alexametrics
30.4 C
Denpasar
Wednesday, January 26, 2022

Usaba Manggung Aci Sumbu, Ada Rerajahan Yamaraja, Dirajah Tengah Malam

Desa Adat Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem memiliki tradisi Usaba Manggung Aci Sumbu. Tradisi ini rutin dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada saat Rahina Purnama Sasih Kasa di Pura Desa Bugbug. Uniknya, dalam ritual ini ada proses membuat rerajahan Yamaraja.

Tokoh pemuda Desa Bugbug, Wayan Sudiarta, M.Pd mengatakan ritual Usaba Manggung Aci Sumbu sudah dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat Bugbug. Rerajahan Yamaraja yang digunakan dalam sarana pengiring Upacara Usaba Manggung Aci Sumbu menurutnya sangat dikeramatkan dan dilestarikan sesuai sastra dresta adat Bugbug. Krama meyakini, rerajahan ini sebagai penolak gering sasab mrana serta pengurip buwana.

“Kami meyakini, Batara Yamaraja dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang beristana di Pura Desa Bugbug dianggap mampu menetralisir mrana, sebagai penyupat, pemarisuda, dan pemunah hal-hal yang bersifat negatif,” jelasnya.

Uniknya, rerajahan Yamaraja dibuat tepat tengah malam hari atau Jegjeg Bulan Purnama Kasa. Pada saat pembuatannya dikerjakan oleh Warga Desa Bugbug dengan besar rerajahan seluas natar Bale Agung Desa Bugbug.

“Rerajahan dibuat secara spontanitas tidak boleh terjadi penghapusan garis, guwet dan harus diselesaikan tengah malam itu juga. Biasanya yang ngerajah itu sampai lima orang banyaknya.” imbuhnya.

Baca Juga :  FA KMHDI Mulai Bangun Pasraman untuk Siapkan Generasi Emas Hindu

Proses membuat sketsa digunakan punggalan tangkai Taru Dapdap yang diruncingkan dengan segala ukuran. Proses membuat bentuk menggunakan serbuk pamor putih. Begitu juga Proses mewarnai menggunakan pamor putih dengan serbuk yang tebal.

Sedangkan, media yang dilukis menggunakan bidang tanah seluas Natar Pura Bale Agung pura Desa Bugbug Karangasem. Ada pula penggunaan batok kelapa sebagai tempat sa untuk menampung serbuk pamor. Kemudian air digunakan untuk mengencer serbuk pamor putih.

Sudiarta yang juga dosen Penerangan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja menyebut jika pelaksanaan upacara yadnya Usaba Manggung Aci Sumbu didasari atas Siwa Sidanta yang menganut ajaran Siwa.

Buktinya, Desa adat Bugbug setiap melaksanakan upacara keagamaan senantiasa menggunakan simbol-simbol manifestasi Ide Sang Hyang Widhi Wasa seperti Bethara Yamaraja sebagai dewanya raja. Dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug.

“Ajaran Siwa Sidanta tidak lepas dengan ajaran yama Purana tatwa dan juga mengacu pada Dewa Yama sebagai pemusnah dari segala kekotoran dunia bermanifestasi sebagai dewa pelebur dasa mala kekuatan negative,” paparnya. (bersambung)

Desa Adat Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem memiliki tradisi Usaba Manggung Aci Sumbu. Tradisi ini rutin dilaksanakan setahun sekali, tepatnya pada saat Rahina Purnama Sasih Kasa di Pura Desa Bugbug. Uniknya, dalam ritual ini ada proses membuat rerajahan Yamaraja.

Tokoh pemuda Desa Bugbug, Wayan Sudiarta, M.Pd mengatakan ritual Usaba Manggung Aci Sumbu sudah dijalankan secara turun temurun oleh masyarakat Bugbug. Rerajahan Yamaraja yang digunakan dalam sarana pengiring Upacara Usaba Manggung Aci Sumbu menurutnya sangat dikeramatkan dan dilestarikan sesuai sastra dresta adat Bugbug. Krama meyakini, rerajahan ini sebagai penolak gering sasab mrana serta pengurip buwana.

“Kami meyakini, Batara Yamaraja dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang beristana di Pura Desa Bugbug dianggap mampu menetralisir mrana, sebagai penyupat, pemarisuda, dan pemunah hal-hal yang bersifat negatif,” jelasnya.

Uniknya, rerajahan Yamaraja dibuat tepat tengah malam hari atau Jegjeg Bulan Purnama Kasa. Pada saat pembuatannya dikerjakan oleh Warga Desa Bugbug dengan besar rerajahan seluas natar Bale Agung Desa Bugbug.

“Rerajahan dibuat secara spontanitas tidak boleh terjadi penghapusan garis, guwet dan harus diselesaikan tengah malam itu juga. Biasanya yang ngerajah itu sampai lima orang banyaknya.” imbuhnya.

Baca Juga :  Tantra Jadi Samudra Pengetahuan Penuh Misteri

Proses membuat sketsa digunakan punggalan tangkai Taru Dapdap yang diruncingkan dengan segala ukuran. Proses membuat bentuk menggunakan serbuk pamor putih. Begitu juga Proses mewarnai menggunakan pamor putih dengan serbuk yang tebal.

Sedangkan, media yang dilukis menggunakan bidang tanah seluas Natar Pura Bale Agung pura Desa Bugbug Karangasem. Ada pula penggunaan batok kelapa sebagai tempat sa untuk menampung serbuk pamor. Kemudian air digunakan untuk mengencer serbuk pamor putih.

Sudiarta yang juga dosen Penerangan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja menyebut jika pelaksanaan upacara yadnya Usaba Manggung Aci Sumbu didasari atas Siwa Sidanta yang menganut ajaran Siwa.

Buktinya, Desa adat Bugbug setiap melaksanakan upacara keagamaan senantiasa menggunakan simbol-simbol manifestasi Ide Sang Hyang Widhi Wasa seperti Bethara Yamaraja sebagai dewanya raja. Dalam manifestasi Ratu Gede Sakti yang berstana di Pura Desa Bugbug.

“Ajaran Siwa Sidanta tidak lepas dengan ajaran yama Purana tatwa dan juga mengacu pada Dewa Yama sebagai pemusnah dari segala kekotoran dunia bermanifestasi sebagai dewa pelebur dasa mala kekuatan negative,” paparnya. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru