alexametrics
26.7 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Kesiman Petilan Konservasi 3 Peti Lontar Usada hingga Black Magic

DENPASAR, BALI EXPRESS – Desa Kesiman Petilan bersama Penyuluh Bahasa Bali Denpasar Timur, Penekun Lontar, dan Mahasiswa KKN Warmadewa, melakukan konservasi terhadap sejumlah lontar kuno.

Hasilnya, didapati ratusan bahkan mungkin ribuan lontar kuno yang disimpan dalam tiga buah peti besar. Selain itu, ada juga beberapa keropak yang disimpan di Merajan Pasek Gelgel Banjar Meranggi, Desa Kesiman Petilan. 

Koordinator Konservasi Lontar dan Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Kesiman Petilan, I Wayan Gede Sukawidana, Rabu (28/4) menuturkan, dari proses konservasi yang dilaksanakan, kondisinya masih cukup bagus dan terbaca. 

Bahasa yang digunakan dalam lontar ini rata-rata menggunakan Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. “Usianya banyak yang ratusan tahun, walaupun tidak semua berisi tahun penulisan. Namun bisa diketahui dari jenis bahan serta warna lontar dan juga bentuk tulisannya,” kata Sukawidana. 

Baca Juga :  UNHI Siap Cetak Sarjana Leak, Buka Prodi Ilmu Tantra

Dari yang dikonservasi tersebut, ditemukan lontar yang berhubungan dengan berbagai macam pengetahuan. Mulai tutur, puja mantra, wariga, kadiatmikan, kawisesan, Usada Babahi dan beberapa usada yang berkaitan dengan penyakit non medis atau black magic. Bahkan, ada pula lontar yang memuat penolak bala maupun ilmu tentang guna-guna.

Sukawidana menambahkan, menurut penuturan tetua disana, kawasan tersebut memiliki hubungan dengan Griya Puniawati, Banjar Bengkel, Sumerta, yang merupakan griya dari mantan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra.

Selain itu, di wilayah tersebut juga ada Jero Dukuh, Balian Sonteng atau balian yang ahli wariga serta balian dalam hal pengobatan. Sehingga dengan keadaan tersebut, banyak lontar-lontar terkait wariga, usada hingga puja mantra ditemukan di lokasi ini.

Baca Juga :  Janger Malelampan Panjer Jadi Duta Kota Denpasar untuk PKB

“Dari jumlah yang sudah kami konservasi, 96 cakep dalam kondisi utuh, 30 persennya ada yang rusak, namun masih bisa diidentifikasi,” sebutnya. 

Selain konservasi, lontar ini juga diidentifikasi dan dibuatkan katalog. Rencananya, nantinya lontar-lontar ini akan dibuatkan Peraturan Perbekel dan dilindungi desa. Dimana, bagi pihak yang ingin meminjam lontar harus melapor ke pihak desa agar lontar tersebut tidak hilang. 

Pihaknya juga akan membentuk Kader Muda Pelestari Lontar yang akan membantu mereka yang butuh pembaca lontar. 

Sementara untuk proses konservasi ini telah dimulai Selasa (27/4) lalu, dan membutuhkan waktu lebih dari satu minggu. Mengingat ketebalan dan banyaknya lontar. Selain itu, pihaknya juga menargetkan dalam setahun bisa melakukan konservasi minimal 200 cakep lontar di Desa Kesiman Petilan. 


DENPASAR, BALI EXPRESS – Desa Kesiman Petilan bersama Penyuluh Bahasa Bali Denpasar Timur, Penekun Lontar, dan Mahasiswa KKN Warmadewa, melakukan konservasi terhadap sejumlah lontar kuno.

Hasilnya, didapati ratusan bahkan mungkin ribuan lontar kuno yang disimpan dalam tiga buah peti besar. Selain itu, ada juga beberapa keropak yang disimpan di Merajan Pasek Gelgel Banjar Meranggi, Desa Kesiman Petilan. 

Koordinator Konservasi Lontar dan Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Kesiman Petilan, I Wayan Gede Sukawidana, Rabu (28/4) menuturkan, dari proses konservasi yang dilaksanakan, kondisinya masih cukup bagus dan terbaca. 

Bahasa yang digunakan dalam lontar ini rata-rata menggunakan Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. “Usianya banyak yang ratusan tahun, walaupun tidak semua berisi tahun penulisan. Namun bisa diketahui dari jenis bahan serta warna lontar dan juga bentuk tulisannya,” kata Sukawidana. 

Baca Juga :  Udeng Tanpa Simpul Langgar Norma Agama Hindu

Dari yang dikonservasi tersebut, ditemukan lontar yang berhubungan dengan berbagai macam pengetahuan. Mulai tutur, puja mantra, wariga, kadiatmikan, kawisesan, Usada Babahi dan beberapa usada yang berkaitan dengan penyakit non medis atau black magic. Bahkan, ada pula lontar yang memuat penolak bala maupun ilmu tentang guna-guna.

Sukawidana menambahkan, menurut penuturan tetua disana, kawasan tersebut memiliki hubungan dengan Griya Puniawati, Banjar Bengkel, Sumerta, yang merupakan griya dari mantan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra.

Selain itu, di wilayah tersebut juga ada Jero Dukuh, Balian Sonteng atau balian yang ahli wariga serta balian dalam hal pengobatan. Sehingga dengan keadaan tersebut, banyak lontar-lontar terkait wariga, usada hingga puja mantra ditemukan di lokasi ini.

Baca Juga :  Mau Tahu Bangke Matah Dibakar, Saksikan Calonarang di Tangguntiti

“Dari jumlah yang sudah kami konservasi, 96 cakep dalam kondisi utuh, 30 persennya ada yang rusak, namun masih bisa diidentifikasi,” sebutnya. 

Selain konservasi, lontar ini juga diidentifikasi dan dibuatkan katalog. Rencananya, nantinya lontar-lontar ini akan dibuatkan Peraturan Perbekel dan dilindungi desa. Dimana, bagi pihak yang ingin meminjam lontar harus melapor ke pihak desa agar lontar tersebut tidak hilang. 

Pihaknya juga akan membentuk Kader Muda Pelestari Lontar yang akan membantu mereka yang butuh pembaca lontar. 

Sementara untuk proses konservasi ini telah dimulai Selasa (27/4) lalu, dan membutuhkan waktu lebih dari satu minggu. Mengingat ketebalan dan banyaknya lontar. Selain itu, pihaknya juga menargetkan dalam setahun bisa melakukan konservasi minimal 200 cakep lontar di Desa Kesiman Petilan. 


Most Read

Artikel Terbaru

/