas tuntas dalam Lontar Silakramaning Aguron-Guron. Di dalam Lontar ini berisi petuah-petuah atau nasihat-nasihat tentang kewajiban, tata krama, sopan santun seorang peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran baik secara formal maupun informal.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ayu Veronika Somawati mengatakan, secara filosofis Lontar Silakramaning Aguron-Guron mengandung ajaran moral seorang siswa dalam proses pembelajaran. Ada nilai-nilai moral yang diulas tuntas dalam lontar ini saat siswa menuntut ilmu dari seorang guru.

Dikatakan Veronika, proses aguron-guron diawali dengan upacara Upanayana (penyucian) dan diakhiri dengan Samawartana (pengukuhan). Di Bali mengenal konsep guru sebagai Siwa, Surya, dan Nabe. Saat guru bertindak sebagai Siwa maksudnya seorang guru adalah pemegang kebenaran dan sumber ilmu pengetahuan, atau tempat anak didik bertanya tentang kebajikan dan ilmu pengetahuan.

Guru sebagai Surya, maksudnya seorang guru memberi pencerahan dan pencerdasan kepada anak didik, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, maupun kecerdasan spiritual. Guru sebagai Nabe, maksudnya seorang guru mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi kemampuan pembelajaran peserta didik.

“Jika seorang guru mampu mengajarkan Silakrama dengan baik dan benar, maka anak didik akan tumbuh dengan kepribadian luhur, bahkan anak didik akan menemukan jalan terang menuju kemerdekaan lahir batin, mampu melepaskan diri dari segala pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak baik.

Dalam Lontar Silakramaning Aguron-Guron menjelaskan bahwa dalam menanamkan moral anak didik agar memiliki keluhuran budi dan kelakukan baik, peran guru juga sangat penting. Seorang guru tidak boleh berbohong ataupun menyampaikan fitnah dan ujaran kebencian kepada anak didik, melainkan wajib mendidik anak-anak untuk berpegang teguh pada prinsip kebenaran.

Jika ada seorang guru memfitnah atau menyampaikan ujaran kebencian kepada anak didik, guru tersebut akan mendapat kutukan berupa kesengsaraan. Hal ini dijelaskan dalam teks Lontar Silakramaning Aguron-Guron sebagai berikut :

“…apan yan sang guru mangumpt ring sang sewaka dharma, dahat denta mnneya sang sewaka dharma juga tguhing tuhu, papa sang guru yan mangkana…”

Bila dimaknai secara bebas “…jika seorang guru melakukan fitnah atau ujaran kebencian kepada siswa, dengan sangat keji, tetapi siswa itu tetap teguh kepada kebenaran, maka guru itu akan mengalami penderitaan…’

Seorang guru, sebut Veronika, wajib memberikan teladan baik kepada anak didik. Dalam hal pembinaan anak didik, terutama jika ada anak didik melakukan kesalahan, seorang guru tidak boleh marah. Seorang guru harus mampu mengendalikan kemarahan.

Seorang guru harus mampu membangun situasi pembelajaran yang kondusif, yakni anak didik selalu merasa dekat dengan guru  yang mampu membangun semangat belajar anak didik, sehingga mereka mau mendengar apa yang diajarkan guru.

“Guru tidak boleh memprovokasi anak didik untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan ataupun tindakan-tindakan yang merugikan orang lain,” paparnya.

 


SINGARAJA, BALI EXPRESS – Merayakan Saraswati tentu bukan hanya diperingati sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan. Tetapi juga memaknai proses aguron-guron atau pembelajaran antara guru dengan siswa sebagai proses penurunalihan ilmu pengetahuan kepada generasi.

Hubungan aguron-guron antara guru dengan siswa diulas tuntas dalam Lontar Silakramaning Aguron-Guron. Di dalam Lontar ini berisi petuah-petuah atau nasihat-nasihat tentang kewajiban, tata krama, sopan santun seorang peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran baik secara formal maupun informal.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ayu Veronika Somawati mengatakan, secara filosofis Lontar Silakramaning Aguron-Guron mengandung ajaran moral seorang siswa dalam proses pembelajaran. Ada nilai-nilai moral yang diulas tuntas dalam lontar ini saat siswa menuntut ilmu dari seorang guru.

Dikatakan Veronika, proses aguron-guron diawali dengan upacara Upanayana (penyucian) dan diakhiri dengan Samawartana (pengukuhan). Di Bali mengenal konsep guru sebagai Siwa, Surya, dan Nabe. Saat guru bertindak sebagai Siwa maksudnya seorang guru adalah pemegang kebenaran dan sumber ilmu pengetahuan, atau tempat anak didik bertanya tentang kebajikan dan ilmu pengetahuan.

Guru sebagai Surya, maksudnya seorang guru memberi pencerahan dan pencerdasan kepada anak didik, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, maupun kecerdasan spiritual. Guru sebagai Nabe, maksudnya seorang guru mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi kemampuan pembelajaran peserta didik.

“Jika seorang guru mampu mengajarkan Silakrama dengan baik dan benar, maka anak didik akan tumbuh dengan kepribadian luhur, bahkan anak didik akan menemukan jalan terang menuju kemerdekaan lahir batin, mampu melepaskan diri dari segala pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak baik.

Dalam Lontar Silakramaning Aguron-Guron menjelaskan bahwa dalam menanamkan moral anak didik agar memiliki keluhuran budi dan kelakukan baik, peran guru juga sangat penting. Seorang guru tidak boleh berbohong ataupun menyampaikan fitnah dan ujaran kebencian kepada anak didik, melainkan wajib mendidik anak-anak untuk berpegang teguh pada prinsip kebenaran.

Jika ada seorang guru memfitnah atau menyampaikan ujaran kebencian kepada anak didik, guru tersebut akan mendapat kutukan berupa kesengsaraan. Hal ini dijelaskan dalam teks Lontar Silakramaning Aguron-Guron sebagai berikut :

“…apan yan sang guru mangumpt ring sang sewaka dharma, dahat denta mnneya sang sewaka dharma juga tguhing tuhu, papa sang guru yan mangkana…”

Bila dimaknai secara bebas “…jika seorang guru melakukan fitnah atau ujaran kebencian kepada siswa, dengan sangat keji, tetapi siswa itu tetap teguh kepada kebenaran, maka guru itu akan mengalami penderitaan…’

Seorang guru, sebut Veronika, wajib memberikan teladan baik kepada anak didik. Dalam hal pembinaan anak didik, terutama jika ada anak didik melakukan kesalahan, seorang guru tidak boleh marah. Seorang guru harus mampu mengendalikan kemarahan.

Seorang guru harus mampu membangun situasi pembelajaran yang kondusif, yakni anak didik selalu merasa dekat dengan guru  yang mampu membangun semangat belajar anak didik, sehingga mereka mau mendengar apa yang diajarkan guru.

“Guru tidak boleh memprovokasi anak didik untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan ataupun tindakan-tindakan yang merugikan orang lain,” paparnya.

 


Most Read

Artikel Terbaru

/