alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Dua Tahun Rehat, Kecak Semara Ratih Kembali Pentas

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Sempat terhenti dua tahun, Tari Kecak dari Sanggar Semara Ratih, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Badung kembali dipentaskan pada Sabtu (27/11) malam. Tarian yang pentas di jaba Pura Ratu Sakti, Banjar Tanggayuda, Bongkasa itu berlangsung atas semangat kebersamaan para penari karena kasus Covid-19 telah melandai. Pentas sebatas untuk hiburan.

Para penari pun mengaku gembira dapat kembali tampil di hadapan penonton.  Seperti diungkapkan oleh seorang penari, Ni Luh Meriyanti. Dirinya mengaku sangat senang dapat kembali tampil. Sejak pandemi Covid-19 melanda, dirinya baru pertama kali pentas. “Kalau dulu waktu pariwisata ramai seminggu sekali dapat pentas. Ini pakaian sampai pudar warnanya,” ujar Meriyanti malam itu

Guru bahasa Bali di salah satu sekolah di Denpasar ini menyebutkan, dalam pementasan tersebut dirinya hanya mendapatkan waktu latihan hanya sekali saja. Sehingga masih ada beberapa gerakan yang menurutnya kurang tepat seperti alur cerita tarian kecak. “Jadi kami istilahnya kalau di Bali saling kejitin untuk menyelaraskan gerakan dengan alur cerita,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pancoran Yeh Bengu Diyakini Sembuhkan Penyakit Medis dan Nonmedis

Ketua Sanggar Semara Ratih I Ketut Lastra menyatakan, dalam pementasan ini, Tari Kecak kolaborasi dengan Tari Sanghyang Jaran. Tujuannya untuk memberikan pertunjukkan yang lebih menarik. Perpaduan yang dilakukan ini juga merupakan persiapan dari para penari untuk ngayah di pura. Sehingga kedepannya latihan dari penari juga akan digeber.  “Seharusnya itu Tari Kecak saja, tapi inisiatif saya sendiri untuk memadukan dengan Tari Sanghyang Jaran. Kemudiannya nanti juga kami akan tambah lawak Bali supaya lebih menarik,” ucapnya.

Menurutnya, selama pandemi Covid-19 pertunjukan seni juga dihentikan. Akibatnya para penari pun harus bersabar lantaran penghasilannya juga ikut berkurang. “Walaupun ini (menari) merupakan pekerjaan sampingan mereka juga sangat berdampak pada penghasilan. Dari yang awalnya seminggu sekali tampil sekarang setelah dua tahun baru sekali. Ini dampaknya luar biasa,” jelasnya. “Mudah-mudahan pandemi ini cepat berlalu, dan pariwisata cepat pulih, sehingga kami dapat berkreasi lebih matang lagi,” imbuhnya.

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Sempat terhenti dua tahun, Tari Kecak dari Sanggar Semara Ratih, Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Badung kembali dipentaskan pada Sabtu (27/11) malam. Tarian yang pentas di jaba Pura Ratu Sakti, Banjar Tanggayuda, Bongkasa itu berlangsung atas semangat kebersamaan para penari karena kasus Covid-19 telah melandai. Pentas sebatas untuk hiburan.

Para penari pun mengaku gembira dapat kembali tampil di hadapan penonton.  Seperti diungkapkan oleh seorang penari, Ni Luh Meriyanti. Dirinya mengaku sangat senang dapat kembali tampil. Sejak pandemi Covid-19 melanda, dirinya baru pertama kali pentas. “Kalau dulu waktu pariwisata ramai seminggu sekali dapat pentas. Ini pakaian sampai pudar warnanya,” ujar Meriyanti malam itu

Guru bahasa Bali di salah satu sekolah di Denpasar ini menyebutkan, dalam pementasan tersebut dirinya hanya mendapatkan waktu latihan hanya sekali saja. Sehingga masih ada beberapa gerakan yang menurutnya kurang tepat seperti alur cerita tarian kecak. “Jadi kami istilahnya kalau di Bali saling kejitin untuk menyelaraskan gerakan dengan alur cerita,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polres Badung Gelar Simulasi Pengamanan Pemilu

Ketua Sanggar Semara Ratih I Ketut Lastra menyatakan, dalam pementasan ini, Tari Kecak kolaborasi dengan Tari Sanghyang Jaran. Tujuannya untuk memberikan pertunjukkan yang lebih menarik. Perpaduan yang dilakukan ini juga merupakan persiapan dari para penari untuk ngayah di pura. Sehingga kedepannya latihan dari penari juga akan digeber.  “Seharusnya itu Tari Kecak saja, tapi inisiatif saya sendiri untuk memadukan dengan Tari Sanghyang Jaran. Kemudiannya nanti juga kami akan tambah lawak Bali supaya lebih menarik,” ucapnya.

Menurutnya, selama pandemi Covid-19 pertunjukan seni juga dihentikan. Akibatnya para penari pun harus bersabar lantaran penghasilannya juga ikut berkurang. “Walaupun ini (menari) merupakan pekerjaan sampingan mereka juga sangat berdampak pada penghasilan. Dari yang awalnya seminggu sekali tampil sekarang setelah dua tahun baru sekali. Ini dampaknya luar biasa,” jelasnya. “Mudah-mudahan pandemi ini cepat berlalu, dan pariwisata cepat pulih, sehingga kami dapat berkreasi lebih matang lagi,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru