alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Fenomena Karauhan dalam Ritual, Ini Beda Energi Dewa dan Bhuta

BULELENG, BALI EXPRESS – Fenomena karauhan kerap terjadi saat ritual atau upacara yadnya dengan kondisi yang sangat sakral. Namun tidak jarang juga, banyak yang meragukan kebenaran dari kerauhan (dimasuki energi tertentu) tersebut.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Ariyoga mengatakan, karauhan merupakan peristiwa menghadirkan kekuatan gaib secara sengaja dan dilakukan melalui suatu tatanan yang jelas dalam suatu ekosistem sakral.

Karauhan menggunakan sarana yang jelas, yakni bersaranakan mantra dan yantra. Oleh karena itu, kerauhan selalu terhubung dengan ritual dan bersifat sangat sakral.

“Seseorang yang mengalami karauhan akan dihadiri atau dimasuki oleh energi-energi yang berasal dari dunia atas maupun dari dunia bawah,” ujarnya.
Karena menerima energi itu, maka karauhan dapat dibedakan dalam dua jenis umum, yaitu karauhan dewa dan karauhan bhutakala.

Saat seseorang mengalami karauhan dewa, energi yang masuk adalah energi yang berasal dari dunia atas. Energi yang masuk memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan manusia, sehingga seseorang yang mengalami kondisi ini akan menampilkan sikap layaknya sifat para dewa.

Mereka yang mengalami kondisi sedemikian rupa akan melakoni sesuatu di luar batas kemampuan manusia. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan mengetahui dan sadar apa yang dilakukan, namun tidak mampu mengendalikan energi yang diterimanya.

Ketidakmampuan menerima energi inilah yang membuat seseorang yang mengalami karauhan dewa tampak berlaku di luar batas kemampuan manusia.

Seorang yang mengalami karauhan bisa saja tak mengalami luka bakar yang fatal setelah menapak api atau mengalami luka gores yang fatal setelah menusukkan senjata tajam ke badan. Hanya saja, umumnya setiap badan atau tubuh fisik terpengaruh oleh unsur-unsur prakerti. Sehingga api masih bisa membakar, senjata tajam masih bisa melukai, hanya saja tidak akan parah.

Baca Juga :  Memaknai Pesan Indah Saat Tumpek Landep

Secara umum, karauhan dewa dapat dibagi menjadi tiga bagian. Diantaranya karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan sasuhunan agung, karauhan dewa mulihnia ring sajeroning prasanak ida sasuhunan, dan karauhan dewa mulihnia ring sajeroning para rencang ida sasuhunan.

Jenis karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan sasuhunan agung hanya dapat terjadi dengan didampingi oleh para janbanggul atau pamangku atau pakudan arep ida sasuhunan.

Seseorang yang mengalami karauhan sasuhunan agung akan mengalami kondisi layaknya olah batin tingkatan nadi. “Nadi adalah tingkat spiritual yang paling tinggi,” ungkapnya.

Nadi terjadi setelah tercapainya keseimbangan kanan dan kiri, atas dan bawah. Seseorang yang mampu mencapai tingkatan nadi akan sidhi ngucap (ucapan yang bertuah) dan mampu mengendalikan segala bentuk energi yang masuk ke dalam tubuhnya, baik energi yang hadir atau sengaja dihadirkan.

Seseorang yang mengalami karauhan sasuhunan agung, mengalami kondisi hampir selevel itu. Hanya saja, ia tidak dapat mengendalikan energi yang melingkupinya, misalnya air mata, air liur, atau keringat yang akan menetes tiada putus.

Dalam ranah etika-etika yang timbul, karauhan jenis ini akan melahirkan laku-laku yang sangat beretika, layaknya sifat-sifat yang dimiliki sesuhunan atau bhatara yang agung. Perkataannya akan sangat halus. Sedangkan karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan prasanak bhatara adalah kondisi karauhan yang cenderung melahirkan ciri-ciri energik layaknya prasanak Ida Bhatara.

Seseorang yang mengalami kondisi ini akan menampilkan atraksi-atraksi energik seperti menari atau menyanyikan kidung-kidung suci. Tetapi laku yang dihadirkan tetap berada dalam kaidah-kaidah etis. “Gerakannya tidak akan merusak atau sampai merugikan orang lain,” sebutnya.

Baca Juga :  Pinandita Wiwa, Ibarat Ulat Bakal Jadi  Kupu-kupu

Kemudian jenis karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan para rencang bhatara adalah situasi karauhan ketika seseorang dimasuki oleh roh-roh atau energi selevel para rencang (abdi) Ida Bhatara.

Laku-laku yang dihadirkan dominan menunjukkan prilaku yang agresif dan melakoni hal-hal di luar kemampuan indra manusia, misalnya mengambil keris dan menusukkan ke badannya atau mengambil api dan dimakan atau diusapkan di badan.

Sedangkan untuk jenis karauhan bhuta kala, lanjutnya, memperlihatkan laku-laku berbalik dengan karauhan dewa. Perbedaan ini terjadi lantaran energi yang masuk ke dalam tubuh seseorang yang mengalaminya memang berbeda tingkatan dan kesadaran.

Para Dewa, Bhatara, atau sasuhunan, adalah energi-energi yang memiliki tingkat dan kesadaran tinggi. Mereka memiliki sifat-sifat yang tenang, mengayomi, dan konstruktif.

Sementara itu, bhutakala adalah energi-energi yang memiliki tingkat dan kesadaran roh kelas bawah. “Sifat-sifatnya cenderung arogan, ujar hala, dan destruktif. Namun, meski berbeda keduanya hadir saling melengkapi satu sama lain,” ungkapnya.

Jika seseorang mengalami karauhan bhuta kala, energi yang akan memasukinya akan dirasakan pertama kali dari bagian bawah tubuh. Kakinya akan dingin seiring berlalu hingga energi itu masuk secara perlahan dan seseorang yang dipinjam tubuhnya akan jatuh dan bersatu dengan energi-energi bhutakala.

“Berbeda dengan karauhan dewa, karauhan bhutakala biasanya memiliki ciri-ciri yang menonjolkan kontestasi diri. Mereka yang jatuh dalam kondisi ini cenderung melakukan sesuatu di luar etika sewajarnya,” katanya.
 






Reporter: I Putu Mardika

BULELENG, BALI EXPRESS – Fenomena karauhan kerap terjadi saat ritual atau upacara yadnya dengan kondisi yang sangat sakral. Namun tidak jarang juga, banyak yang meragukan kebenaran dari kerauhan (dimasuki energi tertentu) tersebut.

Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja Nyoman Ariyoga mengatakan, karauhan merupakan peristiwa menghadirkan kekuatan gaib secara sengaja dan dilakukan melalui suatu tatanan yang jelas dalam suatu ekosistem sakral.

Karauhan menggunakan sarana yang jelas, yakni bersaranakan mantra dan yantra. Oleh karena itu, kerauhan selalu terhubung dengan ritual dan bersifat sangat sakral.

“Seseorang yang mengalami karauhan akan dihadiri atau dimasuki oleh energi-energi yang berasal dari dunia atas maupun dari dunia bawah,” ujarnya.
Karena menerima energi itu, maka karauhan dapat dibedakan dalam dua jenis umum, yaitu karauhan dewa dan karauhan bhutakala.

Saat seseorang mengalami karauhan dewa, energi yang masuk adalah energi yang berasal dari dunia atas. Energi yang masuk memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan manusia, sehingga seseorang yang mengalami kondisi ini akan menampilkan sikap layaknya sifat para dewa.

Mereka yang mengalami kondisi sedemikian rupa akan melakoni sesuatu di luar batas kemampuan manusia. Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan mengetahui dan sadar apa yang dilakukan, namun tidak mampu mengendalikan energi yang diterimanya.

Ketidakmampuan menerima energi inilah yang membuat seseorang yang mengalami karauhan dewa tampak berlaku di luar batas kemampuan manusia.

Seorang yang mengalami karauhan bisa saja tak mengalami luka bakar yang fatal setelah menapak api atau mengalami luka gores yang fatal setelah menusukkan senjata tajam ke badan. Hanya saja, umumnya setiap badan atau tubuh fisik terpengaruh oleh unsur-unsur prakerti. Sehingga api masih bisa membakar, senjata tajam masih bisa melukai, hanya saja tidak akan parah.

Baca Juga :  Memaknai Pesan Indah Saat Tumpek Landep

Secara umum, karauhan dewa dapat dibagi menjadi tiga bagian. Diantaranya karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan sasuhunan agung, karauhan dewa mulihnia ring sajeroning prasanak ida sasuhunan, dan karauhan dewa mulihnia ring sajeroning para rencang ida sasuhunan.

Jenis karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan sasuhunan agung hanya dapat terjadi dengan didampingi oleh para janbanggul atau pamangku atau pakudan arep ida sasuhunan.

Seseorang yang mengalami karauhan sasuhunan agung akan mengalami kondisi layaknya olah batin tingkatan nadi. “Nadi adalah tingkat spiritual yang paling tinggi,” ungkapnya.

Nadi terjadi setelah tercapainya keseimbangan kanan dan kiri, atas dan bawah. Seseorang yang mampu mencapai tingkatan nadi akan sidhi ngucap (ucapan yang bertuah) dan mampu mengendalikan segala bentuk energi yang masuk ke dalam tubuhnya, baik energi yang hadir atau sengaja dihadirkan.

Seseorang yang mengalami karauhan sasuhunan agung, mengalami kondisi hampir selevel itu. Hanya saja, ia tidak dapat mengendalikan energi yang melingkupinya, misalnya air mata, air liur, atau keringat yang akan menetes tiada putus.

Dalam ranah etika-etika yang timbul, karauhan jenis ini akan melahirkan laku-laku yang sangat beretika, layaknya sifat-sifat yang dimiliki sesuhunan atau bhatara yang agung. Perkataannya akan sangat halus. Sedangkan karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan prasanak bhatara adalah kondisi karauhan yang cenderung melahirkan ciri-ciri energik layaknya prasanak Ida Bhatara.

Seseorang yang mengalami kondisi ini akan menampilkan atraksi-atraksi energik seperti menari atau menyanyikan kidung-kidung suci. Tetapi laku yang dihadirkan tetap berada dalam kaidah-kaidah etis. “Gerakannya tidak akan merusak atau sampai merugikan orang lain,” sebutnya.

Baca Juga :  Pasar Majelangu Desa Adat Kuta Digelar saat Ngembak Geni

Kemudian jenis karauhan dewa mulihnia ring sajeroning karauhan para rencang bhatara adalah situasi karauhan ketika seseorang dimasuki oleh roh-roh atau energi selevel para rencang (abdi) Ida Bhatara.

Laku-laku yang dihadirkan dominan menunjukkan prilaku yang agresif dan melakoni hal-hal di luar kemampuan indra manusia, misalnya mengambil keris dan menusukkan ke badannya atau mengambil api dan dimakan atau diusapkan di badan.

Sedangkan untuk jenis karauhan bhuta kala, lanjutnya, memperlihatkan laku-laku berbalik dengan karauhan dewa. Perbedaan ini terjadi lantaran energi yang masuk ke dalam tubuh seseorang yang mengalaminya memang berbeda tingkatan dan kesadaran.

Para Dewa, Bhatara, atau sasuhunan, adalah energi-energi yang memiliki tingkat dan kesadaran tinggi. Mereka memiliki sifat-sifat yang tenang, mengayomi, dan konstruktif.

Sementara itu, bhutakala adalah energi-energi yang memiliki tingkat dan kesadaran roh kelas bawah. “Sifat-sifatnya cenderung arogan, ujar hala, dan destruktif. Namun, meski berbeda keduanya hadir saling melengkapi satu sama lain,” ungkapnya.

Jika seseorang mengalami karauhan bhuta kala, energi yang akan memasukinya akan dirasakan pertama kali dari bagian bawah tubuh. Kakinya akan dingin seiring berlalu hingga energi itu masuk secara perlahan dan seseorang yang dipinjam tubuhnya akan jatuh dan bersatu dengan energi-energi bhutakala.

“Berbeda dengan karauhan dewa, karauhan bhutakala biasanya memiliki ciri-ciri yang menonjolkan kontestasi diri. Mereka yang jatuh dalam kondisi ini cenderung melakukan sesuatu di luar etika sewajarnya,” katanya.
 






Reporter: I Putu Mardika

Most Read

Artikel Terbaru

/