alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Rerajahan Yama Raja Digambar Utuh Mengikuti Tri Angga

Rerajahan Yama Raja sebut Wayan Sudiarta dirajah dengan konsep Tri Angga. Yakni Kepala, Badan dan Kaki. Selain itu, lengkap dengan gambar senjata. Pada bagian kepala Bagian Prabu (kepala, Red) dari Bhetara Yama Raja berwujud Raksasa dengan mulut terbuka lebar menganga.

Juga menggunakan seperti Gelung Raja dewa bentuk kepala dari Bhetara Yama Raja dihiasi gelungan mahkota kepala yang lengkap. Bentuk mahkota kepala dari muka pewayangan Raksasa raja, mulut raksasa galak wayah, hidung kekerasan, mata dedelingan, alis keras, kuping, hiasan petitis, ron ron, rambut, gelung rajadewa, dan garuda mungkur.

Kemudian bentuk badan dari penggambarann Bhatara Yama raja pada Rerajahan Yama Raja mulai dari bagian leher hingga dada dihiasi Badong, penekes dada, bapang. Pada bagian pundak terdapat hiasan sesamping/slimbah.

Hiasan Naga Wangsul pada badan hingga kepinggang. Bagian pinggang terdapat Sesabukan dan juga Kancing Sabuk pada bagian pinggang kebawah terdapat lambih dara dan ampok ampok. Sikap tangan kiri dan tangan kanan menari. Ini simbol dari Bhatara Yama Raja sebagai penghalang dan pembunuh pemrelina terhadap malapetaka Penolak Gering Sasab Mrana

Sedangkan posisi rerajahan kaki dihiasi dengan tata busana pewayangan di Bali, seperti gelang cokor, celana, badong celana, stewel oncer, saput, kancut dengan penerapan motif ornamen Bali.

Dikatakan Sudiarta, ada sejumlah senjata yang digambarkan dalam rerajahan tersebut. Dari makna filosofis yang ia terima secara turun-temurun, rerajahan senjata dimaknai sebagai penghalang penghalang dan pemrelina.

“Yang dimaksudkan yaitu Kedurmanggalan Jaga Kacirenin Antuk. Jadma Kageringan, Tumbuh-tumbuhan Kageringann; dan Wewalungan Kageringan yang secara filosofis diyakini dapat terhindarkan berkat dari kekuatan Bhetara Yamaraja dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug tersebut.

Menurutnya, ada sejumlah makna kekuatan dari senjata cakra, gada, nagapasa, trisula, dupa, mosala, padma dalam karakter rerajahan Bhetara Yamaraja yaitu:

 Sebut saja senjata Gada, yang merupakan senjata Dewa Brahma atau dewa api dengan aksara Ang, arah selatan (Daksina), dengan urip 9, yang berfungsi untuk menciptakan. Api bisa menghancurkan apa saja termasuk keletehan atau mala. Dengan demikian senjata Gada pada Rerajahan Yamaraja memiliki fungsi penolak bala.

Senjata Nagapasa, merupakan senjata Dewa Mahadewa dengan aksara Tang, arah barat (Pascima), dengan urip 7 yang berfungsi sebagai pengikat. Nagapasa sering disamakan dengan Nagabanda, yakni naga sebagai tali.

“Pemakaian senjata Nagapasa pada Rerajahan Yamaraja bermakna untuk menghalangi Bhuta Kala, yakni dengan cara menjerat sehingga tidak berdaya untuk menggangu kehidupan manusia,” paparnya.

Pemakaian senjata cakra dalam rerajahan Bhetara Yama ini berfungsi sebagai penghalang dan sekaligus melakukan pembersihan atau pengelukatan terhadap Bhuta Kala, sehingga tujuan dari Bhuta yadnya yakni nyomia Bhuta Kala.

Senjata Moksala pada Rerajahan Yamaraja memiliki fungsi sebagai pelebur segala mrana yang menimpa masyarakat. Senjata Trisula pada raerajahan Yamaraja memiliki fungsi sebagai kekuatan untuk menyeimbangakan alam yang telah diserang mrana menuju kesucian jagat.

Senjata dupa yang dimaksud dalam Rerajahan Yamaraja ini melambangkan sinar suci berfungsi untuk memrelina kegeringan. Menerangi ataupun menyinari dengan pengetahuan agar kehidupan mahkluk hidup selalu berkembang dan selalu berintegrasi antara satu dengan yang lainnya.

“Rerajahan Yamaraja melambangkan sinar suci memrelina dasamala yang dipancarkan oleh Bhetara Yama dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug untuk menyinari dan menerangi dengan pengetahuan agar kehidupan selamat,” pungkasnya.(habis) 


Rerajahan Yama Raja sebut Wayan Sudiarta dirajah dengan konsep Tri Angga. Yakni Kepala, Badan dan Kaki. Selain itu, lengkap dengan gambar senjata. Pada bagian kepala Bagian Prabu (kepala, Red) dari Bhetara Yama Raja berwujud Raksasa dengan mulut terbuka lebar menganga.

Juga menggunakan seperti Gelung Raja dewa bentuk kepala dari Bhetara Yama Raja dihiasi gelungan mahkota kepala yang lengkap. Bentuk mahkota kepala dari muka pewayangan Raksasa raja, mulut raksasa galak wayah, hidung kekerasan, mata dedelingan, alis keras, kuping, hiasan petitis, ron ron, rambut, gelung rajadewa, dan garuda mungkur.

Kemudian bentuk badan dari penggambarann Bhatara Yama raja pada Rerajahan Yama Raja mulai dari bagian leher hingga dada dihiasi Badong, penekes dada, bapang. Pada bagian pundak terdapat hiasan sesamping/slimbah.

Hiasan Naga Wangsul pada badan hingga kepinggang. Bagian pinggang terdapat Sesabukan dan juga Kancing Sabuk pada bagian pinggang kebawah terdapat lambih dara dan ampok ampok. Sikap tangan kiri dan tangan kanan menari. Ini simbol dari Bhatara Yama Raja sebagai penghalang dan pembunuh pemrelina terhadap malapetaka Penolak Gering Sasab Mrana

Sedangkan posisi rerajahan kaki dihiasi dengan tata busana pewayangan di Bali, seperti gelang cokor, celana, badong celana, stewel oncer, saput, kancut dengan penerapan motif ornamen Bali.

Dikatakan Sudiarta, ada sejumlah senjata yang digambarkan dalam rerajahan tersebut. Dari makna filosofis yang ia terima secara turun-temurun, rerajahan senjata dimaknai sebagai penghalang penghalang dan pemrelina.

“Yang dimaksudkan yaitu Kedurmanggalan Jaga Kacirenin Antuk. Jadma Kageringan, Tumbuh-tumbuhan Kageringann; dan Wewalungan Kageringan yang secara filosofis diyakini dapat terhindarkan berkat dari kekuatan Bhetara Yamaraja dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug tersebut.

Menurutnya, ada sejumlah makna kekuatan dari senjata cakra, gada, nagapasa, trisula, dupa, mosala, padma dalam karakter rerajahan Bhetara Yamaraja yaitu:

 Sebut saja senjata Gada, yang merupakan senjata Dewa Brahma atau dewa api dengan aksara Ang, arah selatan (Daksina), dengan urip 9, yang berfungsi untuk menciptakan. Api bisa menghancurkan apa saja termasuk keletehan atau mala. Dengan demikian senjata Gada pada Rerajahan Yamaraja memiliki fungsi penolak bala.

Senjata Nagapasa, merupakan senjata Dewa Mahadewa dengan aksara Tang, arah barat (Pascima), dengan urip 7 yang berfungsi sebagai pengikat. Nagapasa sering disamakan dengan Nagabanda, yakni naga sebagai tali.

“Pemakaian senjata Nagapasa pada Rerajahan Yamaraja bermakna untuk menghalangi Bhuta Kala, yakni dengan cara menjerat sehingga tidak berdaya untuk menggangu kehidupan manusia,” paparnya.

Pemakaian senjata cakra dalam rerajahan Bhetara Yama ini berfungsi sebagai penghalang dan sekaligus melakukan pembersihan atau pengelukatan terhadap Bhuta Kala, sehingga tujuan dari Bhuta yadnya yakni nyomia Bhuta Kala.

Senjata Moksala pada Rerajahan Yamaraja memiliki fungsi sebagai pelebur segala mrana yang menimpa masyarakat. Senjata Trisula pada raerajahan Yamaraja memiliki fungsi sebagai kekuatan untuk menyeimbangakan alam yang telah diserang mrana menuju kesucian jagat.

Senjata dupa yang dimaksud dalam Rerajahan Yamaraja ini melambangkan sinar suci berfungsi untuk memrelina kegeringan. Menerangi ataupun menyinari dengan pengetahuan agar kehidupan mahkluk hidup selalu berkembang dan selalu berintegrasi antara satu dengan yang lainnya.

“Rerajahan Yamaraja melambangkan sinar suci memrelina dasamala yang dipancarkan oleh Bhetara Yama dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug untuk menyinari dan menerangi dengan pengetahuan agar kehidupan selamat,” pungkasnya.(habis) 


Most Read

Artikel Terbaru

/